Jakarta-Fusilatnews.—Rencana awal proyek Kereta Api Cepat itu, dari Jakarta menuju Surabaya. Tetapi kemudian, Jokowi mengeksekusi Proyek tersebut, menjadi Jakarta ke Bandung. Tepatnya dari Stasiun Halim Jakarta dan berakhir di Stasiun Ciburu Kab Bandung. Dalam prosesnya, diputuskan pemberhentian dari Jakarta adalah di stasiun Padalarang, Kab Bandung. Belum diketahui pasti antara Padalarang dan Cibiru, kapan akan dapat dilewati oleh KA Cepat buatan China tersebut.
Serangkaian masalah dari sejak perencanaan, hingga pelaksanaan sampai dengan saat ini, menyeruak mengundang pro dan kontra, terutama berkaitan dengan biaya yang meningkat, diluar duguaan awal, status proyek dari B to B menjadi seratus prosen sebagai beban APBN dan persoalan-persoalan teknis lainnya.
Informasi terkini, didapat dari hasil dengar pendapat antara pihak KCJB dan Komisi V DPR RI, yang mengupas berbagai perkembangan dan kendala yang ada.
Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) akan mulai dioperasikan pada pertengahan tahun 2023. Anggota Komisi V DPR RI Iis Rosyita Dewi ungkapkan keresahannya soal efektivitas kereta cepat yang tidak sampai ke pusat Kota Bandung melainkan ke Padalarang.
Sebelumnya, pihak Kementerian Perhubungan dan KAI menyatakan akan disediakan feeder atau kereta api pengumpan untuk menghubungkan stasiun Padalarang ke pusat stasiun Kota Bandung yaitu di Pasirkaliki. Untuk itu Iis meminta agar pemerintah terkait perlu memastikan efektivitas waktu tempuh keseluruhan hingga ke Stasiun Bandung Kota.
“Tadi kami sudah dengar pemaparan bahwa kereta cepat ini akan berhenti di Stasiun Padalarang, yang sekaligus akan menjadi stasiun perjumpaan dengan kereta feeder menuju pusat stasiun kota Bandung, ini harus dilihat betul efektivitasnya seperti apa, waktu tempuhnya apakah justru nanti kereta cepatnya sudah bagus kemudian waktu tunggu kereta feeder ini yang lama, atau bagaimana. Mekanismenya harus benar-benar jelas. Jangan sampai masyarakat yang telah mengeluarkan tarif lebih mahal dibandingkan kereta reguler merasa tidak ada perbedaan,” tutur Iis pada kunjungan kerja spesifik yang diadakan di Stasiun Kereta Api Bandung, Kamis (9/2/2023).
Legislator Dapil Jawa Barat II itu juga mendorong agar KAI betul-betul merinci soal kesesuaian jadwal kereta cepat dengan kereta feeder agar nantinya penumpang yang transit dapat segera melanjutkan perjalanannya ke stasiun kota Bandung. Ia juga menambahkan bahwa pengoperasian kereta cepat ini barometernya adalah kembali pada kebutuhan masyarakat.
“Jadi menurut saya ini barometernya adalah apa yang dibutuhkan oleh masyarakat, apakah membutuhkan cepat atau membutuhkan murah kan itu sebetulnya. Intinya adalah kedua sektor ini harus ada, kereta reguler maupun kereta cepat sehingga makin beragam opsi masyarakat dalam memilih angkutan massal,” tutupnya.


























