Di jalanan panas berdebu, di punggung truk yang mungkin setiap hari bergelut dengan muatan berat, terlukis sebuah pesan ringan tapi menghunjam: tentang rezeki. Kalimatnya sederhana, namun ia memanggil kesadaran yang sering lupa kita dengar di tengah hiruk pikuk peradaban.
Cicak tidak bisa terbang, namun ia makan nyamuk yang beterbangan. Kucing tidak bisa menyelam, namun ia memakan ikan yang hidup di air. Alam telah mengatur bagian masing-masing makhluk, tanpa mereka perlu gelisah memikirkan hari esok. Mereka bergerak mengikuti fitrah, dan rezeki datang sesuai kadar yang ditetapkan.
Lalu manusia.
Manusia diberi akal. Ia bisa merancang masa depan, menghitung risiko, menimbang untung-rugi. Namun justru di situlah paradoksnya: semakin tinggi akal, semakin besar kecemasan. Manusia bukan hanya lapar secara fisik, tetapi juga lapar kepastian. Ia takut kekurangan, takut tertinggal, takut gagal, bahkan takut pada bayangan dirinya sendiri.
Padahal, dalam pandangan religius, rezeki bukan sekadar hasil kerja keras, melainkan bagian dari ketetapan Ilahi. Kerja adalah kewajiban, tetapi hasil bukan sepenuhnya milik kuasa manusia. Ada tangan tak terlihat yang mengatur aliran nasib, mempertemukan usaha dengan hasil, doa dengan jawaban.
Filsafat mengajarkan: kegelisahan manusia lahir karena ia sadar akan masa depan. Binatang tidak resah karena tidak membayangkan esok. Manusia resah karena ia hidup bukan hanya di hari ini, tetapi juga di kemungkinan-kemungkinan yang belum terjadi. Namun agama datang memberi penawar: bahwa masa depan bukan ruang kosong yang liar, melainkan bagian dari rencana Yang Maha Mengetahui.
Pesan di belakang truk itu seperti dakwah sunyi di tengah jalan. Ia tidak berbicara dari mimbar, tidak ditulis dalam kitab tebal, tetapi hadir di antara klakson dan asap knalpot—mengingatkan bahwa iman bukan hanya milik masjid atau gereja, tetapi juga milik aspal kehidupan.
Maka pertanyaannya bukan lagi “apakah rezekiku akan ada?”, melainkan “apakah aku sudah berjalan di jalan yang benar untuk menjemputnya?”. Setelah itu, sisanya adalah tawakal: menyerahkan hasil kepada Yang mengatur cicak, nyamuk, kucing, ikan—dan tentu saja manusia.
Karena jika makhluk tanpa akal saja tidak pernah kelaparan dalam ketentuan-Nya, mengapa manusia yang diberi akal justru sibuk meragukan bagian yang telah disiapkan untuknya?
Di titik itulah iman diuji: antara kerja dan pasrah, antara usaha dan percaya.
Dan barangkali, sebuah truk di tengah jalan telah menjadi guru yang tak terduga.


























