• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Pasukan Berani Mati: Show of Force atau Perang Psikologis? “Jokowi”

Ali Syarief by Ali Syarief
September 24, 2024
in Feature, Politik
0
Pasukan Berani Mati: Show of Force atau Perang Psikologis? “Jokowi”

Ilustrasi - Istimewa

Share on FacebookShare on Twitter

Pada tanggal 22 September lalu, beredar kabar tentang rencana pengumpulan pasukan “berani mati” yang akan membela Presiden Joko Widodo dalam sebuah apel siaga di Jakarta. Kabar ini dengan cepat menjadi sorotan publik, dan reaksi yang muncul di media sosial menunjukkan beragam interpretasi yang cenderung negatif. Mulai dari tuduhan ketakutan yang dirasakan oleh Jokowi, hingga anggapan bahwa ini adalah strategi pemecah belah atau bentuk adu domba terhadap masyarakat. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: apakah langkah tersebut hanya sebuah pertunjukan kekuatan (show of force), atau bagian dari strategi perang psikologis (psychological warfare)?

Rumor Pasukan Berani Mati: Latar Belakang dan Reaksi Publik

Ketika isu ini pertama kali muncul, banyak warganet yang meresponsnya dengan rasa cemas dan sekaligus sindiran. Beberapa menganggap bahwa apel siaga ini adalah bukti ketakutan Presiden Jokowi terhadap meningkatnya kritik dan tekanan politik menjelang akhir masa jabatannya. Yang lain mengaitkan hal ini dengan retorika adu domba di antara kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda pandangan politik, di mana Presiden Jokowi diduga berusaha memobilisasi dukungan ekstrem untuk menunjukkan bahwa ia masih memiliki pengaruh kuat.

Secara umum, wacana tentang pasukan “berani mati” mengisyaratkan dua dimensi utama: pertama, sebagai upaya untuk memobilisasi kekuatan massa guna mempertahankan legitimasi di tengah kontestasi politik; dan kedua, sebagai strategi untuk menciptakan efek psikologis bagi lawan-lawan politiknya maupun bagi masyarakat luas.

Show of Force: Pertunjukan Kekuatan dalam Konteks Politik

Pertunjukan kekuatan atau show of force adalah taktik klasik yang sering digunakan oleh para pemimpin politik atau militer untuk memperlihatkan kekuatan dan stabilitas pemerintahan mereka. Ini bertujuan tidak hanya untuk menenangkan basis pendukung, tetapi juga untuk mengirimkan sinyal kepada pihak lawan bahwa mereka masih memiliki kendali. Dalam konteks rumor pasukan berani mati, apel siaga bisa dilihat sebagai simbolisasi kekuatan politik yang tetap solid, meskipun banyak kritik dilontarkan terhadap Presiden Jokowi.

Namun, langkah ini berisiko, terutama di negara yang tengah menghadapi polarisasi sosial dan politik yang tinggi. Pertunjukan kekuatan yang bersifat militeristik dapat memicu ketakutan di kalangan masyarakat sipil dan menimbulkan kesan bahwa pemerintah merasa terancam dan menggunakan metode koersif untuk bertahan.

Jika dilihat dari kacamata politik Indonesia, wacana pasukan berani mati ini juga bisa dianggap sebagai respons terhadap gerakan politik dan protes yang semakin vokal dari kalangan oposisi. Sebagai bagian dari pertarungan narasi politik, aksi ini berusaha membuktikan bahwa dukungan terhadap pemerintah Jokowi tidak hanya berasal dari politik konvensional, tetapi juga dari kelompok-kelompok yang siap “mati” demi mempertahankan kepemimpinan.

Psychological Warfare: Perang Psikologis Melawan Lawan Politik

Di sisi lain, gagasan apel siaga ini juga bisa dilihat sebagai bagian dari strategi perang psikologis atau psychological warfare. Perang psikologis adalah upaya untuk melemahkan mental dan moral musuh, bukan melalui kekerasan fisik, tetapi melalui manipulasi informasi, propaganda, atau intimidasi. Dalam hal ini, rumor tentang pasukan berani mati dapat menciptakan ketakutan atau kekhawatiran di kalangan oposisi dan lawan politik Presiden Jokowi. Tujuannya adalah membuat mereka merasa terancam atau bahkan gentar sebelum konfrontasi politik terjadi.

Efek psikologis dari rumor semacam ini tidak bisa diabaikan. Publikasi tentang adanya massa yang siap bertindak ekstrem demi seorang pemimpin dapat memberikan kesan bahwa kekuatan yang mendukung pemerintah sangat besar dan militan. Hal ini dapat melemahkan semangat oposisi yang melihat bahwa dukungan mereka mungkin tidak sekuat yang mereka kira. Dalam teori komunikasi politik, perang psikologis seperti ini sering kali berhasil mempengaruhi persepsi massa, bahkan tanpa adanya tindakan nyata.

