• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

RG ke DM: Nakal Itu Tanda Hidup, Bukan Alasan untuk Dimiliterkan

Ali Syarief by Ali Syarief
July 3, 2025
in Birokrasi, Feature
0
RG ke DM: Nakal Itu Tanda Hidup, Bukan Alasan untuk Dimiliterkan
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Di negeri yang anak-anaknya belum sempat bermimpi panjang, seorang pejabat bernama Dedi Mulyadi mengusulkan dua hal yang terdengar tegas sekaligus ganjil: pertama, remaja-remaja nakal dikirim ke pelatihan ala militer; kedua, sekolah dimulai sejak pukul enam pagi. Dua gagasan yang, di permukaannya, terdengar seperti niat baik—mendisiplinkan, menertibkan, membentuk karakter. Namun di kedalamannya, tersembunyi sebuah asumsi tua: bahwa masa depan dapat dicetak seperti barisan pasukan, dan imajinasi harus dilenyapkan demi keteraturan. Seolah nakal adalah cacat moral, bukan tanda dari jiwa yang gelisah mencari jalan pikiran sendiri. Seolah bangun pagi lebih penting dari bangun kesadaran.

Saya tak ingin menilai Kang Dedi sebagai pribadi. Ia manusia, dengan cara pandang yang juga lahir dari pengalaman dan pergulatannya sendiri. Tapi ketika ia tampil sebagai pejabat publik, ucapannya bukan lagi milik dirinya, melainkan milik negara—dan karenanya bisa kita timbang, kita tanya, kita sanggah.

Rocky Gerung pernah berkata: “Nakalnya anak-anak itu justru bagian dari upaya imajinasi. Tubuh mereka belum dipasung oleh sistem. Otak mereka masih liar dan bebas.” Maka, mengapa justru tubuh itu yang didisiplinkan, bukan pikirannya yang dirangsang untuk tumbuh?

Kita mungkin lupa bahwa kata discipline datang dari disciple, yang artinya murid. Dan murid—bukan serdadu—belajar dari guru, bukan dari komandan. Pendidikan bukan medan tempur. Ia bukan tentang siapa yang paling cepat baris-berbaris, atau siapa yang paling patuh terhadap bel sekolah. Ia tentang siapa yang berani bertanya, bahkan tentang pertanyaan itu sendiri.


Apa yang terjadi pada anak yang dibangunkan pukul lima pagi, diburu sarapan, diteriaki supaya tidak terlambat, lalu diajak berangkat ke sekolah yang belum sempat ia maknai? Ia lelah, bukan karena ilmu, tetapi karena ritme hidupnya tak punya ruang untuk jeda. Ia pergi bukan karena ingin, tapi karena harus. Maka sekolah, yang semestinya menjadi taman bermain gagasan, berubah menjadi barak waktu yang kejam.

Betapa mudah kita terjebak dalam logika “disiplin” tanpa sadar bahwa imajinasi butuh ruang yang berantakan, tidak steril. Seorang anak yang menjual kentang goreng malam hari untuk membantu ibunya di pinggir jalan, lebih tahu tentang hidup daripada mereka yang menulis kurikulum dari balik meja pendingin. Tapi anak itu pula yang akan dianggap “nakal” karena pulang larut, atau mengantuk di kelas.


Kita hidup dalam negara yang, menurut data, dua dari tiga rakyatnya berada di bawah garis kemiskinan. Usia sekolah rata-rata rakyat kita adalah tujuh tahun: belum tamat SMP. Maka, ketika pejabat bicara “disiplin”, kita patut bertanya: disiplin untuk siapa? Untuk tubuh yang lapar? Atau untuk otak yang ingin tahu tapi tak pernah diberi waktu?

Populisme kita berkembang subur dari ketidaktahuan yang dilestarikan. Pasar politik tak lagi mencari kebenaran, melainkan kesan. Yang penting tampak tegas, tampak peduli, tampak “berpihak”—meski yang diperjuangkan hanyalah cara mudah untuk disukai.

