Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024
Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa bekas Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati sebagai saksi kasus korupsi di PT Perusahaan Gas Negara (PGN), Senin (17/3/2025).
Sebelumnya, bekas Dirut Pertamina lainnya, Karen Agustiawan menjadi terpidana 13 tahun penjara dalam kasus korupsi pengadaan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).
Sabtu (15/3/2025) lalu, KPK melakukan operasi tangkap tangan di Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, terkait kasus korupsi pemotongan anggaran proyek di Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Dari enam orang yang ditetapkan sebagai tersangka, seorang di antaranya adalah perempuan, yakni Umi Hartati, Ketua Komisi II DPRD OKU.
Itulah perempuan-perempuan kekinian dalam pusaran kasus korupsi atau rasuah, meskipun status Nicke Widyawati baru sebatas saksi.
Di luar mereka, masih banyak perempuan yang diduga terlibat kasus korupsi, baik atas inisiatifnya sendiri atau pun karena mengikuti jejak suaminya, atau dalam terminologi Jawa disebut, “swarga nunut neraka katut” (ke surga ikut ke neraka turut).
Misalnya, Ratu Atut Chosiyah, bekas Gubernur Banten. Lalu Angelina Sondakh, bekas anggota DPR RI dari Partai Demokrat. Pun, Rita Widyasari, bekas Bupati Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Lantas, Miranda Goeltom, bekas Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia, Nunun Nurbaeti, istri bekas Wakil Kapolri Adang Daradjatun, dan Helena Lim, tersangka kasus korupsi di PT Timah Tbk yang merugikan keuangan negara hingga Rp300 triliun.
Mengapa banyak perempuan berada dalam pusaran rasuah? Bukankah kodrat perempuan adalah makhluk yang berhati lembut dan teliti?
Dengan hati lembut, perempuan tak akan tega mengambil hak orang lain dengan korupsi.
Dengan sifat teliti, tak mungkin perempuan akan sembrono dengan melakukan korupsi.
Tapi, faktanya, tak sedikit perempuan yang terjebak dalam pusaran rasuah. Mengapa?
Bagi perempuan yang terlibat korupsi karena inisiatif sendiri, hal itu terjadi karena ia memegang kekuasaan, baik di eksekutif, legislatif, yudikatif atau pun swasta.
Ada adagium dari Lord Acton (1834-1902), “The power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely” (kekuasaan itu cenderung korup, kekuasaan yang absolut maka absolut pula korupsinya).
Adapun perempuan yang terlibat korupsi bukan karena inisiatifnya sendiri, biasanya ikut-ikutan suaminya yang punya kuasa, misalnya istri kepala daerah. Dalam konteks ini berlaku adagium, “swarga nunut neraka katut”.
Korupsi dan Seks
Korupsi juga sering kali terkait dengan seks. Banyak penyelenggara negara yang terlibat korupsi ternyata punya istri muda, perempuan simpanan atau “ani-ani”. Bahkan perempuan-perempuan itu digunakan untuk menampung hasil korupsi.
Ada adagium, “Perempuan memberikan seks untuk mendapatkan cinta, laki-laki memberikan cinta untuk mendapatkan seks”.
Cinta bisa diwujudkan dalam bentuk materi, baik uang atau pun barang. Sebab itu, jika dulu ada pameo, “Katakan cinta dengan bunga”, kini pameo itu menjadi, “Katakan cinta dengan bunga deposito”.
Kemudian banyak perempuan yang memanfaatkan kecantikannya untuk memikat penyelenggara negara demi mendapatkan cinta. Dengan mendapatkan cinta, maka mereka akan mendapatkan materi. Akhirnya tak sedikit penyelenggara negara melakukan korupsi demi memberikan materi kepada perempuan yang dicintainya. Ada yang kemudian dinikahi, ada pula yang hanya sebatas ani-ani.
Bagi laki-laki, banyaknya perempuan di sekelilingnya merupakan indikasi kuatnya kekuasaan atau power dia. Semakin berkuasa maka akan semakin banyak perempuan yang mengelilinginya.
Banyaknya perempuan di sekeliling seorang laki-laki juga pertanda laki-laki itu berkuasa. Makin banyak perempuan yang mengelilinginya, maka makin kuatlah kekuasaan dia.
Selain mendapatkan cinta, perempuan juga bisa memanfaatkan kecantikannya untuk mendapatkan kuasa. Cleopatra, Ratu Mesir kuno, misalnya.
Dengan kecantikannya, Cleopatra menaklukkan kaisar Romawi, Julius Caesar, dan kemudian menaklukkan jenderal Romawi, Mark Antony, sehingga ia menjadi seorang ratu yang sangat berkuasa di Mesir.
Di era modern ini, banyak politikus perempuan yang memanfaatkan kecantikannya untuk mendapat kuasa, baik sebagai kepala daerah, anggota legislatif, maupun senator. Tak sedikit perempuan terpilih sebagai pejabat publik di eksekutif dan legislatif karena kecantikannya.
Lalu ada adagium, “semakin cantik seorang perempuan maka semakin berbahaya.”
Rocky Gerung pun berkata, “Perempuan hanya indah sebagai fiksi, tapi berbahaya sebagai fakta”.
Mungkin karena itulah filsuf tersebut hingga kini belum menikah. Mungkin perempuan terlalu berbahaya di matanya.
Kini, kemblilah hai kaum perempuan ke kodratmu sebagai makhluk yang lembut dan teliti, sehingga kalian akan bisa melepaskan diri dari pusaran korupsi.




















