• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Patologi dalam Genangan: Ketika Banjir Membuka Selokan Kemanusiaan Kita

fusilat by fusilat
December 5, 2025
in Feature, Politik
0
Patologi dalam Genangan: Ketika Banjir Membuka Selokan Kemanusiaan Kita
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Malika Dwi Ana

BANJIR bandang yang melanda Sibolga, Tapanuli, dan Aceh Tamiang akhir November 2025 bukan sekadar bencana alam. Ia adalah cermin kejam yang memantulkan wajah kita ketika topeng peradaban terlepas.

Di tengah ratusan mayat yang masih terkubur lumpur dan ribuan pengungsi yang kelaparan berhari-hari, ada orang yang memilih menjarah rumah tetangga yang ditinggal mengungsi atau mati. Ada pula yang, seperti kasus di Aceh Tamiang yang terekam kamera, memperkosa mahasiswi yang terjebak banjir hanya karena numpang kendaraan. Ini bukan lagi soal lapar. Ini soal penyakit sosial yang sudah lama mengakar, hanya menunggu air bah untuk naik ke permukaan.

Bencana memang mendatangkan sisi terbaik manusia: gotong royong, solidaritas, berbagi makanan, berbagi mi instan terakhir. Tapi ia juga mendatangkan sisi terburuk—dan sisi terburuk itu selalu lebih cepat muncul ketika kontrol sosial runtuh. Dalam hitungan hari, anomi menguasai. Hukum jadi lelucon. Kamera mati. Aparat sibuk menyelamatkan nyawa. Yang tersisa hanyalah insting purba: ambil apa yang bisa diambil, kuasai siapa yang bisa dikuasai.

Penjarahan minimarket masih bisa kita beri catatan “survival”. Tapi ketika rumah warga ikut diobrak-abrik, ketika perempuan diperkosa di tengah genangan, kita sudah masuk wilayah patologi sosial yang tak lagi bisa dibungkus eufemisme “kelaparan”.

Ini bukan kelakuan “oknum”. Ini kelakuan sistem.
Sistem yang puluhan tahun membiarkan kemiskinan struktural, pendidikan rendah, impunitas kecil-kecilan, dan budaya “yang penting gue selamat” tumbuh subur di bawah permukaan. Banjir hanya membuka tutup selokannya.

Kita bisa menghukum pelaku—dan memang harus dihukum. Tapi pertanyaan yang lebih menyakitkan adalah: mengapa di kampung lain yang sama miskin dan sama laparnya, orang-orang justru berbagi beras terakhir dan menjaga anak gadis tetangga? Jawabannya bukan DNA, melainkan seberapa kuat kontrol sosial informal yang tersisa—dan itu dibentuk bertahun-tahun sebelum banjir datang.

Negara, seperti biasa, datang terlambat. Helikopter baru terbang hari keempat. Bantuan masuk hari keenam. Ketika negara absen, yang mengisi kekosongan bukan selalu kemanusiaan—kadang justru predator yang sudah lama berkeliaran di antara kita, menunggu gelap dan air keruh.

Jangan kita pura-pura kaget.
Bisa terjadi, karena kita membiarkannya bisa.

Seperti kata Thomas Hobbes, tanpa hukum dan negara yang kuat, “manusia adalah serigala bagi manusia lain” (homo homini lupus). Yang terjadi di Sibolga dan Aceh Tamiang adalah bukti nyata. Tapi Hobbes juga memberi solusi: kontrak sosial yang kokoh—negara yang hadir, hukum yang tegas tapi adil, pendidikan merata, pengurangan kemiskinan, dan budaya malu yang kita tanam kembali.

Kemiskinan memang mendekatkan orang pada kekufuran dan kejahatan, tapi itu bukan pembenaran.
Banjir akan surut. Lumpur akan kering. Tapi luka sosial ini tidak akan sembuh sendiri. Ia akan tenggelam lagi, menunggu bencana berikutnya untuk meledak.

Satu-satunya cara agar selokan itu tak lagi mengeluarkan bau busuk saat hujan datang adalah dengan membersihkannya sekarang, saat matahari masih bersinar.

Untuk Sibolga, untuk Aceh Tamiang, untuk kita semua:
semoga ini jadi tamparan terakhir sebelum Yang Maha Kuasa benar-benar menampar kita.

Malika Dwi Ana – Pengamat Sosial

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Jokowi dan Gibran Tak Mau Hadir di Persidangan, KPK Tak Mau Panggil Bobby Nasution

Next Post

SINTING!!!

fusilat

fusilat

Related Posts

Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi
Feature

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026
Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Terus Kenapa?: Ketika Moral Publik Dipatahkan dengan Santai
Feature

IF YOU CAN’T STAND THE HEAT, GET OUT OF THE KITCHEN

February 13, 2026
Perseteruan Raja Jawa vs Roy Suryo dan Ketidakakuran Kasunanan Surakarta vs Kasultanan Yogyakarta
Crime

Bila Ijazah Asli;Roy CS Terancam Penjara 9 Bulan – Bila Palsu; Jokowi Terancam 10 Tahun

February 13, 2026
Next Post
SINTING!!!

SINTING!!!

Mangkir terhadap Panggilan Pengadilan, Paspampres Harus Ditarik dari Kesatuan Pengawal Jokowi

Mangkir terhadap Panggilan Pengadilan, Paspampres Harus Ditarik dari Kesatuan Pengawal Jokowi

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Isu Prioritas Bisnis dan HAM di Indonesia 2026 Versi Setara Institute
Bisnis

10 Isu Prioritas Bisnis dan HAM di Indonesia 2026 Versi Setara Institute

by Karyudi Sutajah Putra
February 12, 2026
0

Jakarta-Fusilatnews - Bisnis dan hak asasi manusia (HAM) adalah seperangkat prinsip yang berfokus pada tanggung jawab pelaku usaha untuk menegakkan...

Read more
Kuorum Tak Terpenuhi, DPR Tunda Paripurna Pengesahan RUU Pilkada

Habis KPK, Terbitlah MK: Dilemahkan!

February 7, 2026
Akankah Gibran Ancam Bunuh Prabowo Seperti di Filipina?

Ketika Prabowo Menantang Gibran Bertarung di 2029

February 7, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Rakyat Tolak Gibran, Prabowo Terima; Rakyat Minta Adili Jokowi, Prabowo Malah Serukan ‘Hidup Jokowi’

Damai Hari Lubis Bantah Minta Maaf dan Terima Uang: Ini Rekayasa Politik, Bukan Proses Hukum

February 13, 2026
Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026
Prof Euis Amalia: Karya FKI Lebih Konkret Dibanding ICMI dan KAHMI

Prof Euis Amalia: Karya FKI Lebih Konkret Dibanding ICMI dan KAHMI

February 13, 2026
Ketua BEM UGM Dapat Teror Usai Suarakan Kasus Anak Bunuh Diri di NTT

Ketua BEM UGM Dapat Teror Usai Suarakan Kasus Anak Bunuh Diri di NTT

February 13, 2026
Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Terus Kenapa?: Ketika Moral Publik Dipatahkan dengan Santai

IF YOU CAN’T STAND THE HEAT, GET OUT OF THE KITCHEN

February 13, 2026
Fenomena Langka Abad Ini: Gerhana Matahari Terpanjang Akan Mengubah Siang Menjadi Malam

Fenomena Langka Abad Ini: Gerhana Matahari Terpanjang Akan Mengubah Siang Menjadi Malam

February 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Rakyat Tolak Gibran, Prabowo Terima; Rakyat Minta Adili Jokowi, Prabowo Malah Serukan ‘Hidup Jokowi’

Damai Hari Lubis Bantah Minta Maaf dan Terima Uang: Ini Rekayasa Politik, Bukan Proses Hukum

February 13, 2026
Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...