Fusilatnews – Presiden Prabowo Subianto dengan penuh kebanggaan menyampaikan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan segera melampaui produksi makanan McDonald’s. Angkanya impresif: 59,8 juta porsi per hari, segera menuju 82,9 juta. Sebuah rekor administratif. Sebuah statistik raksasa. Sebuah panggung global di World Economic Forum yang tampaknya tepat untuk memamerkan kebesaran angka.
Namun di balik gemerlap kalkulasi itu, muncul satu pertanyaan mendasar: apakah bangsa ini sedang merayakan jumlah porsi, atau merayakan perbaikan gizi?
McDonald’s adalah simbol industri makanan cepat saji—tinggi kalori, tinggi lemak, rendah nilai nutrisi. Dunia kesehatan justru menjadikannya contoh pola makan buruk. Maka ketika MBG dibandingkan dengan McD, pesan simboliknya menjadi ganjil: seolah keberhasilan program pangan nasional diukur dengan standar industri junk food global. Kita tidak sedang berlomba memberi makan, kita seharusnya berlomba memperbaiki kualitas hidup.
Sayangnya, yang ditonjolkan justru kuantitas. Seakan-akan bangsa ini bisa menebus stunting, anemia, dan kekurangan protein hanya dengan mengalikan dapur dan porsi. Padahal gizi bukan soal berapa banyak nasi yang dibagi, tetapi apa isi piringnya, dari mana bahan pangannya, bagaimana rantai pasoknya, dan siapa yang mengawasi mutunya.
Lebih ironis lagi, negara agraris yang tanahnya subur, lautnya luas, dan petaninya banyak—masih bergantung pada impor beras, kedelai, gula, bahkan garam. Kita memberi makan puluhan juta porsi, tapi sebagian bahan bakunya datang dari luar negeri. Di sinilah paradoks MBG: program raksasa, fondasi rapuh.
Lalu ada dimensi lain yang jarang disebut: transparansi anggaran. Program sebesar ini menelan triliunan rupiah. Namun mekanisme pengawasan kualitas makanan, kontraktor dapur, standar nutrisi, dan dampak kesehatannya belum dipaparkan seterang statistik porsi. Angka boleh megah, tapi publik butuh jaminan bahwa yang dimakan anak-anak bukan sekadar karbohidrat murah berbungkus retorika.
Perbandingan dengan McDonald’s juga mengandung jebakan psikologis: membangkitkan rasa bangga nasionalistik instan. “Kita lebih besar dari korporasi global.” Tetapi kebesaran sejati bukan pada mengalahkan McD dalam jumlah porsi, melainkan mengalahkan angka stunting, mengalahkan anemia, mengalahkan gizi buruk. Itulah kompetisi yang seharusnya diumumkan di panggung dunia.
Jika suatu hari Presiden berdiri di forum internasional dan berkata:
“Angka stunting Indonesia turun drastis, anak-anak kami tumbuh sehat dan cerdas,”
maka itulah kemenangan peradaban. Bukan ketika kita memproduksi makanan lebih banyak dari McDonald’s.
Sebab bangsa besar bukan yang paling banyak memberi makan.
Bangsa besar adalah yang paling sedikit membiarkan rakyatnya lapar gizi.


























