• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Pengakuan Gibran dan Gambaran Keterbatasan Intelektualitas

Ali Syarief by Ali Syarief
August 3, 2025
in Feature, Tokoh/Figur
0
Pengakuan Gibran dan Gambaran Keterbatasan Intelektualitas
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Pengakuan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bahwa sosok eks Utusan Khusus Presiden, Gus Miftah, adalah gurunya, memang menarik untuk dicermati. Namun, bila dibaca lebih dalam, pengakuan ini justru menyingkap masalah serius tentang kualitas intelektualitas dan kepemimpinan Gibran sendiri.

Gus Miftah dikenal dengan penampilan yang nyentrik dan gaya yang jauh dari kesan akademis atau intelektual formal. Ketika seorang pemimpin muda yang memegang posisi strategis di pemerintahan memilih sosok seperti itu sebagai “guru,” kita harus bertanya: seperti apa sebenarnya kapasitas intelektual yang dimiliki sang wapres? Bukankah seharusnya seorang pejabat negara setingkat wapres belajar dari tokoh-tokoh yang lebih berkompeten secara keilmuan dan strategis, bukan dari figur yang lebih banyak dikenal sebagai penghibur dengan gaya unik?

Lebih jauh, pengakuan Gibran bahwa masukan yang diterimanya dari Gus Miftah adalah “apa adanya” dan “menegur jika salah” menimbulkan kesan bahwa standar intelektualitas dan kritisisme yang dipakai juga terbilang rendah dan sederhana. Di satu sisi, sikap terbuka dan mau ditegur memang penting, tapi di sisi lain, ini juga menggambarkan betapa sempitnya wawasan dan kualitas analisis yang diterima oleh Gibran. Apakah seorang wapres yang sedang menghadapi tantangan kompleks negeri ini cukup dibimbing dengan masukan ala “kaleng-kaleng” yang hanya soal teguran dan pujian tanpa kedalaman pemikiran?

Pengakuan itu juga membuka pertanyaan soal legitimasi dan profesionalitas. Apakah ini wujud hubungan guru-murid yang tulus, atau hanya sebuah narasi politis untuk menutupi minimnya bekal intelektual Gibran? Mengingat latar belakang Gibran yang bukan dari jalur akademis dan birokrasi formal, pengakuannya terhadap Gus Miftah bisa menjadi sinyal bahwa ia lebih bergantung pada figur-figur non-akademis yang tidak bisa dijadikan rujukan kuat dalam pengambilan kebijakan negara.

Kedekatan yang dibanggakan Gibran — tentang Gus Miftah yang sering datang ke Balai Kota Solo sekadar untuk minta sarapan dan berbincang ringan — memang humanis, tapi juga memperlihatkan betapa informal dan kurang seriusnya proses pembelajaran dan pengembangan diri seorang wapres. Bukannya membangun wawasan strategis melalui kajian mendalam, diskusi akademik, atau konsultasi dengan ahli yang kredibel, Gibran malah ‘mengandalkan’ sosok nyentrik dengan pendekatan yang sangat sederhana.

Kritik tajam ini bukan bermaksud merendahkan Gus Miftah sebagai pribadi, melainkan menyoroti bagaimana intelektualitas kepemimpinan di level tertinggi sedang dipertaruhkan. Jika Wapres RI saja mengandalkan guru yang penampilannya “nyentrik” dan gaya komunikasi yang sederhana sebagai rujukan utama, bagaimana kualitas pengambilan keputusan yang akan berdampak pada bangsa dan negara?

Pada akhirnya, pengakuan Gibran ini harus menjadi refleksi serius bagi publik dan para pemimpin negeri: apakah kita sedang menyaksikan proses pemimpin muda yang sungguh-sungguh memperkaya diri dengan wawasan mendalam, atau sekadar ‘belajar ala kadarnya’ dari sosok yang jauh dari gambaran intelektual dan kapasitas kepemimpinan yang dibutuhkan?


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Menko Polhukam Soroti Pengibaran Bendera One Piece: Langgar Hukum

Next Post

Memahami Isi “Pernyataan 80 Tahun Pascaperang” Jepang: Refleksi dan Komitmen untuk Perdamaian

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup
Economy

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

April 25, 2026
Mas Wowo – Jangan Seperti Cowboy, Masuk Kota Hanya Bikin Onar
Feature

Siapa yang Harus Mengerti: Presiden Memahami Rakyat atau Rakyat Memahami Presiden?

April 25, 2026
Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip
Feature

Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip

April 25, 2026
Next Post
Memahami Isi “Pernyataan 80 Tahun Pascaperang” Jepang: Refleksi dan Komitmen untuk Perdamaian

Memahami Isi “Pernyataan 80 Tahun Pascaperang” Jepang: Refleksi dan Komitmen untuk Perdamaian

Jangan Salahkan Pengibar Bendera Bajak Laut!

Jangan Salahkan Pengibar Bendera Bajak Laut!

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa
Feature

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

by Karyudi Sutajah Putra
April 24, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Letkol Teddy Indra Wijaya kini sudah bisa...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

April 25, 2026
Mas Wowo – Jangan Seperti Cowboy, Masuk Kota Hanya Bikin Onar

Siapa yang Harus Mengerti: Presiden Memahami Rakyat atau Rakyat Memahami Presiden?

April 25, 2026
Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip

Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip

April 25, 2026
Rakyat Didenda, Aparat Korupsi Dimanja: Ketika Keadilan Kehilangan Makna

Rakyat Didenda, Aparat Korupsi Dimanja: Ketika Keadilan Kehilangan Makna

April 25, 2026
Kacau Komunikasi Dua Menteri, APBN Jadi Korban Ketidaktertiban Birokrasi

Negara Katanya Sehat, Tapi Mengapa Terlihat Sesak Napas?

April 25, 2026
Sahroni Desak Hukuman Berat untuk Syekh Ahmad Al Misry jika Terbukti Lecehkan Santri

Sahroni Desak Hukuman Berat untuk Syekh Ahmad Al Misry jika Terbukti Lecehkan Santri

April 25, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

April 25, 2026
Mas Wowo – Jangan Seperti Cowboy, Masuk Kota Hanya Bikin Onar

Siapa yang Harus Mengerti: Presiden Memahami Rakyat atau Rakyat Memahami Presiden?

April 25, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist