• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Prediksi Awal Tepat Whoos Jadi Beban Berat: Ketika Keadilan Fiskal Tergelincir di Jalur Kekuasaan

fusilat by fusilat
October 13, 2025
in Birokrasi, Crime, Feature
0
Dasar Berfikir Jokowi Salah Mindset – Yang Rugi Rakyat – Yang Rusak Negara
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – “Beban yang mencapai Rp 116 triliun itu, kalau dibebankan ke kas negara (APBN), sama saja dengan memikul beban setiap rakyat sekitar Rp 400 ribuan per orang — untuk fasilitas kereta cepat yang hanya dinikmati sebagian kecil populasi. Dan kini, Menteri Keuangan sendiri sudah menolak agar APBN ‘menjadi penampung terakhir’ beban ini.”

Pernyataan ini bukan sekadar hitungan ekonomi, tetapi sebuah cermin ketimpangan dalam cara negara memaknai keadilan. Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB), yang diklaim sebagai simbol kemajuan transportasi nasional, kini menjadi simbol ketimpangan antara mereka yang berkuasa dan mereka yang membayar pajak.

Dengan utang yang membengkak hingga Rp 116 triliun, publik berhak bertanya: siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas proyek ini? Dan untuk siapa kemajuan ini dibangun?

Proyek Cita-cita, Bukan Kebutuhan

Dari awal, proyek kereta cepat ini bukanlah hasil dari kebutuhan mendesak rakyat, melainkan ambisi politik yang ingin menorehkan “warisan pembangunan”. Jokowi sebagai presiden saat itu, dengan dukungan para pembantunya, memaksakan proyek ini meski sudah banyak kajian yang memperingatkan tentang potensi kerugian dan ketidakseimbangan manfaatnya.

Jokowi bahkan secara pribadi menandai proyek ini sebagai simbol “lompatan peradaban.” Ia beberapa kali meninjau langsung lokasi pembangunan, menyebut Whoosh sebagai bukti Indonesia sejajar dengan negara maju. Namun di balik narasi kemajuan itu, perhitungan ekonomi dan tanggung jawab keuangan seolah dikesampingkan.

LBP, Sang Diplomat Infrastruktur

Nama Luhut Binsar Pandjaitan tak bisa dilepaskan dari kisah ini. Sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut menjadi figur sentral dalam diplomasi dengan pihak Tiongkok. Ia yang mengawal negosiasi pinjaman, suku bunga, hingga pembicaraan soal pembengkakan biaya atau cost overrun yang mencapai USD 1,2 miliar (sekitar Rp 18 triliun).

Luhut juga dikenal sebagai sosok yang kerap tampil untuk “menyelamatkan” proyek yang bermasalah — entah dengan menegosiasikan ulang kontrak, atau mendorong BUMN tetap melanjutkan proyek meski secara komersial tak menguntungkan. Sikap ini menimbulkan kesan bahwa negara, dalam proyek seperti Whoosh, lebih berperan sebagai pelindung kepentingan politik ketimbang pelindung uang rakyat.

Erick Thohir, Juru Selamat BUMN

Lalu ada Erick Thohir, Menteri BUMN, yang memastikan proyek Whoosh terus berjalan meski biaya membengkak. Ia menyatakan bahwa proyek ini “tidak boleh dimangkrakkan,” seolah-olah berhenti adalah aib yang lebih besar daripada menambah utang. Padahal, prinsip ekonomi justru menuntut efisiensi, bukan gengsi.

BUMN yang menjadi pelaksana proyek, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), kini harus memutar otak mencari skema pembayaran, sementara dividen BUMN yang seharusnya masuk ke kas negara akan dialihkan sebagian untuk menutup kekurangan. Inilah bentuk baru dari subsidi terselubung: bukan lewat APBN secara langsung, tetapi lewat laba BUMN yang seharusnya menjadi pendapatan negara.

