Hampir setiap kali tiba di Jepang, teman-teman terdekatku, seperti tak pernah bosan selalu menemuiku. Kadang ada diantara mereka, menyambutku di Bandara Haneda. Perjalanan delapan jam dari Jakarta ke Tokyo, rasa lelah hilang, saat melihat teman-temanku melambaikan tangan; : “Ali san..irrasai sambil tersenyum”, ucapnya.
Sampai pada suatu hari, ini bagian dari budaya orang Jepang, kami berempat bertemu pada acara makan malam, dibilangan Tachikawa, Tokyo. Saya, Naito San, seorang Sutradara film, Noriko San, pecinta Indonesia dan Akiko San, menikmati restoran Yakiniku khas Tachikawa. Seperti biasa, table manner di Jepang, saat makan, ngobrol-ngobrol adalah bagian yang terpenting. Topiknya yang ringan-ringan saja. Pertama membicarakan, pertemuan diantara kami terkahir (yang lalu), kejadian-kejadian yang penting, dan kapan rencana lagi saya datang ke Jepang.
Naito san, saat itu seperti gelisah. Rupanya bateri smartphonenya habis. Sebelum berangkat makan, Ia lupa tidak memberi tahu anak perempuanya, yang sudah tidak serumah lagi. Hampir setiap saat memang anak perempuannya, menghubungi Naito san, untuk memastikan, bahwa keadaan ayahnya baik-baik saja. Maklum Naito sudah berumur 87 tahun lebih. Kesehatannya, sedang tidak normal.
Saat usai makan, saya minta kepada Akiko-san untuk mengantar kami berdua ke rumah Naito, karena saya pada waktu itu tinggal Bersama dirumahnya. Saat kami memasuki jalan dimana lokasi rumah Naito-san berada, dari kejauhan sudah terlihat ada Mobil Patroli Sedan Polisi. Naito san bilang kepada saya; “mereka sedang dirumah kita”, katanya.
Betul, dua orang Polisi muda itu, sedang berusaha membongkar pintu masuk rumah. Mereka mengira, kalau Naito san kolaps didalam rumah, karena memang tercatat sudah tua dan tidak sehat kondisi fisiknya.
Rupanya, yang menelpon polisi itu putrinya. Ia tidak bisa menghubungi ayahnya. Kehawatiran, ayahnya sakit tak berdaya atau pingsan, maka putrinya, seringkali menelpon Polisi terdekat.
Pengalaman lain, saya kehabisan bateri smartphone. Padahal begitu pentingnya saat itu. Saya harus memberi tahu posisi saya, supaya temanku bisa menjemput. Lalu saya ke Koban Police terdekat. Meminta polisi, menelpon teman saya itu. Tapi tidak berhasil, karena tidak menemukan no telponnya di catatan kepolisian disitu. Saya katakan; “ada di HP saya, tapi tidak bisa dilihat, karena mati habis baterei. Bisa saya mencharge disini?”, tanya saya. Polisi yang bertugas itu, mengatakan “dame”. Maksudnya tidak bisa.
Walau saya sangat kesal saat itu, tapi belakangan saya faham. Itu tidak boleh. Menggunakan fasilitas negara untk kepentingan pribadi. Polisi jepang memang sangat disiplin dan jujur. Koban Police, biasa tempat bertanya saat mencari barang yang hilang di area sekitar kantor tersebut.
Pengalaman ketiga, waktu saya di Kansai International Airport, Osaka. Belum lama setelah airport modern itu diresmikan. Saya bertuntung, pernah menikmati keindahan airport baru tersebut, apalagi lokasinya di tengah laut.
Di area Publik, dimana biasa digunakan untuk para penjemput berkumpul, Saya didekati oleh seseorang yang mempekenalkan diri sebagai seorang polisi.
Saya tidak gentar sedikitpun. Pertama saya datang di Jepang, dengan dokumen keimigrasian lengkap. Saya tanya, apa yang bisa saya bantu? Polisi yang tidak berseragam itu meminta saya memperlihatkan passport saya.
“Hai kore desu”, kata saya sambil memberikan passport. Si Polisi melihat-lihat lembaran halaman pasportku, yang penuh dengan berbagai stemple keimigrasian yang berbeda. Lalu menyampaikan kembali pasportnya, sambil mengatakan “arigato gozaimasu”
Tapi, tiba-tiba dia bilang, “saya pernah tinggal di Indonesia selama dua tahun”, katanya dalam Bahasa Indonesia. Saya langsung mengira, diawal mendekati saya, itu karena saya diduga sebagai orang Indonesia. Rupanya benar, setelah melihat passport saya.
Di Jepang, saya sering disangka orang Philipina. Tetapi di Amerika, Los Angeles, saya dikira orang Mexico, karena banyak yang tiba-tiba menegur saya dengan bahasa Mexican spanish.
Ada apa tinggal di Indonesia? lanjut tanya saya. “Saya belajar Kepolisian Republik Indonesia”, jawabnya. Akhirnya kami asyik ngalor ngidul bicara berbagai macam soal-soal di Indonesia.
Marcia Kato san, Polisi Wanita Jepang. Ia sahabat saya. Cerdas sekali, bisa beberapa bahasa Asing, Ia bertugas di Aichi Nagoya. Pernah tinggal di Bandung, mengikuti program home stay saya. Sayang, tidak seperti biasanya, saat menulis ini, sulit untuk berkomunikasi dengannya. Tadinya saya ingin menggali hal-ihwal perpolisian Jepang.























