I. Pembuka: Sebuah Penantian yang Sunyi
Rakyat menanti.
Dengan sabar yang kian menyerupai kebisuan.
Mereka menanti bukan karena tak tahu apa yang sedang terjadi, melainkan karena terlalu sering berharap pada kekuasaan yang selalu berdalih bahwa “waktu akan menjawab segalanya.”
Kini giliran Prabowo. Ia duduk di kursi kekuasaan yang dulu dijanjikan akan membuatnya gemoy di mata rakyat. Tapi sebelum ia benar-benar melangkah, bayangan Jokowi masih lekat, seperti hantu yang enggan pergi sebelum utangnya dilunasi.
II. Tubuh: Persoalan Lama, Kekuasaan Baru
Persoalan itu bukan baru: dugaan pemalsuan ijazah, praktik nepotisme, kolusi dan korupsi yang membingkai masa kepemimpinan Jokowi, yang dengan berbagai cara dibungkam melalui aparat dan propaganda.
Kini, Prabowo memegang semua kunci.
Ia bisa membiarkan hukum bekerja sebagaimana mestinya.
Atau ia bisa menutup semua itu dengan satu keputusan prerogatif: abolisi.
Satu tanda tangan. Selesai. Rapi.
Sangat mudah.
Tapi justru karena terlalu mudah, kita bertanya:
Why?
Mengapa kekuasaan yang kini bersih dari bayang-bayang harus menanggung beban kesalahan masa lalu?
Apakah demi harmoni elite? Demi stabilitas politik yang semu?
Atau, apakah ini soal hutang budi dan kompromi panjang yang sudah dirancang jauh sebelum pemilu diselenggarakan?
III. Dilema Moral dan Politik
Memaafkan adalah kebajikan. Tapi ketika kejahatan tak pernah diakui, dan kebenaran tidak pernah dihadirkan, maka yang terjadi bukan pengampunan—melainkan pengkhianatan terhadap keadilan.
Jika Prabowo memilih diam, maka ia mengulangi pola para pendahulunya: menyapu debu sejarah ke bawah karpet demi tampilan rumah kekuasaan yang bersih.
Jika ia bertindak, maka ia mengambil risiko: meretakkan tatanan politik yang sudah nyaman dalam kebohongan bersama.
Namun begitulah pilihan para pemimpin besar: bukan memilih apa yang mudah, melainkan apa yang benar—meski harus sendirian.
IV. Penutup: Martabat dalam Pilihan
Sangat mudah memang bagi Prabowo untuk menyelesaikan urusan Jokowi.
Namun bangsa ini bukan hanya butuh penyelesaian administratif, melainkan penyembuhan moral.
Jika luka masa lalu dibiarkan membusuk, maka kita sedang membangun masa depan di atas kebusukan.
Dan sejarah akan mencatat bahwa kita kembali gagal memilih martabat demi kenyamanan.
Maka, bila Prabowo memilih jalan yang benar, meski berliku, mungkin untuk pertama kalinya rakyat akan percaya:
Bahwa pemimpin itu bukan hanya soal kemenangan, tapi juga soal keberanian menolak kompromi atas kebenaran.
Tapi, Why?
Karena justru di situlah jawaban sejatinya dimulai.

























