Oleh M Yamin Nasution SH
Di tengah negeri dihantam musibah: banjir, longsor, rumah-rumah hanyut, dan rakyat kehilangan kehidupan, kita justru dipaksa menyaksikan salah satu adegan paling menjijikkan dalam panggung politik Indonesia: pejabat berakting pura-pura peduli.
Saat rakyat tenggelam dalam duka, sebagian pejabat dari menteri hingga artis yang kebetulan duduk di DPR malah tenggelam dalam nafsu panggung dan haus sorotan. Bukan solusi yang mereka bawa, melainkan gimmick picisan: memikul karung beras 5 kilogram untuk kamera, memakai rompi yang bahkan tak ada gunanya, hanya agar terlihat “turun lapangan”. 
Begitu kamera menyala, mereka berubah menjadi aktor kelas dua yang memerankan duka dengan wajah dibuat-buat. Begitu kamera mati, “kepedulian” itu ikut padam, lebih cepat dari surutnya air banjir.
Dan yang paling 𝐒𝐈𝐍𝐓𝐈𝐍𝐆:
Semua itu direncanakan.
Cameramen sudah disiapkan. Angle dipilih. Senyum dikurasi. Mimik diperhalus. Penderitaan rakyat dijadikan dekorasi visual demi konten pencitraan.
Sementara rakyat kehilangan rumah, barang-barang hanyut, anak-anak kedinginan, orang tua menangis dalam lumpur, para pejabat ini sibuk memastikan footage yang bagus. Inilah puncak amoralitas politik: ketika bencana dijadikan konten, dan musibah dianggap peluang promosi diri.
Mereka tidak hadir sebagai pemimpin, mereka hadir sebagai pemain sandiwara, menjadikan luka rakyat sebagai panggung politik.
Dalam tragedi sebesar ini, yang seharusnya tampil adalah negara, bukan kamera; kerja, bukan acting; empati, bukan pencitraan.
Banjir merendam rumah. Tetapi moral sebagian pejabat, sudah lama tenggelam.

Oleh M Yamin Nasution SH
