Rocky Gerung bilang, “Disiplin ala militer melarang membantah. Tapi pendidikan justru mengajarkan anak untuk membantah sejak dini.” Ironis, bahwa di negeri ini, membantah bisa dianggap durhaka. Padahal membantah adalah bagian dari berpikir. Maka benarlah, bahwa kekuasaan yang membenci perdebatan adalah kekuasaan yang takut pada kecerdasan.


Mungkin yang kita butuhkan bukan pejabat yang tahu cara membuat anak-anak takut, tapi yang tahu cara membuat mereka bermimpi. Bukan yang ingin tubuh-tubuh kecil itu berbaris rapi, tapi yang bersedia mendengarkan pikiran mereka yang acak dan tak selesai. Bukan yang ingin mempercepat pagi, tapi yang mau melambatkan waktu, agar di meja makan, seorang ayah dan anak sempat saling bertanya: “Mimpi kamu tadi malam tentang apa?”

Dan sekolah… semestinya bukan tempat untuk membuat anak tunduk, tapi tempat untuk membuat mereka tumbuh.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Bila Prabowo Mau Menyelesaikan Urusan Jokowi—Sangat Mudah. Tapi, Why?

Next Post

Membaca Jokowi dari Belakang Kata-katanya – Cara Jujur Jokowi adalah Berbohong.

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Di Jepang – Tuhan Bersemayam di Toilet
Feature

Di Jepang – Tuhan Bersemayam di Toilet

June 9, 2026
Feature

MBG, Memutar Ulang Dosa Sejarah

June 9, 2026
Peduli Orang Jepang Karena Rupiah Melemah
Feature

Peduli Orang Jepang Karena Rupiah Melemah

June 8, 2026
Next Post
Jokowi Butuh Karantina?

Membaca Jokowi dari Belakang Kata-katanya - Cara Jujur Jokowi adalah Berbohong.

Gibran Syah Secara Legal (Hans Kelsen) dan Akan Rubuh Karena Tidak Legitimate (Max Weber)

Gibran Syah Secara Legal (Hans Kelsen) dan Akan Rubuh Karena Tidak Legitimate (Max Weber)

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
News

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

by Karyudi Sutajah Putra
June 9, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.-Banyak pihak, baik di eksekutif maupun legislatif, kini sedang ketar-ketir menunggu kelanjutan proses hukum dugaan tindak pidana korupsi...

Read more
Pembubaran Perkemahan Ahmadiyah di Karangnganyar: Negara Kembali Tunduk Pada Kelompok Intoleran

Pembubaran Perkemahan Ahmadiyah di Karangnganyar: Negara Kembali Tunduk Pada Kelompok Intoleran

June 7, 2026

Pancasila: Lahir untuk Mati!

June 2, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Diskusi RUU Parpol, PERMAHI Jakarta Timur Tekankan Penguatan Demokrasi dan Kaderisasi

Diskusi RUU Parpol, PERMAHI Jakarta Timur Tekankan Penguatan Demokrasi dan Kaderisasi

June 9, 2026

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

June 9, 2026
Di Jepang – Tuhan Bersemayam di Toilet

Di Jepang – Tuhan Bersemayam di Toilet

June 9, 2026

MBG, Memutar Ulang Dosa Sejarah

June 9, 2026
Peduli Orang Jepang Karena Rupiah Melemah

Peduli Orang Jepang Karena Rupiah Melemah

June 8, 2026
50 Anak Muda Difabel Netra Ikuti Aksi Penanaman Mangrove dalam Green Justice Youth Program

50 Anak Muda Difabel Netra Ikuti Aksi Penanaman Mangrove dalam Green Justice Youth Program

June 8, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Diskusi RUU Parpol, PERMAHI Jakarta Timur Tekankan Penguatan Demokrasi dan Kaderisasi

Diskusi RUU Parpol, PERMAHI Jakarta Timur Tekankan Penguatan Demokrasi dan Kaderisasi

June 9, 2026

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

June 9, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist