FusilatNews – Sejarah politik Indonesia pernah mencatat bahwa bangsa ini memiliki kedaulatan yang kuat dan rakyatnya mampu menunjukkan jati diri yang terhormat. Kekuatannya begitu besar hingga mampu menurunkan dua tokoh legendaris dalam sejarah Indonesia, yakni Soekarno dan Soeharto. Keduanya bukanlah pemimpin sembarangan. Soekarno adalah proklamator, pendiri bangsa, dan simbol perlawanan terhadap imperialisme. Soeharto, dengan segala kontroversinya, tetaplah seorang pemimpin yang berkuasa selama lebih dari tiga dekade. Namun, pada akhirnya, rakyat Indonesia, melalui berbagai dinamika politik dan gerakan sosial, mampu menjatuhkan mereka ketika mereka dianggap tidak lagi mewakili kepentingan bangsa.
Tidak hanya itu, dalam perjalanan demokrasi yang penuh gejolak, politisi Indonesia juga pernah menunjukkan ketegasan dan elegansi dalam mengambil keputusan penting bagi negara. Hal ini terlihat jelas ketika mereka mengajukan impeachment terhadap Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sosok yang mereka pilih sendiri melalui mekanisme demokrasi. Tanpa gentar, mereka mencopot seorang presiden yang dianggap telah melanggar batas-batas kewenangannya dan kemudian memilih Megawati Soekarnoputri sebagai penggantinya. Keputusan ini mencerminkan ketegasan politik yang berdaulat serta kedewasaan demokrasi yang sejati.
Namun, situasi saat ini tampaknya menunjukkan kemunduran yang melampaui zamannya. Demokrasi yang dulu begitu kuat kini seolah melemah di hadapan kepentingan segelintir elite politik. Ketika dulu rakyat bisa menggulingkan pemimpin yang dianggap telah menyimpang, kini mereka bahkan tidak mampu menghadapi seorang warga negara biasa yang bernama Joko Widodo (Jokowi). Seorang presiden yang seharusnya tunduk pada hukum justru terlihat kebal dari segala bentuk pertanggungjawaban. Bahkan, alih-alih mempertanyakan kebijakan dan langkah-langkah kontroversialnya, politisi yang ada justru terkesan melindungi dan membiarkan berbagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan tetap berlangsung.
Jokowi, dalam banyak hal, telah menunjukkan bagaimana kekuasaan bisa dijalankan dengan cara-cara yang membahayakan demokrasi. Kejahatan politik dan kebijakan yang berpihak pada oligarki telah menjadi ciri khas pemerintahannya. Dari intervensi dalam sistem hukum, upaya melanggengkan dinasti politik, hingga memanfaatkan aparat negara untuk membungkam kritik, semua ini menunjukkan kemunduran yang nyata. Ironisnya, rakyat dan politisi yang dulu mampu menjatuhkan pemimpin kuat kini seolah kehilangan daya untuk menghadapi seorang individu yang semestinya hanya seorang warga negara biasa setelah jabatannya usai.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa demokrasi di Indonesia tidak sedang berkembang, melainkan mengalami regresi. Rakyat yang dulu berani kini lebih banyak diam, sementara politisi yang dulu tegas kini hanya menjadi alat kepentingan oligarki. Jika hal ini terus dibiarkan, Indonesia bukan hanya kehilangan kedaulatannya, tetapi juga kehilangan jati diri sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. Sejarah telah membuktikan bahwa rakyat Indonesia bisa bangkit dan melawan ketidakadilan. Pertanyaannya, apakah mereka masih memiliki keberanian itu?




















