• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

PENDIDIKAN, JALAN NINJA MENYONGSONG INDONESIA CEMAS 2045

Redaktur Senior 01 by Redaktur Senior 01
May 13, 2024
in Feature, Pendidikan
0
PENDIDIKAN, JALAN NINJA MENYONGSONG INDONESIA CEMAS 2045
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Ari Dharma- Dosen

Dibesarkan dalam keluarga di mana buyut, kakek dan orang tua saya memilih untuk menjadi
pendidik sebagai jalan pengabdian mereka, jalan yang juga kemudian diambil oleh empat dari enam
orang anak ayah dan ibu saya, menjadikan hari pendidikan nasional yang jatuh pada bulan May
selalu memiliki tempat khusus dihati.
Semenjak dulu hingga sekarang, peringatan Hardiknas dirayakan di seantero negeri, diselenggarakan
oleh jajaran pemerintahan tingkat daerah hingga tingkat nasional, sebagai penanda bahwa
Hardiknas merupakan momen refleksi bangsa ini akan pentingnya peranan pendidikan bagi Negara
Kesatuan Republik Indonesia.

Begitu pula peringatan Hardiknas tahun ini, jajaran pemerintah tingkat daerah hingga nasional
menyelenggarakan peringatan Hardiknas dengan tema yang hampir sama, yakni menjadikan
momentum Hardiknas untuk membangun Generasi Emas untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.
Sayangnya, peringatan Hardiknas dengan tema yang sedemikian penting, justru tercemar oleh
fenomena yang bersumber dari lembaga yang membidangi pendidikan itu sendiri.

Fenomena pertama berlangsung sebelum peringatan Hardiknas, kehebohan akibat kemitraan yang
dibangun oleh 86 kampus di seantero negeri dengan entitas penyedia layanan “Peer to Peer
Lending”, yang lebih dikenal masyarakat sebagai Pinjol, untuk menyasar para mahasiswa dengan
penyediaan layanan pinjaman mudah dan cepat yang mereka berikan.

Fenomena berikutnya berlangsung tepat pada peringatan Hardiknas, ketika Deputi II KSP
mengingatkan agar jangan ada lagi cerita guru terjerat Pinjol, dengan mengacu pada pernyataan OJK
bahwa 42% dari korban Pinjol ilegal adalah mereka yang berprofesi sebagai guru. Fenomena yang
menurut PGRI hanyalah puncak dari gunung es permasalahan Pinjol yang menjerat para guru.
Fenomena terakhir, yang masih berlangsung bahkan hingga setelah peringatan Hardiknas, adalah
maraknya aksi demonstrasi di berbagai kampus PTN yang menyuarakan keluhan mahasiswa
terhadap kebijakan Universitas maupun Institut dalam menaikkan UKT yang persentase kenaikannya
jauh melebihi pertumbuhan ekonomi, apalagi kenaikan penghasilan orang tua mahasiswa.
Seluruh fenomena di atas memprovokasi munculnya keingintahuan, memunculkan pertanyaan
apakah pemerintah, para penguasa negeri ini, serius dalam mempersiapkan Generasi Emas untuk
menyongsong Indonesia Emas 2045?

Menariknya, respons yang diberikan oleh pemerintah terkait fenomena terkait dunia pendidikan ini
sangat terbatas dan bila pun ada, berupa pernyataan normatif dan permintaan, bukan berupa
kebijakan dan peraturan.

Respons dari Kemendikbudristek terhadap kemitraan antara kampus dengan perusahaan Pinjol
hanya berupa permintaan agar kampus melindungi mahasiswa dari jeratan hutang serta
mengingatkan PTN agar menyediakan pendidikan yang berkualitas dan inklusif. Tidak ada
pernyataan maupun sikap tegas terhadap kemitraan itu, yang terus berlangsung tanpa hambatan.
Respons dari Kemendikbudristek terkait UKT hanyalah pernyataan bahwa penetapan UKT bagi
masing-masing PTN merupakan wewenang pemimpin perguruan tinggi, padahal untuk
melaksanakannya PTN haruslah berkonsultasi atau mendapat persetujuan dari Kemendikbud.
Dilengkapi dengan pernyataan pembenaran, bahwa UKT PTN lebih terjangkau bila dibandingkan
dengan biaya kuliah yang dibebankan oleh PTS.

Kemendikbud sebagai lembaga pemerintah yang membidangi urusan pendidikan dan bertanggung
jawab langsung pada Presiden, terkesan menempatkan fenomena guru terjerat Pinjol ke dalam
ranah pribadi para guru serta menempatkan fenomena kemitraan kampus dengan perusahaan Pinjol
dan UKT yang melangit ke dalam ranah teknis yang berada dalam kewenangan pimpinan kampus.
Agar dapat mencari tahu seberapa serius pemerintah dalam mempersiapkan Generasi Emas untuk
menyongsong Indonesia Emas, ketiga fenomena di atas saya sarikan menjadi dua permasalahan,
yang pertama adalah mengenai Pinjol serta yang kedua adalah mengenai kenaikan UKT.
Permasalahan pertama, Pinjol secara umum menyasar dan memakan korban orang-orang yang
menurut BI digolongkan sebagai Underbanked, yaitu orang-orang yang menurut industri perbankan
belum memenuhi persyaratan atau belum mampu untuk mengakses produk keuangan berupa
pinjaman.

Kemudahan yang diberikan oleh pemerintah digunakan oleh perusahaan Pinjol untuk menyasar guru
yang sebagian darinya digolongkan sebagai Underbanked. Kemudahan yang terkesan sebagai
pembiaran yang memicu sebagian guru memanfaatkan peluang yang ada dengan mengakali
ketidakmampuan keuangan agar bisa mendapatkan pinjaman dengan cara yang mudah dan cepat.
Kemitraan yang dilakukan kampus dengan perusahaan Pinjol terkesan mengarahkan sebagian
mahasiswa dan orang tua mereka yang Underbanked dan berada dalam tekanan untuk membayar
UKT untuk mendatangi mitra Pinjol, terpaksa untuk mengakali ketidakmampuan keuangan agar
mendapatkan pinjaman.

Permasalahan kedua lebih kompleks karena setiap PTN membuat kebijakan UKT masing-masing,
sehingga agar dapat memahami bagaimana permasalahan ini menekan para mahasiswa dan orang
tua mereka, perlu dilakukan simulasi pengaruh dari kenaikan UKT ini terhadap mahasiswa yang
orang tuanya yang memiliki pendapatan sesuai rata-rata nasional atau setara dengan UMR.
Katakanlah seorang anak cerdas dan berprestasi bertempat tinggal di suatu kota Indonesia, dengan
ayah pencari nafkah tunggal berpenghasilan setara rata-rata nasional, yang menurut BPS sebesar Rp.
3.050.000 per bulan atau Rp. 18.300.000 per semester. Sang anak tahun ini berhasil lolos dari
saringan Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi pada salah satu program studi di Universitas
Indonesia.

Maka, pada saat sang anak mendaftar, sang ayah yang dimasukkan ke dalam golongan UKT III, yaitu
golongan dengan Rp. 2 Jt < penghasilan ≤ Rp. 3,5 Jt , maka besaran UKT yang harus dibayarkan
adalah sebesar Rp. 7,5 Juta sampai 12,5 Juta per semester, yang setara dengan 41% sampai 68% dari
penghasilan satu semester.
Dengan skenario yang sama, bila sang anak yang cerdas dan berprestasi itu bertempat tinggal di
Bekasi dengan ayah pencari nafkah tunggal berpenghasilan setara UMR, sebesar Rp. 5.350.000, yang
masuk dalam golongan UKT V, maka besaran UKT yang harus dibayarkan adalah Rp. 14.667.000 sd
Rp. 20.000.000 per semester, setara dengan 46% sampai 62% dari penghasilan satu semester.
Simulasi di atas memperlihatkan bahwa permasalahan kedua, tidak hanya semakin memperbesar
tekanan keuangan untuk membayar UKT, tapi terkesan pula sebagai upaya menggiring sebagian
mahasiswa dan orang tua mereka terpaksa mengakali ketidakmampuan keuangan mereka untuk
menjadi debitur mitra Pinjol yang ditunjuk oleh kampus.

Dari uraian terkait permasalahan pertama dan kedua, didapatkan kesimpulan bahwa pemerintah,
terkesan membiarkan, mengarahkan, serta akhirnya menggiring sebagian guru dan mahasiswa untuk

menjadi debitur Pinjol. Kesimpulan yang menjadi landasan untuk menilai seberapa serius
pemerintah dalam mempersiapkan generasi Emas untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.
Sebagian ahli kejiwaan menarik kesimpulan bahwa korban Pinjol umumnya dipicu oleh perilaku tidak
bertanggung jawab serta berpeluang menimbulkan permasalahan psikologis dan emosional, baik
yang diakibatkan oleh pinjaman itu sendiri ataupun akibat penagihan yang dialami.
Kebijakan pemerintah yang terkesan membiarkan para guru untuk menjadi sasaran Pinjol
menimbulkan risiko jangka panjang karena dalam proses mengajar, para guru berinteraksi serta
memberikan contoh dengan murid mereka, yang menjadi landasan bagi pembentukan karakter dan
etika para murid.

Interaksi dan contoh yang diberikan oleh sebagian guru yang terjerat pinjol kepada para murid,
secara langsung maupun tidak langsung, sengaja maupun tidak sengaja, menimbulkan risiko adanya
murid yang mencontoh perilaku tidak bertanggung jawab atau tertular oleh permasalahan psikologis
dan emosional yang tengah dihadapi oleh sebagian guru tersebut.

Kebijakan Kemendikbudristek yang terkesan mengarahkan dan menggiring sebagian mahasiswa dan
orang tua mereka untuk terpaksa mengakali keadaan keuangan agar bisa mendapatkan pinjaman
untuk membayar UKT, menimbulkan risiko terjadi pembenaran oleh mahasiswa atas perilaku tidak
bertanggung jawab tersebut serta risiko mereka mengalami permasalahan psikologis dan emosional.
Kebijakan pemerintah dan Kemendikbudristek berisiko menjadikan para murid dan mahasiswa, Gen
Z dan Gen Post Z, yang diharapkan untuk menjadi komponen dari Generasi Emas, untuk menghadapi
risiko tumbuh menjadi manusia yang tidak bertanggungjawab dan juga memiliki permasalahan
psikologis dan emosional.

Fakta hampir separuh guru Indonesia adalah guru tingkat SD yang muridnya tergolong usia emas
dalam pembentukan karakter dan etika, serta fakta bahwa para mahasiswa yang berkuliah semenjak
tahun ini akan menjadi bagian dari Generasi Emas yang menjadi mesin penggerak Indonesia Emas
2045, risiko yang ditimbulkan oleh kebijakan pemerintahan terhadap permasalahan Pinjol dan UKT
tergolong sangat besar.

Para pendiri bangsa dalam pembukaan UUD 1945 mencantumkan tujuan pembentukan
pemerintahan Republik Indoniesia, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan
berdasarkan falsafah bangsa dan negara, yaitu Pancasila.

Generasi Emas adalah generasi muda yang cerdas, generasi yang berkualitas, berkompeten, dan
berdaya saing tinggi sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, yang menjadi penggerak untuk mewujudkan
Indonesia Emas, untuk menjadi negara yang berdaulat, maju dan berkelanjutan.
Pendidikan, menjadi jalan satu-satunya bagi negara kita untuk mempersiapkan Generasi Emas, jalan
panjang yang harus bangsa ini lalui selama 22 tahun ke depan, yang bila merujuk pada diksi bro
Kaesang, pendidikan adalah jalan Ninja yang harus diambil oleh pemerintah dan seluruh komponen
bangsa.

Dengan merujuk pada kebijakan yang diambil pemerintah dan Kemendikbudristek, sebagai Generasi
X yang belum tentu masih ada pada tahun 2045 nanti, saya menilai bahwa pemerintah belum serius
dalam mempersiapkan Generasi Emas untuk menyongsong Indonesia Emas 2045, bahkan jalan Ninja
yang diambil pemerintah baru dapat digolongkan sebagai jalan untuk menyongsong Indonesia
Cemas 2045.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Empat Nama Siap Maju sebagai Calon Gubernur Jakarta Jalur Independen

Next Post

Bercermin Kepada Program Kerja Prabowo – Jokowi dan PDIP Abai Terhadap Janjinya Menuntaskan Kemiskinan Extrim 0%

Redaktur Senior 01

Redaktur Senior 01

Related Posts

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi
Birokrasi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Feature

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?
Feature

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026
Next Post
Bercermin Kepada Program Kerja Prabowo – Jokowi dan PDIP Abai Terhadap Janjinya Menuntaskan Kemiskinan Extrim 0%

Bercermin Kepada Program Kerja Prabowo - Jokowi dan PDIP Abai Terhadap Janjinya Menuntaskan Kemiskinan Extrim 0%

Status Uji Berkala Bus Pariwisata .Trans Putera Fajar Kadaluarsa

Status Uji Berkala Bus Pariwisata .Trans Putera Fajar Kadaluarsa

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci
daerah

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

by Karyudi Sutajah Putra
April 23, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Untuk ke-9 kalinya, Setara Institute merilis data Indeks Kota Toleran (IKT). Ada 10 kota yang masuk dalam kategori...

Read more
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026
Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist