Dalam suatu acara, Rocky Gerung, pernah diminta untuk bisa mengapresiasi Jokowi, sehingga tidak di cap sebagai tukang nyinyir. Tapi kemudian RG meminta bukti. “Silahkan beri saya satu fakta saja, sehingga saya bisa memuji Jokowi”, kata RG kepada sipenanya. Memang secara kholistik, sejak Jokowi ini berkuasa, ia tak pernah bisa mencapai target, antara lain dalam pertumbuhan ekonomi, yang ia tetapkan sendiri. Angka yang pernah ditetapkannya adalah 7% pertahun. Raihan hasil kinerjanya, ada di kisaran maximal 6%, Bahkan tahun fiscal 2023 ini, keinginanannya meraih target 5.5%, tetapi prediksi para pakar, hanya akan sampai pada 4.5% saja. Lalu Sri Mulyani berdalih keadaan ekonomi dunialah penyebabnya, karena tidak dapat di prediksi.
Suatu hari, di Kamboja, bertemu dengan teman wartawan Australia. Bincang bincang sambil ngopi, Ia mengatakan bahwa Jokowi itu hebat!. Ia bisa bangun IKN dan KCJB tanpa menggunakan uang negara, katanya. Maksudnya non budgeter. Tidak di tetapkan dalam APBN.
Saya menduga, ini soal pembangunan Kereta Cepat itu. Idea awal hingarnya memang begitu. KCJB adalah proyek B to B, tanpa campur tangan uang negara. Dalam perjalanannya, Jokowi sendiri yang mengumumkan, berbeda dengan statemen diawal, bahwa proyek itu fully dibiayai dari APBN. Anggaran pembagunan KCJB itu dberasal dari utang ke China.
Proyek KA Cepat itu, designed negara, jauh hari sebelum Jokowi berkuasa. Awalnya Jepang, yang akan menangani KA Cepat itu, karena pertimbangan keahliannya dan loan – nya dengan bunga nol koma. Tetapi kemudian Jokowi memutusakan dikerjakan oleh China, dengan biaya bekali-kali lipat lebih besar, loan interestnya sangat tinggi dan ternyata biaya pembangunan terus membengkak, overrun. Schedule pekerjaan juga terlambat bertahun-tahun. Last but not least, kini menjadi masalah lagi dengan pemerintah China. China meminta, APBN menjadi jaminan loan-nya.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Panjaitan mengatakan China kekeh minta Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi penjamin pinjaman utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB). Namun, Luhut tak mengamini tuntutan China tersebut. Ia merekomendasikan penjaminan dilakukan melalui PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) alias PII.
“Memang masih ada masalah psikologis ya, jadi mereka (China) maunya dari APBN. Tapi kita jelaskan prosedurnya akan panjang. Kami dorong melalui PT PII karena ini struktur yang baru dibuat pemerintah Indonesia sejak 2018,” kata Luhut dalam konferensi pers di Kemenko Marves, Jakarta Pusat, Senin (10/4).
Dua proyek IKN dan KCJB itu, telah menelan anggaran negara yg sangat besar. Tetapi tak jelas manfaatnya untuk rakyat kecil.
Sampai sekarang, masyarakat Jepang, belum bisa melupakan gagalnya pemerintah Jepang, mendapat proyek Kerata Cepat tersebut; Alasan yang tak masuk akal ada benaknya; Biaya lebih murah, teknologi lebih canggih, pengalaman yang lebih lama dalam perkerata apian. Kalah oleh China, yang dinilai lebih rendah kualitasnya, biayanya mahal, loan interestnya tinggi dan ternyata sampai saat ini molor dan tetap bermasalah.
Gagal berikutnya, soal pemberantasan korupsi. Temuan PPATK yg diungkapkan Mahfud MD, adalah kata lain dari soal kinerja regime Jokowi yg korup.
Upaya membangun KPK supaya lebih baik dari sebelumnya, dg UU yg baru, ternyata makin loyo dan potret kisruh internal adalah kata lain, KPK produk regime ini, lebih buruk daripada produk KPK reformasi.
Besan sby pernah dihukum karena pengadilan tipikor KPK. Tapi laporan Ubaidilah Badrun ke KPK, soal ada indikasi penyimpangan bisnis anak-anak Jokowi, tidak ditindak lanjuti.
Korupsi di regime Jokowi, yang tidak bisa ditutup-tutupi adalah di Kemetrian Keuangan, Keminfo, dan kini vial di Kemenhub, sebelumnya di Kemensos dan Kemenpora. Yg belum terungkap, masih misteri, adalah soal bisnis vaccine (?)




















