• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

PETANI GUREM: TERJEBAK DI TANAH SENDIRI

Ir Entang Sastraatmaja by Ir Entang Sastraatmaja
December 18, 2025
in Feature, Profesi
0
Nilai Tukar Petani 124,36: Angka Indah, Realita Masih Retak
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Entang Sastraatmadja

Petani berlahan sempit—atau yang lebih dikenal sebagai petani gurem—adalah kelompok petani dengan kepemilikan lahan sangat terbatas. Rata-rata luas lahan yang mereka kelola hanya sekitar 0,25 hektar, bahkan banyak yang kurang dari itu. Kondisi ini secara langsung membatasi kemampuan mereka untuk meningkatkan produksi, pendapatan, dan pada akhirnya kesejahteraan hidup.

Lahan yang sempit membuat petani gurem berada dalam posisi serba sulit. Produktivitas rendah menjadi konsekuensi logis karena skala usaha yang tidak ekonomis. Ketergantungan pada musim tanam pun tak terelakkan; sebagian besar hanya mampu menanam satu kali dalam setahun. Ketika cuaca tak bersahabat, kegagalan panen berarti hilangnya satu-satunya sumber penghidupan.

Masalah lain yang tak kalah serius adalah terbatasnya akses ke pasar. Banyak petani gurem terpaksa menjual hasil panen melalui tengkulak dengan harga yang jauh dari layak, karena tidak memiliki akses langsung ke pasar yang lebih adil dan kompetitif. Dalam kondisi seperti ini, petani bukan hanya produsen pangan, tetapi juga korban dari sistem yang timpang.

Gambaran tersebut menjadikan petani berlahan sempit sebagai salah satu kelompok masyarakat paling rentan di negeri ini—kelompok yang seharusnya mendapat perhatian khusus dan berkelanjutan dari negara.

Kesejahteraan yang Masih Jauh dari Layak

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan petani berlahan sempit di Indonesia masih relatif rendah. Penghasilan mereka di banyak daerah bahkan berada di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Keterbatasan ekonomi ini berdampak luas pada aspek kehidupan lainnya.

Akses terhadap layanan kesehatan masih minim. Demikian pula dengan akses pendidikan yang layak bagi anak-anak petani gurem, yang kerap terpaksa mengorbankan masa depan demi membantu orang tua bertahan hidup. Infrastruktur dasar seperti jalan usaha tani, irigasi, dan listrik juga sering kali tidak memadai, sehingga memperparah keterisolasian mereka.

Upaya Pemerintah: Ada, Tapi Belum Menyentuh Akar Masalah

Pemerintah sejatinya telah meluncurkan berbagai program untuk meningkatkan kesejahteraan petani berlahan sempit, mulai dari bantuan sosial seperti BLT dan Program Keluarga Harapan (PKH), hingga program peningkatan produktivitas pertanian dan perluasan akses pasar.

Namun, berdasarkan pengamatan di lapangan, berbagai program tersebut kerap bersifat sementara dan belum menyentuh akar persoalan. Petani berlahan sempit masih saja terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan yang berulang: lahan sempit, produksi rendah, pendapatan kecil, lalu kembali pada keterbatasan modal dan akses.

Memutus Lingkaran Setan Kemiskinan

Untuk mengubah nasib petani berlahan sempit, diperlukan langkah yang lebih struktural dan berkelanjutan. Beberapa upaya yang mendesak untuk dilakukan antara lain:

Pertama, peningkatan akses terhadap sumber daya, termasuk lahan, air, dan permodalan yang terjangkau.

Kedua, akses terhadap teknologi pertanian yang sesuai dengan skala usaha petani kecil, agar produktivitas dapat ditingkatkan tanpa membebani mereka.

Ketiga, pembukaan akses pasar yang adil, sehingga petani dapat menjual hasil panen dengan harga yang wajar dan menguntungkan.

Keempat, peningkatan pendidikan dan pelatihan, agar petani berlahan sempit memiliki keterampilan, pengetahuan, dan daya tawar yang lebih baik dalam sistem pertanian modern.

Petani gurem bukan beban negara. Mereka adalah penyangga ketahanan pangan yang selama ini bekerja dalam sunyi. Sudah saatnya nasib mereka diubah, bukan sekadar dibantu sesaat, tetapi diberdayakan secara sungguh-sungguh.

Semoga tulisan ini menjadi percik permenungan bersama.

(Penulis adalah Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

KPK Rampungkan Penyidikan Kasus Pemerasan Sertifikasi K3, Eks Wamenaker Noel Segera Disidangkan

Next Post

Kepemimpinan Inferiority Complex: Kritik atas Respons Pemerintah terhadap Bencana Sumatera

Ir Entang Sastraatmaja

Ir Entang Sastraatmaja

Related Posts

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?
Feature

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026
Feature

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026
Feature

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026
Next Post
Kepemimpinan Inferiority Complex: Kritik atas Respons Pemerintah terhadap Bencana Sumatera

Kepemimpinan Inferiority Complex: Kritik atas Respons Pemerintah terhadap Bencana Sumatera

Dari Simbol ke Substansi: Menampilkan Pribadi Muslim di Era Kecerdasan Intelektual

Dari Simbol ke Substansi: Menampilkan Pribadi Muslim di Era Kecerdasan Intelektual

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

by Karyudi Sutajah Putra
April 27, 2026
0

Jakarta - Untuk kelima kalinya sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Oktober 2024, Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan...

Read more
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

April 28, 2026
Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026
Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL dari Belakang

Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL dari Belakang

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet “4L”

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

April 28, 2026
Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...