Jakarta – Fusilatnews – Menjelang Muktamar Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang dijadwalkan berlangsung usai Iduladha atau sekitar Agustus 2025 mendatang, tensi internal partai mulai meningkat. Perbedaan pendapat di kalangan pengurus kian meruncing, terutama terkait sosok yang akan memimpin PPP menuju Pemilu 2029.
Sejumlah kader mendorong agar PPP dipimpin oleh figur baru yang dinilai mampu membawa semangat perubahan. Hal ini berbanding terbalik dengan sebagian lainnya yang masih mempertahankan Muhammad Mardiono, yang saat ini menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum.
Nama-nama dari Luar Partai Mulai Masuk Bursa
Uniknya, bursa calon ketua umum kali ini tidak hanya diisi oleh tokoh internal, tetapi juga sejumlah figur eksternal yang mengejutkan. Juru Bicara PPP, Usman Muhammad Tokan, menyebut bahwa beberapa nama dari luar partai mulai masuk radar pencalonan.
“Nama-nama eksternal mulai muncul ke permukaan,” ungkap Tokan dalam keterangan resminya, Rabu (14/5/2025).
Di antara nama eksternal tersebut adalah Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman, mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), yang belakangan disebut-sebut intens membangun komunikasi politik. Nama lain yang ikut disebut adalah Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, serta mantan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto.
Tokan mengakui, “Ada yang hanya terdengar samar, ada juga yang sudah mulai blusukan dan melakukan konsolidasi dengan pengurus DPW.”
Kandidat Internal: Lebih Ramai, Lebih Dinamis
Sementara itu, dari internal partai, persaingan tak kalah sengit. Nama-nama yang masuk bursa calon ketum di antaranya adalah Plt Ketum Muhammad Mardiono sendiri, mantan Ketum Romahurmuziy, serta Wakil Ketua Dewan Pembina PPP, Sandiaga Salahuddin Uno, yang dianggap sebagai tokoh muda dengan jaringan luas.
Figur lain yang turut disebut adalah Wakil Ketua Umum PPP Amir Uskara, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, serta mantan Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa, jika bersedia kembali mencalonkan diri.
Muktamar Digelar Agustus 2025, Setelah Pilkada Ulang
Rencana pelaksanaan Muktamar telah dijadwalkan setelah perayaan Iduladha dan penyelenggaraan pilkada ulang. Tokan menegaskan bahwa tidak ada niat untuk menunda agenda penting ini.
“Tidak ada niat menunda. Semua pihak memahami pentingnya momentum ini,” ujarnya.
Hingga kini, tercatat 20 Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) telah menyuarakan pentingnya mengakhiri masa kepemimpinan Plt dan segera memilih ketua umum definitif.
“PPP sedang dipimpin oleh Plt Ketum. Kami semua ingin segera memilih Ketum hasil muktamar agar partai bisa segera terkonsolidasi dan siap menghadapi Pemilu 2029,” pungkas Tokan.
Arah Baru Partai Ka’bah: Bertahan atau Bangkit?
Muktamar kali ini menjadi titik balik bagi PPP. Siapa pun yang terpilih nantinya, akan menentukan arah dan masa depan partai berlambang Ka’bah itu. Dengan masuknya tokoh-tokoh lintas latar belakang—dari jenderal purnawirawan, menteri aktif, hingga tokoh muda Nahdliyin—PPP dihadapkan pada pilihan besar: bertahan dalam pola lama, atau bangkit dengan semangat baru.
Siapakah yang paling layak memimpin PPP? Jawabannya akan ditentukan dalam Muktamar Agustus mendatang—pertaruhan penting bagi partai Islam tertua di Indonesia itu.




















