Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Pak Tua sudahlah
Engkau sudah terlihat lelah
Pak Tua sudahlah
Kami mampu untuk bekerja
Lirik lagu “Pak Tua” dari Elpamas, grup band asal Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur, yang dirilis tahun 1991 ini serasa menggema kembali. Pesan dari lirik lagu tersebut sepertinya layak ditujukan kepada mereka yang sudah lanjut usia, tetapi masih saja cawe-cawe urusan negara, bahkan masih bercokol di pemerintahan. Sebut saja Luhut Binsar Pandjaitan dan Abdullah Mahmud Hendropriyono.
Di masa mudanya, kedua tokoh itu dikenal hebat di dunia militer, keduanya memang sama-sama dari Tentara Nasional Indonesia (TNI). Bahkan di usianya yang tak lagi muda, mereka juga masih hebat di pemerintahan.
Hendro pernah masuk kabinet pemerintahan Presiden Soeharto di periode akhir atau Kabinet Pembangunan VII.
Hendro, dan juga Luhut, pun pernah masuk di pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Kemudian Hendro menjadi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) di era pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri.
Luhut kemudian menjadi menteri di dua periode pemerintahan Presiden Joko Widodo, dan kini menjadi Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Luhut pernah terserang stroke dan dirawat di Singapura hingga sembuh kembali kini. Sedangkan Hendro sehat walafiat meskipun sudah tidak ada di pemerintahan.
Kini, di usianya yang sudah senja – Hendro 80 tahun dan Luhut 78 tahun, keduanya selalu berdiri di garda paling depan ketika ada yang menyerang pemerintahan Prabowo, dan sebelumnya pemerintahan Jokowi.
Hendro, misalnya, mensinyalir bahwa aksi-aksi demonsttasi massa di Jakarta dan sejumlah daerah di Indonesia yang diwarnai kericuhan akhir Agustus dan awal September lalu didalangi oleh pihak asing. Kini, sinyalemen itu tidak terbukti.
Hendro seakan mau melakukan insinuasi dan missleading seolah-olah Indonesia tidak mengalami masalah domestik seperti kemiskinan dan pengangguran di satu sisi, dan korupsi di sisi lain. Seolah-olah Indonesia dalam kondisi baik-baik saja. Padahal sebaliknya. Sebab itu, aksi-aksi demonstrasi yang terjadi sebenarnya dipicu oleh kondisi politik, sosial dan ekonomi dalam negeri.
Adapun Luhut kini minta program Makan Bergizi Gratis (MBG) dilanjutkan hingga minimal 10 tahun lagi. Setelah itu baru dievaluasi.
Bagaimana bisa sebuah proyek dibiarkan jalan 10 tahun dan setelah itu baru dilakukan evaluasi?
Kalau menunggu sampai 10 tahun, mungkin sudah banyak anak-anak penerima manfaat program MBG yang mati karena keracunan. Saat ini saja program MBG sudah menelan puluhan ribu korban karena keracunan. Mungkin pemerintah menunggu sampai ada yang tewas.
Jagan lupa, proyek Kereta Cepat Jakarta- Bandung yang dinamakan Whoosh, yang dulu dibela mati-matian oleh Luhut, kini terbukti menjadi bom waktu. Proyek tersebut menyisakan kerugian. Jika pada 2024 rugi Rp2,69 triliun, maka pada Semester I 2025 rugi Rp1,625 triliun.
Indonesia juga harus mencicil bunga utang ke China Rp2 triliun per tahun, karena biaya proyek Whoosh itu membengkak menjadi Rp120 triliun.
Untunglah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menolak Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) digunakan untuk menyicil utang konsorsium BUMN seperti PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan sebagainya itu.
Namun, Danantara yang menggantikan Kementerian BUMN juga menolak menggunakan anggarannya untuk membayar cicilan utang Whoosh ke China itu. Dalihnya, dividen yang didapat BUMN-BUMN sebesar Rp90 triliun per tahun akan digunakan untuk investasi, bukan untuk membayar utang.
Dus, usul Luhut agar program MBG dilaksanakan dulu selama 10 tahun, baru setelah itu dilakukan evaluasi, sekadar tipu muslihat belaka. Itu maksudnya mungkin agar Prabowo terpilih lagi di Pemilu 2029. Dan program MBG tetap berjalan hingga 2034. Setelah Prabowo lengser, masa bodoh apakah proyek MBG itu akan berjalan lagi atau tidak.
Pak Tua, sudahlah. Pikiran kalian sudah tidak jernih lagi. Selain karena faktor usia dan kesehatan, kalian juga punya kepentingan pragmatis di pemerintahan.
Jadi, serahkan saja kepada yang muda-muda. Kalian sudah terlihat lelah.
Pak Tua, sudahlah
Engkau sudah terlihat lelah
Pak Tua, sudahlah
Kami mampu untuk bekerja

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)


















