By Damai Hari Lubis-Pengamat Hukum & Politik Mujahid 212
Jika benar, Jokowi adalah Petugas Partai dan tulus ingin berterimakasih kepada Megawati dan seluruh kader-kader PDIP; oleh sebab historis politik, fakta yuridis, Jokowi telah dilantik sebagai Presiden 2 kali (2014-2019 dan 2019-2024), karena tangan dingin Megawati dan PDIP. Sejatinya balasan kontas dari Jokowi kepada Megawati, yang telah lama menyiapkan Puan anak biologisnya sebagai suksesi Presiden RI 2024-2029.
Apa yang terjadi ? “Non Sense. Tidak masuk akal. Jokowi justru melakukan acrobat politik, sebagai lex specialist promotor orbitkan Ganjar Pranowo”. Walau Ganjar realitasnya gubernur nihilis (tidak tercatat record prestasinya) dalam berbgai sektor pembangunan, terutama ekonomi, di propisni Jawa Tengah. Kini “Ganjar wara wiri, seolah tak peduli dengan berbagai persoalan propinsi Jawa Tengah, seperti Kota Semarang yang sedang tenggelam oleh rob, dan angka kemiskinan yang masih tinggi. Nampaknya diizinkan oleh Mendagri Tito karena atas perintah Jokowi “.
Megawati dan pengikut setianya bergeming, termasuk tokoh PDIP Trymedia Panjaitan, yang muak (dibaca : mendiskreditkan Ganjar) karena fakta perilaku Ganjar yang “serampangan oleh sebab merasa dikawal oleh Jokowi”. Sungguh kentara “Jokowi ambigu, seperti kelihatan serba salah tentang penerapan metode untuk menyelamatkan dirinya, keluarga serta kroni para naga konglomerat (oligarkin) yang samar-samar dimata publik”.
Lagi-lagi, luar biasa balasan dari Megawati, walau publik dan massa PDIP termasuk banyak tokoh – tokohnya, diyakini kebingungan, atas dasar dan pertimbangan politik apa, atau naga oligarki mana yang dapat mendikte Megawati, karena kenyataannya Megawati sampai mengorbankan anaknya Puan, untuk merelakan Ganjar menjadi Capres, karena semata-mata Megawati mengikuti isyarat perintah Jokowi dengan sinyal, “yang pantas jadi presiden adalah yang rambutnya putih semua”. Mega rela demi tunjukan care rasa-sayangnya kepada Jokowi, memutuskan di Batu Tulis, Bogor, “Ganjar adalah Capres PDIP. Di Tahun 2024″.
Bahkan ketika Tito malah menyematkan Ganjar sebagai Gubernur terbaik atas perintah Jokowi. “Mega dan Trimedia dan kawan – kawan pun nyata terbungkam”.
Seiring dengan dinamika yang berkembang saat ini, akankah terjadi Jokowi meminta Megawati dan seluruh slagorde PDIP, untuk hijrah dukungan atau memaksa agar Prabowo Subianto menjadi Capres, lalu mendudukan Ganjar yang sebelumnya adalah atas saran perintah Jokowi dikukuhkan oleh Megawati sebagai Capres agar digeser menjadi Cawapresnya PS?
Sulit ditebak. Hal itu bisa saja terjadi, jika Anies Baswedan yang dikagumi publik baik kawan maupun lawan, karena tipikal karakteristik dan leadership, berikut perangkat bukti hasil karyanya saat menjadi Gubernur DKI. Jakarta (2017-2022), menjadi ancaman yang serious terhadap Pilpres 24 nanti. Anies banyak ditakuti lawan yang berpraduga, “Anies punya visi membawa perubahan dari politik kotor kontemporer”.
Adapun Jokowi kini ” sudah mulai mendorong dan mengarahkan Mega agar kembali menuruti kehendakanya, berupa manufer politik di Kota Solo, kampung halamannya, melalui fenomena & dinamika politik ” sukarelawan Gibran dan sukarelawan Jokowi menyampaikan sikap dukungan untuk Capres Prabowo Subianto “.
Kini publik sulit menduga, ” tekanan ekstra apa yang dapat merubah sikap Jokowi yang ditampakannya melalui geliat politik di Kota Solo ? ” . Lalu apakah Mega dan para senioren politik PDIP akan mendiamkan perkembangan manufer politik Jokowi?. Kemudian andai kembali diubah penetapan capres Batu Tulis, Bogor? Lalu nyatanya, diterima, dikukuhkan kemudian disahkan oleh Megawati Pasangan PS-Ganjar, atau PS dan Puan? Publik cukup wait and see.
Lalu apakah tak terpikirkan oleh Megawati dan para tokoh pendamping setia Megawati sejak meruntuhkan dinasti Orba, ” terhadap gejala-gejala perilaku Jokowi selama ini, termasuk ‘nekat diamnya Jokowi terhadap tuduhan banyak publik terkait keabsahan ijasah S.1 nya’, dan jika dikomparasi kenekadan kepribadian (adab dan moralitas) Jokowi yang transparan lainya?’
Bukankah bisa saja kelak dirinya dan atau Ganjar merampas kursi Ketua Umum PDIP? Data empirik menunjukkan, apa yang Jokowi kehendaki, walau dengan cara berbohong serta inkonsitusional, terhadap janji sosial atau kontrak sosial yang Ia sampaikan, nyata dan transparan Jokowi abaikan. Terhadap pengabaian yang dirinya lakukan, Jokowi tetap not care, berkesan acuh beibeh, masa bodo atau whatever will be will be ! “
Sejarah tentunya sedang menunggu nasib suksesi pemerintahan Jokowi dan terhadap Jokowi sendiri, juga termasuk partai PDIP. Kedepannya melaui anak tangga entah yang keberapa ditahun depan 2024 Masehi.
Dan kesemuanya tentu inklud serta absolut terkait nasib Anies dan Pencapresan dirinya oleh KPP/ Koalisi Partai Politik Untuk Perubahan, APAKAH AKAN BERJALAN MULUS SESUAI KONSTITUSI atau Anies Baswedan, seiring dengan beberapa fenomena telanjang, diikuti bebapa faktor dinamika dengan segala macam gejala obstruksi dan segala barrier (sumbatan) pencapresan terhadap dirinya.
Jika nyata dihambat namun bias dari konstitusi, akankah Anies dan simpatisannya termasuk para ulama kondang tanah air berikut jamaahnya dan aktivis yang ada dan saat ini nampak siap dibelakangnya definitif bangkit melawan?
Kembali Indonesian History book yang kelak dapat membuktikan betapa banyaknya CATATAN CACATAN HITAM REZIM NOW atau justru sebaliknya ? History Books memuat episode catatan – catatan manis berseri atau berkelanjutan terhadap eksistensi rezim saat ini ?
Wallahu’alam, yang jelas patut diakui dengan jiwa besar bukan hanya Megawati yang mengasihi Jokowi, namun bangsa ini seluruhnya tunduk dan patuh kepada Jokowi dan kepemimpinannya sejak tahun 2015 sampai saat ini 2023.






















