Disitulah, lalu analisis, merambah mencari penyebab sejumlah orang yang meninggal itu.Mati terinjak-injak. Mati lemas. Pintu terkunci.Satu lagi Polisi menembakan Gas Air Mata ke arah tribune.
Tragedi yang tak dapat dimengerti – begitu yang disampaikan oleh Presiden FIFA Gianni Infantino, menanggapi bencana di Kajuruhan.
Pidato singkatnya, beliau mengatakan:
Penghormatan kepada mereka yang kehilangan nyawa di Stadion Kanjuruhan Malang, Indonesia. Infantino menyebut kematian di stadion sebagai “hari gelap bagi semua yang terlibat dalam sepak bola dan tragedi di luar pemahaman”.
Jumlah korban yang meninggal pada peristiwa Kanjuruhan, diberitakan antara 123 orang hingga 174 orang. Itu yang ditulis oleh banyak media asing, yang memberitakan dan mengupas perisitiwa tragedi pertandingan Arema vs Persebaya. Angka kematian yang angkanya spektakuler, menjadi perhatian para pengamat bola dunia, yang teramat serius. Karena itu, berbagai video yang beredar diantara mereka, melengkapi sebagai saksi dalam setiap kupasan pemberitaannya.
Rasa simpati penggemar Bayen Munchen, mengunkapkan kekesalannya dengan menuding penyebabnya, yaitu Polisi. Mereka membentangkan spanduknya yg menulis “100 people killed by the police”.. Memang tidak bisa disangkal, bahwa ketidak hadiran public club Persebaya, di Malang, menyebabkan tidak ada konflik antar kedua fans club tersebut. Kasat mata, Gas Air Matalah penyebab kematian tersebut.
Disitulah, lalu para analisis, mencari tahu penyebabnya, kemudian menyimpulkan, apa sebanynya sejumlah orang yang meninggal itu; Mati terinjak-injak. Mati lemas. Pintu terkunci. Satu lagi Polisi menembakan Gas Air Mata ke arah tribune.
Terkahir, laporan Tempo menurunkan berita; “Temuan Kompolnas menyebutkan, ada polisi yang bersenjata gas air mata masuk ke stadion 5-10 menit sebelum pertandingan berakhir. Siapa yang memerintahkan pasukan menembakkan gas air mata dalam tragedi di Kanjuruhan?”
Bahkan Washington Post menurunkan berita yang membuat orang terenyuh “Many children died in Indonesia’s stadium disaster. Her 3-year-old was one.” Judul berita seperti ini, pasti diserbu pembaca, karena memilukan hati dan aneh.
Time memberi judul, yang sangat mempermalukan Indonesia; “Seperti Tragedi Kanjuruhan, Indonesia Belum Menyelesaikan Masalah Kekerasan Sepak Bola yang Sudah terlalu Lama” Hilangnya sedikitnya 125 nyawa pada pertandingan sepak bola Indonesia hari Sabtu telah membuka kembali sejarah bermasalah bangsa Asia Tenggara dengan olahraga.
Sepak bola Indonesia telah diganggu selama beberapa dekade oleh persaingan antar klub yang terkadang bisa mematikan. Menurut data dari pengawas olahraga Indonesia Save Our Soccer, dikutip oleh Associated Press, setidaknya 78 pendukung sepak bola tewas di Indonesia antara 1995 sampai tragedi Sabtu yang lalu di Stadion Kanjuruhan di Jawa Timur.
Banyak lagi yang terluka. Bencana terbaru, yang terjadi pada pertandingan antara klub sepak bola Arema FC dan Persebaya Surabaya, saja menyebabkan sekitar 300 orang terluka.
Pernyataan Polisi seperti ini; “Polisi mengatakan pendukung kerusuhan menyerang pemain dan ofisial tim, dan polisi berusaha melindungi para pemain dan menghentikan kerusuhan, namun massa bentrok dengan aparat keamanan. Sebagai tanggapan, unit polisi anti huru hara mengerahkan gas air mata, yang memicu mereka yang panik saling injak-menginjak di stadion Kanjuruhan, yang mencoba melarikan diri dari efek gas itu. Kepanikan terakumulasi di pintu keluar yang terkunci, mengakibatkan penggemar kemudian sesak napas.
“Saya masih bisa mendengar suara anak-anak memanggil ibu mereka,” kata Bima Andhika, 25, yang lolos dari injakan maut itu, dengan saudara perempuannya yang berusia 14 tahun. Pamannya dan tiga tetangganya juga termasuk di antara yang tewas, katanya.
Saksi lain, Rezqi, akhirnya berhasil keluar dari stadion. Dia terkejut dengan apa yang dilihatnya. Orang-orang pingsan di tanah, beberapa dari mereka berlumuran darah. Penonton lain marah dan membakar mobil polisi.
“Saya mengira sebuah insiden akan terjadi. Saya tahu risikonya,” kata Rezqi. Namun, dia mengatakan tidak pernah berfikir episode yang parah dengan jumlah kematian yang begitu tinggi akan terjadi. “Ini di luar pemahaman saya,” tambahnya.
Muhammad Iqbal, 17, terlindas setelah jatuh dari tangga. Dia mengalami luka di kaki, perut, dan dadanya saat orang-orang berusaha melewatinya. Matanya juga terasa perih dan berdarah oleh gas yang ditembakkan polisi, katanya.
“Saya siap mati di sana. Saya pikir pasti saya tidak akan pernah bisa keluar, ”kata Iqbal, yang bekerja sebagai penjual makanan. “Mengapa mereka menembaki orang yang tidak bersalah?”
Daniel Alexander Siagian, koordinator LBH Surabaya cabang Malang, mengatakan ada “penggunaan kekuatan yang berlebihan” dan aturan pengendalian massa tampaknya telah dilanggar. Berdasarkan video yang muncul dari pertandingan itu, dia juga mempertanyakan mengapa anggota militer tampak hadir di arena.
“Pihak berwenang tidak mengikuti prosedur yang jelas, seperti mengeluarkan peringatan terlebih dahulu atau menggunakan meriam air,” katanya kepada The Washington Post. “Mereka baru saja mulai menembakkan gas air mata.”
Amnesty International menyerukan penyelidikan segera atas tanggapan polisi, mengungkapkan keprihatinan atas penggunaan gas air mata.
“Sayangnya polisi Indonesia memiliki rekam jejak panjang dalam penggunaan kekuatan yang berlebihan,” kata Usman Hamid, direktur eksekutif kantor Amnesty Indonesia.
Dari berbagai sumber Luar Negeri


























