Fusilatnews – Di negeri yang anak-anaknya belum sempat bermimpi panjang, seorang pejabat bernama Dedi Mulyadi mengusulkan dua hal yang terdengar tegas sekaligus ganjil: pertama, remaja-remaja nakal dikirim ke pelatihan ala militer; kedua, sekolah dimulai sejak pukul enam pagi. Dua gagasan yang, di permukaannya, terdengar seperti niat baik—mendisiplinkan, menertibkan, membentuk karakter. Namun di kedalamannya, tersembunyi sebuah asumsi tua: bahwa masa depan dapat dicetak seperti barisan pasukan, dan imajinasi harus dilenyapkan demi keteraturan. Seolah nakal adalah cacat moral, bukan tanda dari jiwa yang gelisah mencari jalan pikiran sendiri. Seolah bangun pagi lebih penting dari bangun kesadaran.
Saya tak ingin menilai Kang Dedi sebagai pribadi. Ia manusia, dengan cara pandang yang juga lahir dari pengalaman dan pergulatannya sendiri. Tapi ketika ia tampil sebagai pejabat publik, ucapannya bukan lagi milik dirinya, melainkan milik negara—dan karenanya bisa kita timbang, kita tanya, kita sanggah.
Rocky Gerung pernah berkata: “Nakalnya anak-anak itu justru bagian dari upaya imajinasi. Tubuh mereka belum dipasung oleh sistem. Otak mereka masih liar dan bebas.” Maka, mengapa justru tubuh itu yang didisiplinkan, bukan pikirannya yang dirangsang untuk tumbuh?
Kita mungkin lupa bahwa kata discipline datang dari disciple, yang artinya murid. Dan murid—bukan serdadu—belajar dari guru, bukan dari komandan. Pendidikan bukan medan tempur. Ia bukan tentang siapa yang paling cepat baris-berbaris, atau siapa yang paling patuh terhadap bel sekolah. Ia tentang siapa yang berani bertanya, bahkan tentang pertanyaan itu sendiri.
Apa yang terjadi pada anak yang dibangunkan pukul lima pagi, diburu sarapan, diteriaki supaya tidak terlambat, lalu diajak berangkat ke sekolah yang belum sempat ia maknai? Ia lelah, bukan karena ilmu, tetapi karena ritme hidupnya tak punya ruang untuk jeda. Ia pergi bukan karena ingin, tapi karena harus. Maka sekolah, yang semestinya menjadi taman bermain gagasan, berubah menjadi barak waktu yang kejam.
Betapa mudah kita terjebak dalam logika “disiplin” tanpa sadar bahwa imajinasi butuh ruang yang berantakan, tidak steril. Seorang anak yang menjual kentang goreng malam hari untuk membantu ibunya di pinggir jalan, lebih tahu tentang hidup daripada mereka yang menulis kurikulum dari balik meja pendingin. Tapi anak itu pula yang akan dianggap “nakal” karena pulang larut, atau mengantuk di kelas.
Kita hidup dalam negara yang, menurut data, dua dari tiga rakyatnya berada di bawah garis kemiskinan. Usia sekolah rata-rata rakyat kita adalah tujuh tahun: belum tamat SMP. Maka, ketika pejabat bicara “disiplin”, kita patut bertanya: disiplin untuk siapa? Untuk tubuh yang lapar? Atau untuk otak yang ingin tahu tapi tak pernah diberi waktu?
Populisme kita berkembang subur dari ketidaktahuan yang dilestarikan. Pasar politik tak lagi mencari kebenaran, melainkan kesan. Yang penting tampak tegas, tampak peduli, tampak “berpihak”—meski yang diperjuangkan hanyalah cara mudah untuk disukai.
Rocky Gerung bilang, “Disiplin ala militer melarang membantah. Tapi pendidikan justru mengajarkan anak untuk membantah sejak dini.” Ironis, bahwa di negeri ini, membantah bisa dianggap durhaka. Padahal membantah adalah bagian dari berpikir. Maka benarlah, bahwa kekuasaan yang membenci perdebatan adalah kekuasaan yang takut pada kecerdasan.
Mungkin yang kita butuhkan bukan pejabat yang tahu cara membuat anak-anak takut, tapi yang tahu cara membuat mereka bermimpi. Bukan yang ingin tubuh-tubuh kecil itu berbaris rapi, tapi yang bersedia mendengarkan pikiran mereka yang acak dan tak selesai. Bukan yang ingin mempercepat pagi, tapi yang mau melambatkan waktu, agar di meja makan, seorang ayah dan anak sempat saling bertanya: “Mimpi kamu tadi malam tentang apa?”
Dan sekolah… semestinya bukan tempat untuk membuat anak tunduk, tapi tempat untuk membuat mereka tumbuh.

























