Jakarta, 29 Januari 2026
Yus Dharman, S.H., M.M., M.Kn
Advokat / Ketua Dewan Pengawas FAPRI (Forum Advokat & Pengacara Republik Indonesia)
Apa yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Venezuela—dalam upaya menggulingkan Presiden Nicolás Maduro—bukanlah fenomena baru. Ia merupakan bagian dari strategi panjang kolonialisme modern untuk menaklukkan dunia. Strategi ini telah berlangsung selama berabad-abad, mencakup destabilisasi sistematis terhadap negara-negara merdeka yang tidak sejalan dengan kepentingan Amerika Serikat, terutama negara-negara yang kaya sumber daya alam. Target akhirnya selalu sama: mengganti pemimpin sah dengan presiden boneka pilihan Washington.
Polanya konsisten dari masa ke masa.
Pertama, sabotase ekonomi terhadap negara sasaran. Negara yang bergantung pada impor pangan dibuat kekurangan pasokan. Supply dihambat, harga melambung, terjadi hiperinflasi, kelangkaan bahan pokok, dan akhirnya kelaparan. Nilai tukar mata uang dihancurkan terhadap dolar AS—sebagaimana terjadi di Iran dan Venezuela. Dampaknya, rakyat marah. Demonstrasi meletus. Provokator disusupkan. Kekacauan diciptakan. Teriakan “ganti rezim” menggema.
Inilah teknik klasik penindasan politik modern.
Jika angkatan bersenjata nasional masih loyal kepada kepala negara yang ditarget, maka koper-koper dolar disiapkan untuk membeli loyalitas. Bila sogokan gagal, skenario berikutnya dijalankan: invasi militer, dengan dalih membela demokrasi atau hak asasi manusia. Semua tahap ini saling terhubung dalam satu sistem operasi geopolitik yang rapi dan canggih.
Kita tidak perlu heran. Sejak berdiri pada 1776, Amerika Serikat tercatat telah melakukan sekitar 400 intervensi terhadap negara lain—artinya hampir setiap tahun AS terlibat dalam intervensi asing, dengan dalih ideologis sekaligus pragmatis.
Justifikasi ideologisnya berakar dari Doktrin Monroe (1832) oleh Presiden James Monroe, yang melarang campur tangan Eropa di benua Amerika, sekaligus membenarkan hak intervensi AS di kawasan tersebut. Doktrin ini kemudian diperluas oleh Presiden Theodore Roosevelt melalui Roosevelt Corollary (1904), yang memberikan legitimasi bagi intervensi militer Amerika jika suatu negara dianggap gagal menjaga stabilitas.
Di dalam negeri Amerika sendiri, baik Partai Demokrat maupun Republik sama-sama melegitimasi kebijakan invasi dan kudeta terhadap negara lain. Kudeta, penculikan, pembunuhan, sanksi ekonomi, hingga pemenjaraan politik digunakan untuk memaksa pergantian rezim. Fakta ini dapat dibuktikan secara empiris.
Berikut sebagian daftar pemimpin negara yang disingkirkan atau digulingkan melalui campur tangan Amerika Serikat:
- Patrice Lumumba (Republik Kongo), dibunuh setelah destabilisasi yang didukung CIA
- Sukarno (Indonesia), digulingkan setelah menolak dominasi korporasi asing
- Kwame Nkrumah (Ghana), digulingkan melalui kudeta militer yang didukung CIA
- Thomas Sankara (Burkina Faso), dibunuh dalam kudeta yang didukung kepentingan asing bersekutu dengan AS dan Prancis
- Amílcar Cabral (Guinea-Bissau), dibunuh di tengah operasi intelijen asing
- Samora Machel (Mozambik), meninggal dalam kecelakaan pesawat yang mencurigakan pada era destabilisasi Perang Dingin
- Muammar Gaddafi (Libya), digulingkan dan dibunuh setelah intervensi NATO yang dipimpin AS
- Nelson Mandela (Afrika Selatan), dipenjara setelah informasi intelijen AS diserahkan kepada rezim apartheid
- Maurice Bishop (Grenada), dieksekusi menjelang invasi AS
- Michael Manley (Jamaika), dinetralisir melalui perang ekonomi dan operasi rahasia
- Fidel Castro (Kuba), menjadi target puluhan upaya pembunuhan CIA
- Jean-Bertrand Aristide (Haiti), digulingkan dua kali dengan keterlibatan AS
- Saddam Hussein (Irak)
- Manuel Noriega (Panama)
- Nicolás Maduro (Venezuela)
Tidak hanya di luar negeri. Di dalam Amerika sendiri, tokoh-tokoh Afro-Amerika yang memperjuangkan keadilan juga menjadi korban represi negara:
- Malcolm X, dibunuh di bawah pengawasan FBI dan CIA
- Dr. Martin Luther King Jr., dibunuh saat menjadi target operasi COINTELPRO
- Fred Hampton, dibunuh dalam penggerebekan yang dikoordinasikan FBI
- Huey P. Newton, dinetralisir secara sistematis
- Assata Shakur, mengalami pemenjaraan, pengasingan, dan penindasan permanen
Dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Semua ini menunjukkan satu kesimpulan:
Perang, kudeta, dan destabilisasi bukanlah kecelakaan sejarah, melainkan instrumen utama geopolitik Amerika Serikat untuk mempertahankan hegemoni global.
Catatan:
Data dihimpun dari berbagai sumber historis dan laporan akademik internasional.
Jakarta, 29 Januari 2026


