Menkeu Purbaya dan Garis Penolakan

Di tengah hiruk-pikuk tanggung jawab yang kabur, muncul sikap tegas dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menyatakan dengan jelas bahwa APBN tidak akan digunakan untuk membayar utang Whoosh. “Jangan ke kita lagi,” tegasnya, menolak menjadikan kas negara sebagai tempat berlabuh terakhir dari kesalahan perhitungan politik dan bisnis.

Sikap ini adalah bentuk perlawanan terhadap pola lama: di mana keuntungan dinikmati elite, tetapi kerugian dibebankan kepada publik. Ia mengusulkan agar penyelesaian utang dilakukan melalui Danantara, lembaga pengelola investasi BUMN, dengan memanfaatkan sumber-sumber internal seperti dividen tahunan yang mencapai Rp 80 triliun. Dengan kata lain, ia ingin menjaga agar utang Whoosh tetap menjadi tanggung jawab korporasi, bukan rakyat.

Namun masalahnya tidak selesai di situ. Sebab sekalipun APBN tidak dipakai secara langsung, dana yang digunakan tetap bersumber dari potensi keuntungan BUMN yang semestinya kembali ke rakyat. Jadi, secara tidak langsung, rakyat tetap ikut menanggung beban, hanya dengan cara yang lebih halus.

Keadilan yang Tergelincir di Rel Cepat

Dengan 6 juta penumpang per bulan — atau 72 juta per tahun — proyek ini tampak hidup. Tapi dari total 280 juta rakyat Indonesia, hanya sekitar 2,5 persen populasi yang benar-benar menikmati layanan ini. Artinya, 97,5 persen sisanya ikut membayar, tapi tidak ikut menikmati.

Apabila utang Rp 116 triliun itu dibagi rata ke seluruh rakyat, maka setiap warga menanggung sekitar Rp 414.000. Sebuah angka yang mungkin kecil di mata pejabat, tapi sangat besar bagi mereka yang masih berjuang membeli beras, membayar sekolah anak, atau mencari pekerjaan.

Inilah absurditas pembangunan yang hanya menilai kesuksesan dari kecepatan kereta, bukan keadilan sosial. Whoosh mungkin berjalan 350 km/jam, tapi keadilan berjalan tersendat.

Penutup: Mengingatkan yang Terlupakan

Jokowi, Luhut, Erick, dan seluruh jajaran yang mendorong proyek ini adalah bagian dari sejarah politik pembangunan yang penuh kebanggaan, tapi juga penuh beban. Mereka boleh berfoto di stasiun Halim, mengibarkan bendera keberhasilan, dan menepuk dada atas pencapaian “kereta cepat pertama di Asia Tenggara.”
Namun sejarah akan menilai bukan seberapa cepat mereka membangun, melainkan seberapa adil mereka bertanggung jawab atas apa yang mereka bangun.

Sebab, kecepatan tanpa keadilan hanyalah bentuk lain dari kesombongan. Dan selama utang Rp 116 triliun itu masih membayangi rakyat kecil, proyek Whoosh tidak akan pernah benar-benar menjadi simbol kemajuan — melainkan simbol betapa mahalnya harga ambisi penguasa yang dibayar dengan uang rakyat.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

“Fiat Justitia, Sed Potestatem Serva”: Saat Hukum Dibelokkan untuk Melindungi Jokowi dan Gibran

Next Post

AOTS Buka Kesempatan untuk Ikuti Management Training Program di Jepang 2026

fusilat

fusilat

Related Posts

Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil
Feature

Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?
Birokrasi

Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?

April 28, 2026
Feature

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026
Next Post
AOTS: Online Seminar (Subsidized Program)

AOTS Buka Kesempatan untuk Ikuti Management Training Program di Jepang 2026

Nadiem Makarim Ditahan Kejagung: Dari Reformasi Pendidikan ke Jeruji Besi Korupsi Laptop

Praperadilan Nadiem Makarim Ditolak, Kejagung Punya Bukti Kuat

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

by Karyudi Sutajah Putra
April 27, 2026
0

Jakarta - Untuk kelima kalinya sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Oktober 2024, Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan...

Read more
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil

Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?

Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?

April 28, 2026

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026
Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

April 28, 2026
Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil

Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?

Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?

April 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist