• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Rempang, Negara Kekuasaan, dan Ujian Capres 2024

fusilat by fusilat
October 1, 2023
in Feature
0
Pemarintah Akui Kebijakan Pemerintah Membuat Warga di Pulau Rempang Tidak Nyaman
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Ikrama Masloman | Strategic Manager KCI LSI Peneliti Senior Lingkaran Survei Indonesia

JERITAN warga Rempang, Kepulauan Riau, merangsek ke saluran digital dan menjelma The Power of Netizen di aneka linimasa medsos, membawa isu Rempang ke kancah nasional riuh dengan kecaman. Upaya warga Rempang mempertahankan tempat tinggal sepaket dengan memori, rasa, sejarah hingga Budaya Rempang sebagai “orang darat” atau “orang utan” seperti diwartakan P. Wink pejabat Kolonial dalam Tijdschrift voor Indische Taal, Land en Volkunde, Deel LXX Aflevering I tahun 1930. Artinya lebih dari sekadar tempat tinggal, Rempang adalah ruang hidup yang telah mereka warisi dari leluhur mereka, bahkan sejak Indonesia masih sebentuk gagasan.

Negara merampas, ide bangsa tinggal prasasti
Setelah mengikrarkan kemerdekaan, warga Rempang tentu mengimajinasikan Indonesia sebagai Bangsa, yaitu kesatuan sosiologis, semangat, dan cita-cita bersama. Sayangnya karena Rupiah, mereka seakan terusir atas nama investasi dan pembangunan. Pendekatan represif memicu rusuh dan amuk massa warga Pulau Rempang, tanda bahwa produk kebijakan tidak dirumuskan berdasarkan kepentingan publik yang diserap dari bawah, melainkan kepentingan kekuasaan yang didikte dari atas.

Negara atau kesatuan administrasi bergerak secara monolitik, mengikuti irama penguasa, yang mengagregasi luasnya spektrum kepentingan. Di sana tidak saja ada rakyat sebagai pemberi mandat untuk mereka berkuasa, ada juga kelompok kecil warga karena kontribusinya saat dan pascapemilu seakan menjadikan mereka special citizenship. Warga negara kelas satu, yang berkelindan atau bagian dengan kekuasaan yang kerap disebut Oligarki. Keluhuran Negara (dengan huruf N besar) bergantung apakah perannya untuk mengadministrasikan keadilan, sedangkan negara (dengan huruf n kecil) sekadar mengadministrasi cash flow bagi-bagi keuntungan untuk warga negara kelas satu saja.

Untuk ilustrasi, seperti kebijakan Obamacare di Amerika yang merupakan program prioritas pemerintah Barack Obama, yang kemudian terendus bahwa kebijakan kesehatan terbesar itu bentuk balas budi Obama untuk perusahaan farmasi yang mendanainya saat pemilu. Pangkal perampasan ruang hidup warga Rempang, oleh negara berpegang pada dalil Pasal 33 ayat 3 Undang-undang Dasar 1945 dengan penegasan pada “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara” dan menafikan kalimat “dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.

Nuansa pasal ini secara filosofis selaras dengan gagasan negara integralistik yang dikonsepsikan oleh Soepomo, yang ditentang oleh Moh. Hatta. Pemahaman integralistik bahwa kesatuan warga dan negara tercermin ketika semua kepentingan warga diakomodasi menjadi kepentingan negara dan memercayai kepentingan negara selalu mencerminkan kepentingan publik adalah optimistis penuh kepolosan. Secara akar gagasan negara integralistik, diorbitkan oleh pemikir Adam Heinrich Muller, yang menolak gagasan pencerahan di barat, yang disebut pemikir romantisme, konsepsi muller tentang penyatuan individu dalam masyarakat, menyirakat perilaku taat atas kehendak negara, alih-alih menghidupkan partisipasi secara demokratis konsep integralistik sangat otoritarian. Maka humanisme Soepomo yang bersembunyi pada frasa “untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat” adalah ilusi, selama frasa utamanya adalah legitimasi atas dominasi negara dalam perampasan hak rakyat. Lagi pula pemahaman penguasaan negara atas tanah, lebih mencerminkan perilaku kolonial ketimbang semangat kemerdekaan.

Tahun 1870 pemerintah kolonial menerbitkan kebijakan di bidang agraria yang disebut agrarisch besluit sebagai dasar klaim tanah negara atau domein verklaring, yang secara praktik tidak berbeda dengan hari ini. Domein verklaring, yaitu tanah yang tidak ada alat bukti kepemilikan menjadi tanah negara. Problemnya tidak mudah bagi warga Rempang dengan keterbatasan uang dan kekuasaan dalam mengupayakan pengurusan sertifikat tanah. Ditambah lumrah dalam hukum adat, pengakuan atas tanah, apakah ulayat, adat dari petuanan hingga kesultanan, tidak selalu memiliki konsep sertifikat secara absah. Kadang hanya soal pengakuan atas eksistensi keberadaan mereka selama ini, yang harusnya dihormati negara.