Analisis Kritik: Pemecah Belah dan Adu Domba?

Berbagai kritik yang muncul setelah beredarnya rumor pasukan berani mati ini juga mengangkat isu bahwa langkah tersebut berpotensi memecah belah masyarakat. Kritikus menganggap bahwa Presiden Jokowi menggunakan strategi adu domba dengan mengadu kelompok pendukung pemerintah dengan kelompok yang menentang. Dalam konteks Indonesia yang sudah sangat terpolarisasi, upaya semacam ini dianggap bisa memperparah konflik horizontal yang telah ada.

Tudingan pemecah belah tidak sepenuhnya tidak beralasan. Jika pemerintah menggunakan simbol-simbol kekerasan atau ancaman untuk mengkonsolidasikan dukungan politik, maka ini berisiko menciptakan ketegangan yang lebih besar di masyarakat. Pada titik ini, peran negara sebagai pengayom yang seharusnya menjaga persatuan malah menjadi dipertanyakan. Lebih buruk lagi, wacana pasukan berani mati dapat memperkuat narasi bahwa pemerintahan Jokowi bersifat otoriter dan bergantung pada taktik koersif untuk melawan kritik, bukannya memperkuat dialog demokratis.

Kesimpulan: Perlukah Khawatir?

Baik sebagai bentuk show of force maupun bagian dari strategi perang psikologis, rumor tentang pasukan berani mati ini menunjukkan bagaimana kekuatan politik berusaha untuk mempertahankan kekuasaannya melalui taktik-taktik non-konvensional. Meskipun apel siaga ini belum tentu terjadi, dampak dari rumor tersebut sudah cukup mempengaruhi persepsi publik.

Publik harus tetap kritis terhadap langkah-langkah politik semacam ini, khususnya dalam konteks demokrasi yang sehat. Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk meredakan ketegangan, bukan memanipulasi ketakutan publik. Sementara itu, masyarakat perlu waspada agar tidak terjebak dalam skenario yang memperdalam perpecahan dan ketegangan politik. Transparansi, dialog terbuka, dan penghormatan terhadap prinsip-prinsip demokrasi harus tetap menjadi prioritas dalam menghadapi rumor-rumor dan manuver politik semacam ini.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Mantan PM Noda Terpilih Sebagai Pemimpin Oposisi Utama Jepang

Next Post

Exco PSSI Tuding Bobotoh Perusuh, kelompok Kriminal Harus Ditindak Secara Hukum

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Media Sosial: Dari Hiburan Menjadi Candu yang Diproduksi
Feature

Media Sosial: Dari Hiburan Menjadi Candu yang Diproduksi

April 24, 2026
Logika Tol di Laut Bebas: Kebijakan atau Kecanggungan?
Birokrasi

Logika Tol di Laut Bebas: Kebijakan atau Kecanggungan?

April 24, 2026
Feature

Perang, Kepentingan Global, dan Harapan Kemerdekaan Palestina

April 24, 2026
Next Post
Exco PSSI Tuding Bobotoh Perusuh,  kelompok Kriminal Harus Ditindak Secara Hukum

Exco PSSI Tuding Bobotoh Perusuh, kelompok Kriminal Harus Ditindak Secara Hukum

Sesuai harapan Ridwan Kamil-Suswono Dapat Nomor Urut 1

Sesuai harapan Ridwan Kamil-Suswono Dapat Nomor Urut 1

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?
Law

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

by fusilat
April 24, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Masyarakat tengah menunggu putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dalam judicial review (uji materiil) Undang-Undang (UU) No. 34 Tahun 2004...

Read more
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Media Sosial: Dari Hiburan Menjadi Candu yang Diproduksi

Media Sosial: Dari Hiburan Menjadi Candu yang Diproduksi

April 24, 2026
Logika Tol di Laut Bebas: Kebijakan atau Kecanggungan?

Logika Tol di Laut Bebas: Kebijakan atau Kecanggungan?

April 24, 2026

Perang, Kepentingan Global, dan Harapan Kemerdekaan Palestina

April 24, 2026

KETIKA PENDAMAI DITUDUH MENISTA AGAMA

April 24, 2026

Kabar dari Gedung Parlemen: Kapan KTP Naik Pamor?

April 24, 2026
Memperluas Koter, Mempersempit Ruang Sipil

Memperluas Koter, Mempersempit Ruang Sipil

April 24, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Media Sosial: Dari Hiburan Menjadi Candu yang Diproduksi

Media Sosial: Dari Hiburan Menjadi Candu yang Diproduksi

April 24, 2026
Logika Tol di Laut Bebas: Kebijakan atau Kecanggungan?

Logika Tol di Laut Bebas: Kebijakan atau Kecanggungan?

April 24, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist