Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)

Jakarta – Setelah di-“bully” gegara salah sebut asam folat dengan asam sulfat, sehingga berbuah julukan “samsul”, kini Gibran Rakabuming Raka kembali di-“bully” gegara mengucapkan kata “para-para” yang seharusnya cukup “para” saja.
Sebab, kata “para” itu sendiri bermakna jamak yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “para” adalah kata penyerta yang menyatakan pengacuan ke kelompok.
Gibran, kini Wakil Presiden RI, mengucapkan kata “para-para” itu saat menyampaikan sambutan dalam sebuah acara yang kemudian viral setelah videonya dibagikan oleh akun X@PUTRA_NUSANTARA.
“Yang saya hormati tokoh-tokoh, para-para tokoh agama, para-para kiai, para-para ibu nyai yang hadir pada pagi hari ini … ” ucap putra sulung Presiden ke-7 RI Joko Widodo itu seperti terlihat dalam video yang viral itu.
Para tokoh agama berarti tokoh-tokoh agama. Para kiai berarti kiai-kiai. Para nyai berarti nyai-nyai. Jadi, kata para tak perlu diulang. Kalau diulang justru salah.
Para-para? Mungkin kata ulang itu tak akan terucap dari mulut Gibran jika bagian dari namanya tidak berulang, yakni Rakabuming Raka. Pengulangan kata Raka pada namanya kemudian menimbulkan kebiasaan pada ucapannya. Mungkin alam bawah sadarnya seperti itu.
Atau mungkin juga karena logikanya tidak berjalan, sebagaimana ketika Gibran mengucap asam sulfat untuk menyebut asam folat yang sangat dibutuhkan oleh ibu hamil.
Gibran, sebagaimana lazimnya, bukannya menjadi malu karena telah salah ucap para menjadi para-para, tapi justru diprediksi akan menjadikan salah ucapnya itu sebagai bahan sindiran atau ledekan kepada publik yang mengolok-oloknya.
Diprediksi Gibran akan mengucapkan kembali kata para-para ketika nanti berbicara di depan publik lagi, sebagaimana saat ia mendapat julukan Samsul.
Hal serupa telah dilakukan Kaesang Pangarep, putra bungsu Jokowi, saat ayahandanya diolok-olok dengan sebutan Mulyono, nama kecilnya. Ketika beberapa waktu lalu melakukan blusukan di Jakarta, misalnya, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu mengenakan rompi bertuliskan “Putra Mulyono” di bagian punggungnya, seolah menyindir atau meledek mereka yang menyebut Jokowi dengan nama kecilnya itu.
Blessing in Disguise
“Blessing in disguise”. Berkah di balik musibah. Mungkin itulah prinsip yang dipegang keluarga Jokowi yang pandai mengambil berkah di balik musibah, seperti salah ucap kata asam folat menjadi asam sulfat, dan kata para menjadi para-para.
Salah ucap itu justru mereka jadikan sebagai semacam berkah alih-alih penyesalan.
Dengan salah ucap itu, popularitas Gibran justru menanjak. Mereka pun tak pernah merasa malu. Bahkan sebaliknya, bangga.
Kelemahanmu adalah kekuatanmu. Begitulah mungkin prinsip hidup Jokowi dan keluarganya.
Ketika salah ucapnya Gibran dianggap awam sebagai kelemahan, mereka justru menganggapnya sebagai kekuatan.
Ketika salah ucap itu mestinya berimplikasi pada timbulnya rasa malu dalam benak Gibran, mereka justru menjadi bangga. Karena dengan salah ucap itu popularitas mereka justru menanjak.
Alhasil, ada sejumlah pemicu Gibran mengucap kata “para-para”. Pertama, mungkin karena bagian namanya berulang, Rakabuming Raka, sehingga memengaruhi alam bawah sadarnya.
Kedua, mungkin karena logikanya tak berjalan dengan baik, sehingga Gibran tak mengetahui bahwa kata para merupakan bentuk jamak, sehingga ketika diucapkan berulang menjadi para-para justru salah kaprah.
Ketiga, mungkin Jokowi dan keluarganya pandai melihat berkah di balik musibah atau “blessing in disguise’, sehingga dengan cepat, sim salabim, musibah itu ia sulap menjadi berkah.
Kelemahanmu adalah kekuatanmu. Itulah!























