Fusiltnews – Banyak orang datang ke Rakernas I PDI-P di Ancol dengan satu ekspektasi: menunggu pidato politik. Menunggu sinyal koalisi. Menunggu arah kekuasaan. Menunggu strategi menghadapi Pemilu 2029. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri membuka panggung bukan dengan kalkulasi elektoral, melainkan dengan lanskap yang jauh lebih luas—kemanusiaan, lingkungan, dan persahabatan antarbangsa.
Pengamat politik dan aktivis Rocky Gerung mengaku menikmati momen itu. Bagi Rocky, ada keunikan yang jarang muncul dalam forum politik praktis. Megawati, kata dia, seolah sengaja menunda godaan bicara kekuasaan, dan memilih terlebih dahulu menegaskan apa yang lebih mendasar: nilai-nilai peradaban.
“Ada hal yang unik tadi. Anda pasti menunggu Ibu Megawati ucapkan pidato politik atau isu politik, tapi beliau menganggap ada yang lebih penting itu soal kemanusiaan, soal lingkungan, soal persahabatan,” ujar Rocky di lokasi Rakernas. Ia menilai, kemampuan Megawati mengambil isu-isu yang menjadi kegelisahan generasi hari ini—isu milenial—menunjukkan insting ideologis yang masih bekerja di tengah rutinitas partai.
Pidato itu dimulai dari panggung global. Venezuela, kedaulatan negara, larangan satu negara adikuasa mencaplok dan memimpin negara lain. Sebuah pengantar yang jarang terdengar di forum partai domestik. Bagi Rocky, langkah itu menandai konsistensi sikap Indonesia—dan PDI-P—dalam menolak imperialisme. Ada pesan bahwa politik nasional tidak bisa dilepaskan dari turbulensi geopolitik dunia.
Lalu Megawati bergerak ke isu yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: perubahan iklim dan etika lingkungan. Bukan sekadar bicara teknis pembangunan hijau, tetapi tentang tanggung jawab moral menjaga kehidupan. Rocky menyebut penekanan pada climate change dan climate strike itu sebagai bagian paling tajam dalam pidato. Sebuah sinyal bahwa agenda perlindungan hidup ditempatkan sebagai visi jangka panjang, bukan sekadar program sektoral.
Namun bagian yang dianggap Rocky paling penting adalah penegasan soal human solidarity—solidaritas kemanusiaan. Persahabatan antar manusia diposisikan sebagai fondasi peradaban, sekaligus tugas ideologis kader PDI-P. Di sini, pidato tidak lagi sekadar instruksi partai, tetapi ajakan etis: bahwa politik seharusnya merawat martabat manusia.
Dalam konteks politik Indonesia yang kerap bising oleh transaksi dan pragmatisme, pilihan Megawati untuk menempatkan kemanusiaan sebagai pembuka arah politik partai menjadi pesan tersendiri. Seolah ada peringatan: sebelum bicara kursi, bicaralah dulu nilai. Sebelum menyusun strategi kekuasaan, susun dulu orientasi moralnya.
Rocky Gerung membaca momen itu bukan sekadar sebagai pidato seremonial, melainkan sebagai pernyataan arah. Bahwa PDI-P ingin menampilkan wajah politik yang tidak hanya bertarung di kotak suara, tetapi juga di medan ide dan etika. Apakah pesan ini akan konsisten diterjemahkan dalam praktik politik sehari-hari, tentu masih akan diuji waktu. Tetapi setidaknya, Rakernas ini membuka satu babak: bahwa politik bisa—dan seharusnya—berangkat dari kemanusiaan.
Dan mungkin, di situlah letak keunikan pidato Megawati kali ini. Ia tidak langsung menawarkan jawaban atas pertanyaan kekuasaan. Ia justru mengingatkan ulang: mengapa kekuasaan itu seharusnya diperjuangkan.


























