Oleh : Mahdi Djayadikarta Putra
Jakarta, 16 September 2025 – Almawardi Prima bersama sejumlah tokoh nasional menggelar peluncuran dan bedah kitab karya Prof. Dr. Eggi Sudjana berjudul OST JUBEDIL (Obyektif, Sistematis, Toleran, Jujur, Benar, Adil), di Gedung HB Yasin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta, Selasa pagi.
Acara yang diberi tajuk “Matemantiq” ini menghadirkan panelis Ustaz Abi Dody, aktivis Muslim Arbi, Dr. Hariman Siregar, serta Habib Rizieq Shihab yang memberikan kata pengantar, dengan Prof. Budi Susanto sebagai moderator.
Prof. Dr. Eggi Sudjana, yang baru kembali dari Inggris, memaparkan konsep pemikirannya mengenai pentingnya objektivitas dan independensi dalam diskursus publik. Menurutnya, perdebatan seharusnya tidak berujung pada apologia sektarian, tetapi menekankan kejujuran, keterbukaan, serta sikap sistematis tanpa arogansi.
“Teori OST JUBEDIL ini berangkat dari perspektif Islam klasik, namun saya berusaha memperbaruinya agar relevan dengan kondisi kekinian,” ungkap Eggi.
Empat Tahapan Pembangunan Masyarakat
Dalam pengantarnya, Habib Rizieq Shihab menjelaskan bahwa kitab Eggi menawarkan kerangka pembentukan masyarakat ideal melalui empat tahap dengan porsi masing-masing 25 persen: individu, keluarga, muamalah, dan negara.
Implementasinya meliputi:
- Individu: ibadah seperti shalat, puasa, dzikir.
- Keluarga: pernikahan, talak, hingga tuntunan rumah tangga.
- Muamalah: praktik ekonomi seperti bank syariah dan koperasi.
- Negara: penerapan hukum pidana internasional berbasis syariah.
Menurut Eggi, tiga tahap pertama relatif sudah berjalan, namun tahap keempat sulit terwujud tanpa adanya tegaknya institusi negara yang menegakkan hukum syariah secara formal. Ia merujuk pada kajian disertasinya di Malaysia yang menekankan, misalnya, hukuman potong tangan hanya dapat diberlakukan melalui sistem negara, bukan individu.
Latar Belakang TPUA
Eggi juga menyinggung lahirnya Team Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) yang digagas Habib Rizieq Shihab. Menurutnya, pembentukan tim ini dilatarbelakangi oleh maraknya kriminalisasi terhadap ulama dan aktivis Islam.
Ia menegaskan, sejarah dakwah Wali Songo serta cita-cita Masyumi menjadi inspirasi untuk menegakkan dasar negara tauhid, sebagaimana termaktub dalam sila pertama Pancasila serta mukadimah UUD 1945.
Kritik Sosial dan Politik
Dalam paparannya, Eggi mengingatkan agar kritik atau protes tidak dilakukan tanpa bukti nyata berupa karya. Ia juga menyinggung isu poligami sebagai bagian dari ajaran agama yang menurutnya bersifat mutlak.
Lebih jauh, Eggi menyoroti problem Islamofobia dalam politik Indonesia yang menurutnya menyebabkan dirinya kerap difitnah dalam perjuangan di HMI MPO maupun TPUA. Namun ia tetap optimistis, Indonesia bisa meraih kejayaan dengan penerapan syariah Islam, bebas dari praktik korupsi, kolusi, nepotisme, dan oligarki.
“Indonesia memiliki potensi besar melalui kekayaan sumber daya alam seperti batu bara, sawit, dan nikel. Dengan kesadaran kolektif dan janji Allah SWT, bangsa ini bisa menjadi superpower syariah,” tegasnya.
Dukungan Politik
Eggi juga mengungkapkan adanya dukungan dari sejumlah politisi, termasuk Beator Suryadi dari PDIP, yang mendorong dirinya maju sebagai calon presiden. Namun, ia mengaku masih mempertimbangkan langkah politik tersebut di tengah dinamika pemerintahan Presiden Prabowo.
Penutup Acara
Acara ditutup dengan sesi penandatanganan kitab oleh Eggi Sudjana, yang juga memimpin Partai Pemersatu Bangsa. Sejumlah tokoh hadir dalam kesempatan ini, di antaranya Beator Suryadi, Aspirasi Waty, Tendri, Amir Hamzah, Mery Lampung, Neti SH, Asrin (seniman), Dewi, dan Refly Gerung.
Peluncuran kitab OST JUBEDIL ini diharapkan dapat menjadi rujukan baru bagi umat Islam Indonesia dalam membangun panduan etika, hukum, dan kehidupan berbangsa – sebuah bentuk P4 Muslim di era modern.






















