Jakarta-Fusilatnews.– – Rupiah menutup pekan ini dengan kinerja yang kurang memuaskan, melemah sebesar 1,2% dibandingkan dengan nilai minggu sebelumnya. Penurunan ini terjadi akibat tekanan dari dolar Amerika dan arus keluar modal asing dari pasar surat utang negara yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut.
Meskipun ketidakpastian seputar pemilihan umum di Indonesia telah berakhir dengan pengumuman hasil pemilihan presiden dan legislatif oleh Komisi Pemilihan Umum, kinerja rupiah tetap menunjukkan penurunan. Prabowo Subianto telah resmi menjadi pemenang pemilihan presiden, sementara PDI Perjuangan memenangkan pemilihan legislatif. Namun, pengumuman ini tidak mampu mengangkat nilai rupiah. Bahkan, euforia pasar global setelah rapat FOMC Federal Reserve tidak mampu secara signifikan memperkuat rupiah.
Rupiah spot sempat menyentuh angka Rp15.789/US$ dalam perdagangan intraday hari ini, Jumat (22/3/2024), mencapai level terlemah sejak 1 Februari silam. Pada akhirnya, rupiah ditutup melemah sebesar 0,77% di level Rp15.780/US$, mengindikasikan pelemahan sebesar 1,2% dalam sepekan. Pada pekan sebelumnya, rupiah berada di level Rp15.595/US$. Secara kumulatif sejak awal tahun (year-to-date), rupiah telah melemah sebesar 2,5%.
Di samping itu, kurs tengah Bank Indonesia (JISDOR) juga mengalami pelemahan menjadi Rp15.773/US$, turun 1% dibandingkan dengan penutupan pekan sebelumnya.
Pelemahan rupiah terutama disebabkan oleh tekanan jual di pasar surat utang yang masih signifikan. Selama tiga hari berturut-turut, investor asing mencatat net outflows senilai US$132,96 juta, menurut data Bloomberg.
Tingkat imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) rupiah, INDOGB, naik di semua tenor pada perdagangan hari terakhir pekan ini. SUN 10 tahun naik 2 basis poin menjadi sekitar 6,64%, sementara tenor 2 tahun naik lebih tinggi ke 6,39%. INDOGB 30 tahun juga naik menjadi 6,92%.
Rupiah bukan satu-satunya mata uang Asia yang mengalami tekanan. Hampir semua mata uang di kawasan Asia terdampak oleh penguatan dolar AS setelah hasil rapat FOMC The Fed pada 20 Maret lalu. Selain itu, kejatuhan yuan semakin memberatkan kondisi mata uang kawasan Asia.
Terkait hal ini, pemodal asing khawatir bahwa kebijakan-kebijakan populis yang mahal seperti program makan siang gratis bisa memperburuk kondisi keuangan negara. Defisit fiskal yang diperkirakan akan membesar pada APBN 2025 juga dapat memberikan tekanan tambahan pada surat utang RI.
Schroder Indonesia menyatakan bahwa kebijakan-kebijakan yang diusung oleh Prabowo mungkin akan lebih menguntungkan pasar saham daripada pasar surat utang. Namun, hal ini tidak berarti investor harus menjual obligasi dan beralih ke saham. Menurut Irawanti, Chief Investment Officer Schroder Indonesia, Indonesia masih merupakan salah satu negara paling menarik bagi investor dibandingkan dengan pasar negara berkembang lainnya karena tingkat imbal hasil riil yang tinggi.
Meskipun demikian, saat ini masih terlalu dini untuk memprediksi bahwa pemerintah akan mengadopsi kebijakan belanja yang agresif di masa mendatang. Irawanti juga berpendapat bahwa peningkatan defisit fiskal mungkin akan terjadi dalam skala kecil dibandingkan dengan level defisit saat ini. “Tata kelola pembelanjaan adalah kuncinya. Jika pemerintah belanja produktif dan akuntabel, itu akan menjadi kabar baik bagi pasar Indonesia ke depan,” kata Irawanti.
Sementara itu, gugatan yang diajukan oleh dua kandidat calon presiden lainnya, yakni Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo, ke Mahkamah Konstitusi juga menjadi perhatian pasar, meskipun diperkirakan hanya akan berdampak jangka pendek dan terbatas.

























