Jakarta – Fusilatnews – Sektor industri makanan halal, sebagai salah satu industri terbesar di dunia, memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian global. Menurut Friderica Widyasari Dewi, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perputaran ekonomi dari produk-produk industri halal di dunia mencapai Rp 36 triliun pada tahun 2023.
Friderica menjelaskan bahwa industri halal mengalami perkembangan pesat, didorong oleh populasi Muslim global yang semakin banyak membelanjakan uangnya untuk produk halal. “Perkembangan digital yang mempermudah akses informasi dan pasar turut mendukung pertumbuhan ini,” katanya.
Dalam konteks aktivitas keuangan dan perdagangan, nilai transaksi keuangan syariah pada tahun 2023 meningkat lima kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Indonesia, dengan pencapaian ini, kini menempati posisi ketiga dalam Global Islamic Economic Indicator, naik dari posisi sebelumnya yang keempat. “Ini adalah pencapaian yang sangat baik,” tambah Friderica.
Indonesia juga memimpin dalam sektor pariwisata ramah Muslim, menduduki urutan pertama berdasarkan Global Muslim Travel Index (GMTI). Selain itu, negara ini mencatatkan peringkat tinggi dalam berbagai sektor industri halal, termasuk makanan, fashion, farmasi, kosmetik, dan media.
Kiki, seorang ahli industri halal, menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara dengan konsumen makanan halal terbesar di dunia. “Dengan tingkat kesadaran masyarakat terhadap fashion halal mencapai 98 persen, serta potensi pariwisata halal kelas dunia, Indonesia menunjukkan pertumbuhan pesat dalam industri media dan rekreasi halal,” ungkapnya.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa industri halal tidak hanya memiliki dampak ekonomi yang besar tetapi juga berpotensi untuk terus berkembang dan memberikan kontribusi lebih lanjut terhadap perekonomian global.























