Jakarta-Fusilatnews— 29 Agustus 2025. – Media internasional menyoroti insiden tewasnya seorang pengemudi ojek online (ojol) yang tertabrak kendaraan lapis baja polisi di sekitar kompleks parlemen Jakarta, Kamis (28/8) malam. Peristiwa itu terjadi ketika aparat membubarkan massa aksi yang menolak tunjangan mewah anggota DPR.
Menurut laporan Reuters, Kapolda Metro Jaya meminta maaf atas kejadian tersebut dan menegaskan tujuh personel kepolisian yang mengoperasikan kendaraan sudah ditahan untuk penyelidikan internal. Polisi menyebut korban bukan bagian dari demonstran. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta menyerukan pembebasan sekitar 600 orang yang ditahan selama rangkaian unjuk rasa.
Associated Press (AP) memberitakan bahwa aksi penolakan tunjangan DPR sebenarnya sudah berlangsung sejak 25 Agustus. Ribuan mahasiswa saat itu berhadapan dengan polisi antihuru-hara yang menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. AP menyoroti bahwa protes dipicu tunjangan perumahan sebesar Rp50 juta per bulan yang dianggap kontras dengan kondisi ekonomi rakyat.
Sementara itu, The Guardian dan Al Jazeera menekankan bahwa gelombang protes merefleksikan ketidakpuasan yang lebih luas terhadap ketimpangan sosial dan kebijakan penghematan di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Mereka menggambarkan bentrokan dengan aparat sebagai puncak dari kemarahan publik atas “privilese elit politik” yang dinilai berlebihan.
Dari Australia, The Australian menyebut korban bernama Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojol yang kebetulan melintas di lokasi saat bentrokan terjadi. Media ini juga menyoroti pernyataan resmi polisi yang mengakui kesalahan dan menahan tujuh personel terkait kasus ini.
Sejumlah media asing sepakat bahwa insiden tersebut menjadi titik balik dari aksi menolak tunjangan DPR menjadi sorotan lebih luas soal akuntabilitas aparat. Fokus pemberitaan kini bergeser pada standar penggunaan kekuatan oleh polisi dan perlindungan warga sipil di tengah unjuk rasa.
Daftar bacaan sumber asing yang relevan

























