Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Lain di bibir, lain di hati. Bibir berucap “wong ndeso” tak perlu khawatir, tapi hatinya sendiri ternyata ketar-ketir. Prabowo Subianto terlihat mulai panik. Presiden RI itu lalu mengumpulkan sejumlah penggawanya di Istana Negara, Jakarta, Senin (18/5/2026), untuk membahas pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut. Hari ini rupiah kembali merosot ke angka 17.680 per dolar AS.
Para penggawa yang dipanggil ke Istana itu adalah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, serta Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.
Padahal saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026), Prabowo masih bisa menghibur rakyat supaya tidak perlu khawatir dengan pelemahan rupiah, karena orang desa tidak menggunakan dolar. Saat itu nilai tukar rupiah “baru” mencapai 17.660 per dolar AS.
Sementara dalam asumsi makro APBN 2026, kurs rupiah dipatok 16.500 per dolar AS.
Sampai rupiah kemudian melemah hingga menembus angka 17.680 per dolar AS, Purbaya masih jemawa. Ia tetap optimistis bahwa pelemahan rupiah hanya bersifat sementara, tidak seperti tahun 1998, karena fondasi ekonomi saat ini masih cukup kuat.
Namun, ketika dipanggil Prabowo, ia tak berdaya. Ia pun saja hadir ke Istana.
Sesungguhnya optimisme Purbaya cuma sekadar akting belaka untuk membuat pasar tidak panik. Faktanya, dia pun panik sehingga sering tidak bisa tidur. Ihwal Purbaya kerap tak bisa tidur ini diungkapkan istrinya, Ida Purbaya. Dampaknya, berat badan Purbaya turun drastis hingga 12 kilogram hanya dalam sembilan bulan menjabat. Bahkan pernah untuk bisa berdiri saja dia harus menerima suntikan hingga delapan titik.
Hentikan MBG dan KMP
Akan tetapi, Purbaya masih keukeuh dengan asumsinya karena pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun ini mencapai 5,61 persen.
Padahal pertumbuhan itu semu karena ditopang oleh belanja masyarakat yang masif di bulan Ramadan dan Idul Fitri 1447 H. Kuartal depan, diyakini pertumbuhan ekonomi akan menurun karena tidak ada belanja masif masyarakat.
Prabowo memang selalu bangga ekonomi tumbuh karena program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih (KMP).
Padahal, faktanya, program MBG dan KMP tersebut tidak menciptakan “trickle-down effect”. Anggaran jumbo mencapai Rp1,2 triliun per hari plus anggaran KMP, hanya dinikmati oleh segelintir elite yang punya akses ke kekuasaan. Bahkan anggaran yang dinikmati elite lebih besar daripada yang dinikmati rakyat.
Sebab itu, jika ingin memperbaiki perekonomian Indonesia, maka sudah sepatutnya program MBG dan KMP dihentikan. Niscaya perekonomian Indonesia akan bangkit lagi, dan pada gilirannya rupiah akan menguat perlahan.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)























