• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Pak Harto; Londo Ireng diajak Untuk Turut Membangun – Prabowo; Dinilai Sebagai Antek Asing

Londo Ireng dan Paradoks Pembangunan

Ali Syarief by Ali Syarief
July 25, 2026
in Feature, Tokoh/Figur
0
Hingar-Bingar Gibran di Senayan: Siapa yang Mau Menjaga Takhta Jika Prabowo Tiada?
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ali Syarief

Pembangunan nasional tidak pernah hanya ditentukan oleh negara. Dalam sejarah perencanaan pembangunan Indonesia, justru negara yang kuat adalah negara yang mampu menggerakkan partisipasi rakyatnya.

Pada era Orde Baru, melalui Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), masyarakat ditempatkan sebagai aktor utama pembangunan. Dalam GBHN pertama hingga ketiga, pada bagian penutup Bab V, ditegaskan bahwa “keberhasilan pembangunan pada akhirnya tergantung pada partisipasi masyarakat.” Kalimat ini mengandung makna bahwa pemerintah tidak mungkin membangun sendirian. Negara hanya menjadi pengarah, fasilitator, dan pendorong, sedangkan masyarakatlah yang menjadi tenaga penggerak utama.

Pemahaman tersebut bahkan mengalami penguatan pada GBHN IV dan V. Penekanannya bergeser dari sekadar “ikut berpartisipasi” menjadi “berperan serta” secara aktif dalam pembangunan. Artinya, masyarakat tidak lagi diposisikan sebagai pelengkap kebijakan pemerintah, melainkan sebagai subjek yang memiliki tanggung jawab, inisiatif, dan ruang untuk mengawasi jalannya pembangunan.

Siapakah yang dimaksud masyarakat?

Jawabannya sederhana: seluruh rakyat Indonesia. Di dalamnya terdapat akademisi, organisasi kemasyarakatan, LSM, pers, tokoh agama, pengusaha, mahasiswa, hingga para pengkritik kebijakan pemerintah. Kritik bukanlah ancaman, melainkan salah satu bentuk kontribusi agar pembangunan tidak keluar dari tujuan yang telah ditetapkan.

Karena itu, pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang melabeli wartawan, pengamat, dan LSM sebagai “Londo Ireng” menghadirkan sebuah paradoks. Kelompok-kelompok yang dalam konsep pembangunan nasional justru diposisikan sebagai bagian penting dari masyarakat sipil, kini dipersepsikan sebagai pengganggu.

Padahal, dalam negara demokrasi modern, masyarakat sipil berfungsi sebagai mekanisme kontrol. Mereka mengawasi penyimpangan, mengingatkan ketika arah kebijakan melenceng, membela lingkungan hidup, memperjuangkan hak-hak warga, mengungkap praktik korupsi, hingga memberikan masukan berbasis kajian akademik. Kehadiran mereka bukan untuk melemahkan negara, melainkan untuk memperkuat kualitas pemerintahan.

Sejarah menunjukkan bahwa pembangunan yang hanya bertumpu pada negara cenderung melahirkan birokrasi yang tertutup dan minim koreksi. Sebaliknya, pembangunan yang melibatkan masyarakat melahirkan akuntabilitas, inovasi, dan legitimasi yang lebih kuat.

Ironisnya, konsep yang pernah dianut pada masa Orde Baru—yang sering dianggap sentralistis—justru memberi ruang yang lebih jelas bagi masyarakat sebagai pelaku pembangunan dibandingkan dengan cara pandang yang kini melihat kritik sebagai gangguan.

Bangsa yang besar tidak takut terhadap kritik. Pemerintah yang percaya diri tidak akan melihat LSM, akademisi, atau pers sebagai musuh. Mereka adalah bagian dari energi pembangunan itu sendiri.

Menyebut mereka sebagai “Londo Ireng” bukan hanya merendahkan kelompok masyarakat sipil, tetapi juga bertentangan dengan filosofi pembangunan nasional yang selama puluhan tahun menjadi fondasi perjalanan republik ini. Sebab, pembangunan yang berkelanjutan hanya dapat diwujudkan apabila negara berjalan bersama rakyatnya—bukan berjalan sendirian sambil mencurigai mereka yang berusaha mengingatkan arah.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Febrie Ditahan untuk Dibebaskan?

Next Post

KAUM LIBERAL ETIK: DARI REFORMASI, HARAPAN KEPADA JOKOWI DAN UJIAN PRABOWO

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Bahasa Pemimpin dan Martabat Demokrasi: Ketika Kritik Dijawab dengan Label
Feature

Bahasa Pemimpin dan Martabat Demokrasi: Ketika Kritik Dijawab dengan Label

July 25, 2026
Dari Bung Hatta ke Gibran: Menukiknya Kualitas Wakil Presiden Indonesia
Feature

Wapres Era Pak Harto Orang-orang Hebat

July 25, 2026
Feature

KAUM LIBERAL ETIK: DARI REFORMASI, HARAPAN KEPADA JOKOWI DAN UJIAN PRABOWO

July 25, 2026
Next Post

KAUM LIBERAL ETIK: DARI REFORMASI, HARAPAN KEPADA JOKOWI DAN UJIAN PRABOWO

Dari Bung Hatta ke Gibran: Menukiknya Kualitas Wakil Presiden Indonesia

Wapres Era Pak Harto Orang-orang Hebat

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Habis Nanik, Terbitlah Hotman
Feature

Habis Nanik, Terbitlah Hotman

by Karyudi Sutajah Putra
July 23, 2026
0

Jakarta - Setelah Nanik S Deyang, kini giliran pengacara kondang Hotman Paris Hutapea yang menyatakan mundur. Jika Nanik mundur dari...

Read more
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

July 11, 2026
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Bahasa Pemimpin dan Martabat Demokrasi: Ketika Kritik Dijawab dengan Label

Bahasa Pemimpin dan Martabat Demokrasi: Ketika Kritik Dijawab dengan Label

July 25, 2026
Dari Bung Hatta ke Gibran: Menukiknya Kualitas Wakil Presiden Indonesia

Wapres Era Pak Harto Orang-orang Hebat

July 25, 2026

KAUM LIBERAL ETIK: DARI REFORMASI, HARAPAN KEPADA JOKOWI DAN UJIAN PRABOWO

July 25, 2026
Hingar-Bingar Gibran di Senayan: Siapa yang Mau Menjaga Takhta Jika Prabowo Tiada?

Pak Harto; Londo Ireng diajak Untuk Turut Membangun – Prabowo; Dinilai Sebagai Antek Asing

July 25, 2026
Kejaksaan Agung : Pertamax Dipastikan Penuhi Standar

Febrie Ditahan untuk Dibebaskan?

July 25, 2026

Menakar Nasionalisme Penguasa dan Pengusaha Negara (Ketika Sistem Politik Kehilangan Kompas Moral)

July 24, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Bahasa Pemimpin dan Martabat Demokrasi: Ketika Kritik Dijawab dengan Label

Bahasa Pemimpin dan Martabat Demokrasi: Ketika Kritik Dijawab dengan Label

July 25, 2026
Dari Bung Hatta ke Gibran: Menukiknya Kualitas Wakil Presiden Indonesia

Wapres Era Pak Harto Orang-orang Hebat

July 25, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...