Oleh Gate 25 Madina
Woii para KEBAL kritik! Woii para pemilik kuping imun sarkastik! Woii para pemilik jiwa brengsek, PEMBENCI jalan yang lurus! Kalian pikir negeri ini taman bermain? Atau lebih cocok disebut panti asuhan bagi kaum tak tahu malu?
Norma dulu didului sumpah berwarna putih, dioplos lalu lacur menjadi lendir-lendir di keranjang sampah, najis… brengsek! Tapi, di negeri para brengsek, siapa peduli? Keadilan hanya figuran dalam opera badut, moral hanya aksesoris di dada para munafik, dan janji tinggal gumpalan asap dari cerobong kepentingan.
Erick, Cak Imin, Airlangga, Budi Arie, Dito, Tito, PS, LBP, Sri Mulyani—kasir sakit sang teman preman, macet pun tahu kalian pernah brengsek! Kalian adalah sutradara sinetron busuk yang skenarionya ditulis dengan darah rakyat, dimainkan dengan arogansi, dan diakhiri dengan tepuk tangan oligarki.
Para brengsek komplit, duit keju eju money dan mani sekitaran liang dendeng basah yang belum kering, jauh dari kadaluarsa walau nir keramas. Lanjutkan pesta, menari di pelataran dipayungi hukum… brengsek!
Sungguh, kita berada di antara para brengsek yang dihukum oleh alam, karena terus berdiri di atas panggung tanpa mau turun. Bangsa ini dijajah oleh para badut yang memonopoli panggung sandiwara, tanpa sedikit pun rasa malu.
Lalu, sang induk para kancil, makhluk paling menggelikan, nir ijazah asli, terus telanjang dengan birama nafas bohong para brengsek. Seakan negeri ini properti warisan, seakan rakyat adalah kawanan domba yang bisa dituntun ke mana pun mereka suka.
Tapi ya sudahlah, kawan. Apa lagi yang bisa diharapkan dari republik para brengsek? Toh, mereka tetap berjaya. Toh, kita tetap jadi penonton sialan.




















