Di negeri ini, kekuasaan kadang berjalan dengan wajah ramah—seperti kasih seorang ayah pada anaknya. Tapi di balik senyum itu, barangkali tersembunyi sesuatu yang lebih gelap dari ambisi: sebuah niat yang menyesatkan, tapi dibungkus restu.
Lihatlah Gibran. Anak muda itu pernah mengatakan ia tak ingin masuk politik. Ia tampak canggung di awal, kikuk di tengah, tapi terus didorong sampai ke ujung panggung: menjadi wakil presiden republik ini. Jalan itu bukan didaki, tapi diratakan untuknya. Ia tidak menuntut pangkat, tapi ayahnya memberinya mahkota.
Bobby pun demikian. Menantu yang barangkali hanya ingin tenang dengan keluarga kecilnya, tiba-tiba jadi wali kota, dan kini gubernur. Kita tak mendengar ia menggugat posisi. Tapi kekuasaan menghampirinya seperti takdir yang telah ditulis di meja makan keluarga. Dan tak ada yang berani berkata “tidak.”
Kaesang, yang paling muda, paling riang, dan paling lugu dalam politik, kini telah memegang kemudi sebuah partai. Padahal yang ia pimpin bukan partai anak muda, tapi partai ambisi tua yang sedang menyamar dalam baju anak-anak.
Apa yang sebenarnya sedang diwariskan seorang ayah kepada darah dagingnya?
Publik mungkin melihat ini sebagai keistimewaan. Tapi sejarah, seperti yang pernah ditulis Pramoedya, tak pernah memberi ampun pada kemewahan yang diperoleh tanpa peluh. Rakyat mencatat. Rakyat mengamati. Dan di antara bisik-bisik itu, tumbuh kesimpulan: bahwa Jokowi, dengan sengaja, sedang menghianati anak-anaknya sendiri—dengan cara paling keji yang pernah dilakukan seorang ayah: menyeret mereka ke dalam pusaran politik kotor, agar jadi tameng, jadi perpanjangan tangan, jadi warisan, jadi alat.
Dan bukankah ini yang dimaksud Prof. Mahfud MD sebagai pikiran iblis? Ketika kekuasaan bukan lagi alat untuk mengabdi, melainkan alat untuk menanam anak cucu ke dalam pusaran yang akan menghancurkan mereka perlahan, dari dalam.
Karena sejarah tak bisa dilawan dengan nama belakang. Kekuasaan tak bisa dibungkus selamanya dengan “niat baik”. Dan publik tak akan lupa bagaimana semua ini terjadi—dari putusan Mahkamah Konstitusi yang rusak hingga restu istana yang diam tapi tajam.
Anak-anak itu, satu per satu, dipakaikan baju kebesaran. Tapi mereka lupa, baju itu penuh duri. Hari ini mereka dielu-elukan. Tapi esok, sejarah bisa mengutuk mereka sebagai simbol pengkhianatan terhadap akal sehat republik.
Dan sang ayah—yang mungkin merasa telah memberi yang terbaik—nyatanya sedang menanam luka, bukan kejayaan. Bukan cinta, tapi jebakan. Bukan perlindungan, tapi penyesatan.
Mungkin suatu hari mereka akan duduk dalam sunyi, dan sadar: bahwa dosa terbesar bukanlah tidak dicintai. Tapi dicintai dengan cara yang keliru. Dengan cinta yang lahir dari ambisi, bukan kasih sejati.
Dan pada saat itu, barangkali mereka akan mengutuk warisan yang diberikan bukan dengan air mata, tapi dengan bisu yang panjang. Karena sesungguhnya, apa yang diwariskan sang ayah—bukanlah kejayaan, tapi kutukan.
























