Jakarta, FusilamtNews — Tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dilaporkan gugur dalam dua insiden terpisah saat menjalankan misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon Selatan. Pemerintah Indonesia mengecam keras serangan tersebut dan menegaskan komitmennya terhadap perlindungan pasukan penjaga perdamaian.
Insiden pertama terjadi pada akhir Maret 2026, ketika satu prajurit TNI tewas akibat serangan di wilayah konflik. Serangan berikutnya kembali menargetkan posisi pasukan penjaga perdamaian dan menyebabkan dua prajurit lainnya gugur. Selain korban jiwa, sejumlah personel dilaporkan mengalami luka-luka dalam rangkaian serangan tersebut.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menyatakan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Pemerintah juga mendesak agar dilakukan investigasi menyeluruh serta meminta semua pihak yang terlibat konflik untuk menjamin keamanan personel PBB di lapangan.
Pasukan TNI yang tergabung dalam misi PBB di Lebanon selama ini menjalankan tugas sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas kawasan. Kehadiran mereka merupakan kontribusi Indonesia dalam misi perdamaian global di bawah mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian ini kembali menyoroti tingginya risiko yang dihadapi personel di wilayah konflik, khususnya di kawasan perbatasan Lebanon-Israel yang kerap memanas akibat eskalasi militer.
Pemerintah Indonesia menyatakan duka mendalam atas gugurnya para prajurit dan memastikan bahwa negara akan memberikan penghormatan serta dukungan penuh kepada keluarga korban.
Peristiwa ini juga memicu seruan internasional untuk meningkatkan perlindungan terhadap pasukan penjaga perdamaian, sekaligus menegaskan pentingnya deeskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang terus bergejolak.



















