• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Pilihan: Cinta Allah atau Tanah Air?

fusilat by fusilat
May 4, 2026
in Feature
0
Share on FacebookShare on Twitter

By Paman BED

Dunia sempat menoleh—setidaknya di kalangan riset telekomunikasi—ketika seorang putra Kediri, Jawa Timur, menembus panggung akademik global. Namanya Khoirul Anwar. Lahir dari keluarga sederhana, ia menempuh pendidikan di ITB lalu melanjutkan studi di Jepang, hingga dikenal melalui kontribusinya pada teknik fast Fourier transform (FFT) yang meningkatkan efisiensi transmisi data nirkabel—sebuah komponen penting dalam evolusi standar komunikasi seluler generasi keempat (4G).
Namun di balik capaian itu, muncul pertanyaan klasik:
“Mengapa harus di luar negeri? Di mana nasionalismenya?”
Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi berangkat dari asumsi yang keliru: seolah-olah cinta tanah air hanya sah jika diwujudkan secara geografis. Dalam dunia yang saling terhubung, kontribusi tidak lagi tunduk pada batas koordinat.

Nasionalisme tidak selalu berarti tinggal di dalam negeri, terutama ketika ekosistem domestik belum sepenuhnya mampu mengonversi potensi menjadi inovasi. Dalam konteks riset modern, kualitas output ditentukan oleh tiga faktor utama: pendanaan, infrastruktur, dan jejaring kolaborasi global. Ketika salah satunya timpang, mobilitas ilmuwan menjadi konsekuensi rasional.
Data dari World Bank dan UNESCO menunjukkan bahwa belanja riset Indonesia masih berada di kisaran 0,2–0,3% PDB, tertinggal jauh dari:
Korea Selatan (~4,5%)
Amerika Serikat (~3%)
China (~2,4%)

Kesenjangan ini bukan sekadar angka; ia mencerminkan kapasitas negara dalam mengubah ide menjadi inovasi. Maka, ketika seorang ilmuwan memilih ekosistem yang lebih siap, itu bukanlah pengingkaran, melainkan optimalisasi amanah intelektual.

Antara Sajadah, Laboratorium, dan Amanah
Di sinilah perspektif spiritual memberi kedalaman: keputusan rasional dalam ilmu pengetahuan tidak harus bertentangan dengan nilai keimanan.
Wahyu pertama, “Iqra’ bismi Rabbikalladzi khalaq” (QS. Al-Alaq: 1), tidak hanya berbicara tentang teks, tetapi juga konteks—membaca semesta, hukum alam, dan realitas empiris.

Ayat ini menemukan relevansinya di laboratorium, bukan hanya di ruang ibadah.
Al-Qur’an juga menegaskan:
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…” (QS. Al-Anfal: 60).

Dalam konteks modern, “kekuatan” menjelma menjadi penguasaan teknologi: spektrum frekuensi, kecerdasan buatan, energi, dan sistem komunikasi. Di sinilah ilmu pengetahuan menjadi bagian dari fardhu kifayah, sebagaimana ditegaskan dalam Ihya Ulum al-Din—bahwa ilmu yang menopang kehidupan manusia adalah kewajiban kolektif.

Otoritas Dunia, Integritas Ilmuwan
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Antum a’lamu bi umuri dunyakum” (HR. Muslim).
Hadits ini menegaskan otonomi keilmuan: ruang bagi eksperimen, inovasi, dan pengembangan teknologi. Dalam kerangka ini, pilihan Khoirul Anwar untuk berkarya di Jepang dapat dibaca sebagai upaya menjaga maqashid syariah: melindungi akal dan nilai ekonomi ilmu pengetahuan—sejalan dengan pemikiran Asy-Syathibi dalam Al-Muwafaqat.

Dari Narasi Moral ke Realitas Kebijakan
Namun pembenaran moral saja tidak cukup. Persoalan utama Indonesia bukan kekurangan talenta, melainkan lemahnya sistem yang menopang mereka.

Tiga masalah struktural yang menonjol:
* Fragmentasi riset
* Rendahnya komersialisasi paten
* Keterputusan antara akademia dan industri
Sebagai pembanding konkret, China menjalankan strategi brain circulation secara sistematis selama tiga dekade terakhir. Negara ini tidak hanya mengirim mahasiswa ke Amerika Serikat, tetapi juga membangun ekosistem penarik pulang.
Institusi seperti Tsinghua University menjadi pusat pengembangan talenta global, sementara perusahaan seperti Huawei menjadi wahana hilirisasi inovasi dari riset ke industri.
Program seperti Thousand Talents Plan secara aktif merekrut ilmuwan diaspora untuk kembali atau berkontribusi dari luar negeri. Hasilnya terlihat jelas: transformasi China dari basis manufaktur menjadi kekuatan inovasi global.
Sebagaimana disampaikan oleh Xi Jinping:
“Innovation is the primary driving force for development.”
Pernyataan ini bukan slogan, tetapi arah kebijakan yang konsisten dijalankan.

