Oleh: Karyudi Sutajah Putra, mantan Komisioner Komite Perubahan Sepakbola Nasional (KPSN).
Jakarta – Pertarungan politik di tubuh Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) ternyata tidak kalah seru dengan partai politik dan pemilu. Menjelang Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI yang akan digelar Kamis (16/2/2023) nanti, banyak hal dijanjikan. Termasuk yang tidak masuk akal, demi mendulang suara. Pemilik suara atau “voters” pun senang-senang saja. Makin sering “pemilu” makin meggairahkan. Akhirnya PSSI pun tak pernah bisa lepas dari kutukan Sisifus.
Pertanyaannya, sanggupkah para calon Ketua Umum PSSI, terutama Erick Thohir dan La Nyalla Mattalitti yang diunggulkan, membebaskan PSSI dari kutukan Sisifus?
Ya, ada 5 kandidat yang akan memperebutkan kursi PSSI-1, yakni Menteri BUMN Erick Thohir, Ketua DPD RI La Nyalla Mattalitti, Arif Putra Wicaksono, Doni Setiabudi, dan Fary Djemy Francis. Namun, yang diunggulkan adalah Erick dan La Nyalla. Yang lain cuma penggembira.
Erick pun menebar janji. Jika terpilih menjadi orang nomor 1 di PSSI, setidaknya ia akan melakukan 5 hal, yakni melanjutkan putaran Liga 2 dan Liga 3, mengejar ketertinggalan sepakbola Indonesia dari negara lain, membenahi kualitas wasit, menerapkan VAR (video assistant referee), dan membangun “tranining center” untuk Timnas Indonesia. Yang spektakuler dari janji Erick adalah membangun “training center”.
La Nyalla tak mau kalah. Saat kampanye di hadapan 34 Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI, Selasa (7/2/2023), sosok yang pernah menjabat Ketua Umum PSSI ini menjanjikan dana program untuk setiap Asprov sebesar Rp1 miliar per tahun.
La Nyalla juga berjanji memberikan dana subsidi kepada klub-klub Liga 2 sebesar Rp1, 5 miliar per tahun, dan juga kepada klub-klub Liga 1 yang nominalnya tak disebutkan.
Dan ini janji La Nyalla yang spektakuler: mengusahakan PSSI punya kantor sendiri, sehingga PSSI tidak menjadi “ahli pondok” atau “kontraktor” lagi.
Lebih dari itu, dan ini yang tidak disukai gang “mafioso” di PSSI, yakni Erick dan La Nyalla sama-sama berjanji akan membersihkan PSSI dari praktik oknum-oknum kotor. Erick mengaku siap menghadapi “mafia” sepakbola. Pengurus PSSI harus bersih, enggak ada pengurus titipan seperti yang lalu-lalu. La Nyalla pun mengklaim punya jurus maut untuk membenahi sepakbola Indonesia dan membersihkan PSSI.
Dua janji spektakuler Erick dan La Nyalla, yakni membangun “base camp” dan kantor PSSI, juga dijanjikan Mochamad Iriawan menjelang KLB PSSI 2019. Jika terpilih, pria dengan sapaan akrab Iwan Bule itu akan membangun “soccer camp” dan kantor PSSI. Sampai akhirnya lengser, yang didahului dengan Tragedi Kanjuruhan, apakah 2 janji spektakuler Iwan Bule itu terwujud? Ternyata tidak!
Kutukan Sisifus
Dalam KLB PSSI 2023 nanti, ada 87 “voters” yang terdiri atas 34 Asprov, 18 klub Liga 1, 16 tim Liga 2, 16 kesebelasan Liga 3, Federasi Futsal Indonesia, Asosiasi Sepakbola Wanita Indonesia, dan Asosiasi Pelatih Sepakbola Indonesia. Pemilik suara PSSI yang berasal dari klub mengacu pada peserta BRI Liga 1, Liga 2, dan Liga 3 musim lalu atau 2021/2022.
Suara mereka akan diperebutkan 5 calon. Sekali lagi, hanya 2 calon yang diunggulkan berdasarkan kapasitas 2 “SDM”, sumber daya manusia dan sumber daya materi, yakni Erick Thohir dan La Nyalla Mattalitti.
Dan bukan rahasia lagi, Kongres atau KLB PSSI identik dengan fenomena pembagian “THR”, sehingga voters terjangkit sindrom “KKO” (kanan-kiri oke) atau “RRI” (rono-rene iyo/ke sana kemari iya). Akibatnya, PSSI seolah tak bisa lepas dari kutukan Sisifus.
Makin sering kongres, makin menggairahkan. Seseorang didorong maju menjadi Ketua Umum PSSI, di tengah jalan coba dilengserkan. Begitu seterusnya. Mengapa? Karena makin sering kongres makin menggairahkan.
Lalu, apa itu kutukan Sisifus?
Adalah Albert Camus (1913-1960), sastrawan eksistensialis asal Perancis, yang pada 1942 menulis “Le Mythe de Sisyphe” (Mitos Sisifus).
Sisifus adalah tokoh dalam mitologi Yunani yang dikutuk untuk selama-lamanya mengulangi tugas yang sia-sia, yakni mendorong batu ke puncak gunung. Namun ketika hendak mencapai puncak, batu itu menggelinding jatuh kembali. Sisifus pun harus mengulangi pekerjaan mendorong batu itu ke puncak, lalu jatuh lagi, lalu dorong lagi, begitu seterusnya.
Mengapa Sisifus dikutuk? Karena ia mencuri rahasia para dewa. Mengapa PSSI seolah tak bisa lepas dari kutukan Sisifus? Karena voters menyembunyikan rahasia fenomena “money politics” dalam setiap kongres.
Pertarungan politik di KLB PSSI 2023 nanti diprediksi akan seru, terutama antara kubu Erick Thohir dan kubu La Nyalla Mattalitti. Keduanya punya 2 “SDM” yang relatif seimbang. Secara politik, keduanya juga relatif berimbang kekuatannya: Erick, Menteri BUMN; La Nyalla, Ketua DPD.
Sanggupkah di antara keduanya membebaskan PSSI dari kutukan Sisifus? Kita tunggu saja tanggal mainnya. Yang jelas, janji La Nyalla membagikan uang miliaran rupiah menjelang KPB kontraproduktif, karena dapat diasumsikan sebagai “money politics”. Bagaimana bisa membersihkan PSSI, kalau cara meraih kursi PSSI-1 saja tidak bersih?
Erick pun demikian. Sanggupkah ia menghadapi “mafia” sepakbola yang sudah berurat-berakar di tubuh PSSI? “Match fixing” (pengaturan skor) adalah penyakit menahun di PSSI yang sulit disembuhkan.
Ketika hendak bersih-bersih PSSI, jangan-jangan justru Erick Thohir atau La Nyalla Mattalitti yang akan terlempar dari PSSI, seperti batu Sisifus yang ditendang para dewa. Itulah!


























