Jakarta, 4/06/22 (FusilatNews)- Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani menyebutkan dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor energi, PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) mengalami kerugian dalam jumlah cukup besar. Kondisi itu tak terlepas dari lonjakan harga komoditas energi, yakni batu bara dan minyak mentah yang jadi bahan baku produksi kedua BUMN tersebut.
“Untuk Pertamina tadi kita lihat arus kas defisitnya estimasinya mencapai 12,98 miliar dolar AS (Rp191,2 triliun),” kata Sri Mulyani dalam Rapat Kerja (Raker) dengan Banggar DPR RI, Kamis, 19 Mei 2022.
Ekonom senior, Rizal Ramli menyoroti kerugian besar yang perusahaan pelat merah itu menurutnya sangat aneh perusahaan pertamina rugi disaat petronas untung.
Rizal Ramli juga membandingkan dengan Petronas, Pertamina-nya Malaysia, berhasil mereguk keuntungan hingga Rp853,6 triliun sepanjang 2021. Padahal, harga BBM di Malaysia lebih murah ketimbang Indonesia.
“Kok bisa Pertamina rugi Rp 191 Trillun, tapi Petronas untung Rp 853 Trilliun 2021 ? Padahal harga BBM di Malaysia lebih murah dari di Indonesia ? Ahok memang bacot gede ? Nieke piye ? Dikutip dari akun twitter @RamliRizal, Sabtu (4/6/2022).
Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengakui Pertamina belum menjual bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi sesuai dengan harga keekonomiannya. Pertamina terhitung masih rugi untuk penjualan beberapa produknya, Kendati demikian ia optimis pertamina bisa untung.
“Tetap harus selalu optimistis,” ujar Ahok saat dihubungi melalui pesan pendek, dikutip tempo.co Jumat, 3 Juni 2022.
Ahok menjelaskan Pertamina kini menjual rugi Pertamax untuk menutup selisih gap harga minyak mentah dan harga jualnya ke konsumen. Selisih itu sekitar Rp 2.165 per liter.
Berita Update Lainnya Ikuti Kami Di Google News

