Memotret konteks konflik agraria selama ini, kita tidak boleh naif bahwa banyak sekali gesekan kepentingan. Seperti data Kompas, sepanjang 2022 saja terjadi penguasaan lahan mencapai 1,03 juta hektare yang berdampak terhadap lebih dari 346.000 keluarga. Benturan kepentingan tidak anyar disebabkan praktik korupsi, penyuapan, dan nepotisme. Dalam konteks Rempang, kawasan ini telah diincar sejak 2003 silam. Maka warga rempang menuntut keadilan, apakah sertifikat yang dimiliki beberapa orang, yang bahkan tidak pernah datang ke tanah tersebut, dianggap lebih berhak ketimbang mereka yang telah turun menurun berada di sana? Negara memang perlu menegakan hukum.

Namun bagi negarawan, prinsip kesetaraan dalam hukum tidak hanya bermakna menegakkan keadilan sembari memihak kepada mereka yang kuat dengan legalitas atas tanah. Lebih dari itu, “equality before the law” adalah tuntutan untuk negara dalam memberikan kesetaraan itu. Mereka yang memiliki hak adat dan ruang hidup selama ini, semestinya difasilitasi sejak awal kepastian hukumnya.

Ujian menjadi capres otentik
Secara kalkulasi, mereka yang terdampak konflik agraria jumlahnya besar hingga lebih dari satu juta keluarga. Dari sudut pandang seorang negarawan angka ini krusial untuk secepatnya dicari solusi. Namun dari sudut pragmatis elektoral seorang capres dalam menghadapi pemilu 2024, angka ini bisa saja dilihat tidak signifikan dan problematik. Di satu sisi membela hak warga negara, di sisi lain mungkin saja berseberangan dengan oligarki yang biasa mendepositokan hartanya untuk Pemilu.

Keberpihakan pada Rempang, adalah ujian untuk para capres. Tidak hanya menarik simpati pemilih rempang yang secara jumlah tidak mewakili win number (angka kemenangan), namun momentum rempang bisa jadi jalan publik Indonesia menilai otentisitas calon yang mereka dukung, apakah calon yang mereka dukung otentik atau sekadar kosmetik.

Berkaca pada Lula da Silva memenangi pertarungan sebagai Presiden Brasil, tak dilepaskan dari citra positifnya, pada debut sebagai tokoh yang mengadvokasi pemogokan buruh metalurgi di stadion Villa Euclides yang melejitkan namanya sebagai simbol perubahan. Zuzan Caputova juga memiliki jejak sama. Sebelum menjadi Presiden Slovakia, Zuzan adalah seorang aktivis lingkungan. Jejak kuat pemimpin-pemimpin dunia itu, tidak dibangun semata citra yang mengandalkan populisme program ataupun identitas. Mereka menemukan momentum dari keberpihakan konkret. Dimensi keberpihakan, selaras dengan kehendak politik yang kuat. Lori Ann Post dkk dalam Defining Political Will (2010), political will menuntut empat hal. Pertama, mendorong cukup banyak pengambilan keputusan. Kedua, mempunyai pemahaman tentang masalah dan menyusun agenda formal. Ketiga, memiliki komitmen mendukung. Keempat, memiliki solusi umun yang efektif untuk bersama. Akhirnya, penulis berpesan jangan biarkan Rempang berlalu, dilindas roda zaman atas nama negara kekuasaan, dan capres yang bukan negarawan.

Dikutip Kompas.com – 29/09/2023

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

KOLABORASI KAHMI DAN KEMENHUT TANAM SEJUTA POHON DI BOGOR

Next Post

Kecerdasan Buatan (Artificial intelligence)

fusilat

fusilat

Related Posts

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi
Birokrasi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Feature

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?
Feature

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026
Next Post
Kecerdasan Buatan  (Artificial intelligence)

Kecerdasan Buatan (Artificial intelligence)

Eropa Coba Cara Baru  Kurangi Kematian  Akibat Narkoba

Eropa Coba Cara Baru Kurangi Kematian Akibat Narkoba

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci
daerah

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

by Karyudi Sutajah Putra
April 23, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Untuk ke-9 kalinya, Setara Institute merilis data Indeks Kota Toleran (IKT). Ada 10 kota yang masuk dalam kategori...

Read more
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026
Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist