Resensi Buku: Literasi Teknologi dan Budaya
Penulis: Dr. Cukup Mulyana
Menjawab Panggilan Zaman dengan Sinergi Akal dan Iman
Pendahuluan: Menjawab Panggilan Zaman
Abad ke-21 merupakan panggung besar bagi revolusi digital yang mengubah wajah dunia dengan kecepatan luar biasa. Gelombang disrupsi tidak hanya mengguncang tatanan ekonomi dan sosial, tetapi juga mendefinisikan ulang cara manusia belajar, bekerja, dan berinteraksi. Dunia kini hidup dalam lanskap yang dikenal dengan istilah VUCA—Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity—yang menggambarkan betapa cair dan tidak menentunya arah kehidupan global.
Dalam realitas yang penuh ketidakpastian ini, buku “Literasi Teknologi dan Budaya” karya Dr. Cukup Mulyana hadir bukan sekadar sebagai karya akademik, melainkan sebagai peta jalan menuju masa depan. Buku ini mengajak pembaca—terutama mahasiswa, pendidik, dan masyarakat intelektual—untuk menyiapkan diri menghadapi tantangan zaman melalui penguasaan dua pilar penting: literasi teknologi dan literasi budaya, yang keduanya berakar kuat pada nilai dan etika Islam.
Pilar Pertama: Menguasai Alat Zaman Melalui Literasi Teknologi
Dr. Cukup Mulyana menolak pandangan sempit bahwa literasi teknologi sebatas kemampuan mengoperasikan gawai atau perangkat digital. Ia menegaskan bahwa literasi teknologi mencakup kemampuan untuk menggunakan, memahami, mengelola, mengevaluasi, dan menciptakan informasi secara efektif dan bertanggung jawab.
Penulis mengajak pembaca menumbuhkan keterampilan digital yang melampaui aspek teknis: mulai dari penggunaan platform kolaboratif, kemampuan mencari informasi akademik yang kredibel, hingga penerapan metode CRAAP (Currency, Relevance, Authority, Accuracy, Purpose) dalam menilai keabsahan sumber.
Lebih jauh, buku ini mengingatkan pembaca akan bahaya disinformasi, ketergantungan digital, serta pelanggaran privasi data yang kian marak di era media sosial. Dalam konteks ini, muncul konsep digital citizenship (kewargaan digital), yang menekankan perlunya sikap bijak, etis, dan bertanggung jawab dalam dunia maya. Literasi teknologi, dengan demikian, tidak hanya melahirkan insan cerdas digital, tetapi juga manusia yang merdeka dari dominasi teknologi.
Pilar Kedua: Memahami Jati Diri Melalui Literasi Budaya
Teknologi, bagi Dr. Cukup Mulyana, tidak berdiri di ruang hampa. Ia selalu berinteraksi dengan budaya—membentuk dan dibentuk oleh nilai-nilai masyarakat. Karena itu, literasi budaya menjadi pilar kedua yang tak terpisahkan dari literasi teknologi.
Melalui analisis perbandingan antara pandangan Barat yang bersifat anthropocentric (berpusat pada manusia) dan pandangan Islam yang theocentric (berpusat pada wahyu Ilahi), penulis mengajak pembaca memahami bahwa budaya bukan hanya produk manusia, tetapi juga hasil interaksi antara akal dan petunjuk Ilahi.
Pendekatan ini mendorong mahasiswa untuk bertransformasi dari konsumen budaya pasif menjadi subjek budaya aktif—mereka yang mampu menyeleksi, mengkritisi, mengadaptasi, dan menciptakan ekspresi budaya baru yang sesuai zaman, namun tetap berpijak pada nilai-nilai Islam. Dengan demikian, literasi budaya menjadi alat untuk menjaga jati diri di tengah arus globalisasi.
Fondasi Nilai: Kerangka Pikir dan Etika Islam
Keunggulan utama buku ini terletak pada fondasi spiritual dan filosofisnya. Dr. Cukup Mulyana tidak menempatkan literasi teknologi dan budaya sebagai konsep netral, tetapi sebagai bagian dari misi keilmuan dalam bingkai wahyu.
Ada tiga prinsip besar yang menopang bangunan pemikiran buku ini:
- Semangat Iqra’
Wahyu pertama “Bacalah!” menjadi dasar teologis bagi aktivitas literasi. Membaca di sini tidak hanya berarti membaca teks wahyu (ayat qauliyah), tetapi juga membaca alam semesta (ayat kauniyah) sebagai sumber pengetahuan. - Sinergi Akal (‘Aql) dan Hati (Qalb)
Penulis menekankan keseimbangan antara rasionalitas dan spiritualitas. Akal berfungsi sebagai alat analisis kritis, sementara hati menjadi kompas moral. Kolaborasi keduanya melahirkan hikmah (kearifan), bukan sekadar ma’rifah (pengetahuan). - Refleksi Sejarah Peradaban Islam
Penulis menghidupkan kembali ingatan tentang Zaman Keemasan Islam, ketika ilmuwan seperti Al-Khawarizmi dan Ibnu Sina melahirkan ilmu yang terintegrasi dengan nilai. Kejayaan Bayt al-Hikmah menjadi bukti historis bahwa peradaban maju hanya lahir dari ilmu yang bersandar pada etika dan wahyu.
Prinsip-prinsip ini menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi tanpa kendali moral akan melahirkan kehancuran, sementara ilmu yang dipandu iman melahirkan peradaban yang tercerahkan.
Dari Teori ke Aksi: Implementasi Interdisipliner di Kampus
Sebagai penutup, Dr. Cukup Mulyana menegaskan bahwa literasi sejati harus diwujudkan dalam aksi nyata. Dunia kampus diposisikan sebagai ruang ideal untuk menerapkan konsep literasi teknologi dan budaya secara interdisipliner.
Mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu—agama, sains, teknologi, ekonomi, dan komunikasi—didorong untuk berkolaborasi dalam mencari solusi atas persoalan global seperti krisis lingkungan, ketimpangan sosial, hingga polarisasi masyarakat. Dengan pendekatan ini, nilai-nilai Islam tidak hanya menjadi teori moral, tetapi menjelma sebagai pedoman praktis dalam pengembangan ilmu dan teknologi yang berkeadaban.
Kesimpulan: Membentuk Khalifah Ilmu
Secara keseluruhan, buku “Literasi Teknologi dan Budaya” karya Dr. Cukup Mulyana adalah manifesto intelektual Islam modern. Ia menyatukan dua arus besar: kemajuan teknologi dan keluhuran budaya, di bawah naungan nilai-nilai wahyu.
Buku ini menyerukan lahirnya generasi khalifah ilmu—manusia yang menguasai teknologi tanpa kehilangan hati nurani, yang berinovasi tanpa menanggalkan moralitas, dan yang membangun peradaban tanpa tercerabut dari akar spiritualitasnya.
Di tengah derasnya arus digitalisasi global, karya ini hadir sebagai kompas moral dan intelektual, menuntun pembaca untuk tidak hanya mengejar kecerdasan teknologis, tetapi juga kearifan ilahiah.
Dengan gaya penulisan yang reflektif dan argumentatif, Dr. Cukup Mulyana berhasil meramu gagasan besar dalam bentuk yang aplikatif. “Literasi Teknologi dan Budaya” bukan hanya bacaan, tetapi juga ajakan untuk berpikir, beriman, dan bertindak selaras dengan fitrah manusia sebagai khalifah di bumi.




