Kesimpulan
Cinta kepada Allah dan cinta kepada tanah air bukanlah dua kutub yang harus dipertentangkan. Keduanya bertemu dalam satu titik: amanah peradaban.
Nasionalisme tidak diukur dari lokasi fisik, tetapi dari kontribusi nyata. Seorang ilmuwan yang berkarya di luar negeri, namun memberi manfaat bagi bangsanya, tetap berada dalam orbit pengabdian.

Saran (Rekomendasi Strategis Berbasis Sistem)
1. Insentif Riset Berbasis Dampak
Perluasan super tax deduction hingga 300% untuk investasi R&D
Skema output-based funding berbasis paten terkomersialisasi
2. Diaspora Policy (Brain Circulation)
Global Indonesian Research Network
Skema dual affiliation
Program reverse sabbatical
3. Sovereign Patent Strategy
Pembentukan sovereign patent fund
Integrasi paten dengan BUMN
Fokus sektor strategis
4. Reformasi Tata Kelola
One-stop digital research system
Pengurangan beban administratif
5. Ekosistem Hilirisasi
Science-tech park berbasis industri
Kemitraan wajib universitas–industri

Penutup
Peradaban tidak lahir dari satu ruang. Ia tumbuh dari hati yang bersujud, lalu diwujudkan oleh akal yang bekerja.

Di mana pun seorang anak bangsa berpijak, selama ia membawa nilai dan memberi manfaat, di sanalah nasionalisme menemukan maknanya yang paling otentik.
Bukan pada tempatnya—tetapi pada kontribusinya.

Referensi
* World Bank – R&D Expenditure Data
* UNESCO – Global Science Report
* OECD – Innovation Statistics
* Tsinghua University – Global Ranking & Research Output
* Huawei – Innovation & R&D Reports
* Kebijakan diaspora China (Thousand Talents Plan)
* Pernyataan Xi Jinping tentang inovasi
* Al-Qur’an & Hadits
* Ihya Ulum al-Din
* Al-Muwafaqat

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Paradoks Investasi: Ketika yang Datang Disambut, yang Ada Ditinggalkan

Next Post

Gula Darah, Stres, dan Beban Negara: Ketika Ekonomi Menekan Tubuh Purbaya

fusilat

fusilat

Related Posts

“Bacot” KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan
Birokrasi

“Bacot” KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan

May 15, 2026
Dulu Negara Menontonkan Mimpi, Kini Rakyat Menonton Kegagalan
Feature

Dulu Negara Menontonkan Mimpi, Kini Rakyat Menonton Kegagalan

May 15, 2026
Dari Jalanan ke Kursi Kekuasaan: Ketika Aktivis Menjadi Peredam Demokrasi
Feature

Dari Jalanan ke Kursi Kekuasaan: Ketika Aktivis Menjadi Peredam Demokrasi

May 15, 2026
Next Post
Kacau Komunikasi Dua Menteri, APBN Jadi Korban Ketidaktertiban Birokrasi

Gula Darah, Stres, dan Beban Negara: Ketika Ekonomi Menekan Tubuh Purbaya

Penegak Hukum Didesak Tidak Tajam Ke Lawan Penguasa, Tumpul ke Sekutu Penguasa

Prabowo Teken Perpres, Tunjangan Hakim Ad Hoc Kini Minimal Rp49,3 Juta

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Putusan MK tentang Presidential Threshold adalah Tragedi Demokrasi
Feature

Film Itu Karya Fiksi, Prof Yusril!

by Karyudi Sutajah Putra
May 15, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Menteri Koordinator Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi...

Read more
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

May 13, 2026
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
KAHMI Dukung Iran, Singgung Dukungan Prabowo terhadap BoP

KAHMI Dukung Iran, Singgung Dukungan Prabowo terhadap BoP

May 15, 2026
“Bacot” KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan

“Bacot” KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan

May 15, 2026
Dulu Negara Menontonkan Mimpi, Kini Rakyat Menonton Kegagalan

Dulu Negara Menontonkan Mimpi, Kini Rakyat Menonton Kegagalan

May 15, 2026
Dari Jalanan ke Kursi Kekuasaan: Ketika Aktivis Menjadi Peredam Demokrasi

Dari Jalanan ke Kursi Kekuasaan: Ketika Aktivis Menjadi Peredam Demokrasi

May 15, 2026
Svara Mandiri Tampil di Jepang, Bawakan Angklung dalam Ajang Promosi Budaya Indonesia-Jepang

Svara Mandiri Tampil di Jepang, Bawakan Angklung dalam Ajang Promosi Budaya Indonesia-Jepang

May 15, 2026
Putusan MK tentang Presidential Threshold adalah Tragedi Demokrasi

Film Itu Karya Fiksi, Prof Yusril!

May 15, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

KAHMI Dukung Iran, Singgung Dukungan Prabowo terhadap BoP

KAHMI Dukung Iran, Singgung Dukungan Prabowo terhadap BoP

May 15, 2026
“Bacot” KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan

“Bacot” KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan

May 15, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...