FusilatNews- Pemerintah sebelumnya telah memberi sinyal kenaikan harga BBM bersubsidi. Isu yang beredar menyebut harga Pertalite naik dari Rp 7.650 per liter menjadi Rp 10.000 per liter.
Terkait hal tersebut, Irto Ginting, Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga, mengatakan pemerintah masih membahas berapa kenaikan harga Pertalite. Alhasil, pihaknya belum bisa memastikan harga terbaru yang akan dikenakan Pertalite.
“Sementara ini kami masih menunggu arahan dari pemerintah, karena penentuan harga merupakan kewenangan dari regulator,” katanya dikutip dari Kompas.com, Jumat (19/8/2022).
Para ekonom pun memperkirakan kemungkinan akan naik menjadi Rp 10.000 per liter. Kendati demikian, besaran kenaikan ini bakal berdampak pada lonjakan inflasi dan menekan pertumbuhan ekonomi.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memperkirakan harga Pertalite akan naik dari Rp7.650 per liter menjadi Rp10.000 per liter.
Bhima menuturkan dampak kenaikan BBM akan dirasakan langsung oleh masyarakat. Daya beli masyarakat bakal menurun dan mendorong bertambahnya jumlah orang miskin baru.
Daya beli masyarakat akan menurun sehingga akan meningkatkan jumlah orang miskin baru. Lantaran kondisi saat ini masyarakat dihadapkan dengan kenaikan harga pangan yang inflasinya mendekati 5 persen.
Di sisi lain, masyarakat masih belum pulih dari pandemi Covid-19, terbukti ada 11 juta lebih pekerja kehilangan pekerjaan, jam kerja dan gaji dipotong, hingga dirumahkan. “Maka kalau ditambah kenaikan harga BBM subsidi dikhawatirkan tekanan ekonomi untuk 40 persen kelompok rumah tangga terbawah akan semakin berat. Belum lagi ada 64 juta UMKM yang bergantung dari BBM subsidi,” jelas Bhima.
Menurutnya, pemerintah perlu memikirkan efek kenaikan harga Pertalite ke UMKM. Sebab pengguna BBM subsidi ini bukan hanya kendaraan pribadi, tapi juga dipakai untuk kendaraan operasional usaha kecil dan mikro.
Ia mengakui, kenaikan harga Pertalite memang akan meringankan beban APBN, mengingat anggaran subsidi dan kompensasi energi di tahun ini sudah membengkak jadi Rp 502 triliun. Namun, mengingat dampaknya yang akan dirasakan langsung ke masyarakat, pemerintah wajib meningkatkan dana belanja sosial sebagai kompensasi kepada orang miskin dan rentan miskin atas naiknya harga BBM bersubsidi. “Jadi ini ibarat hemat di kantong kanan, tapi keluar dana lebih besar di kantong kiri,” kata dia.
Senada, Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menilai harga pertalite yang santer dikabarkan dinaikkan menjadi Rp 10.000 per liter bakal memberatkan konsumen dan berdampak besar terhadap inflasi.
menurut Fahmy, daya beli masyarakat akan turun dan berimbas pada melambatnya pertumbuhan ekonomi. “Itu yang membuat Persiden Joko Widodo alias Jokowi masih bimbang dan ragu. Karena tidak ingin momentum pertumbuhan yang mencapai 5,44 persen itu terganggu dengan kenaikan harga pertalite,” katanya Kamis, 18 Agustus 2022.





















