Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Pegiat Media
Jakarta, KABNews.– Senin (10/4/2023), AG (15) divonis 3,5 tahun ditempatkan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) dalam kasus penganiayaan berencana Cristalino David Ozora (17) oleh Mario Dandy Satriyo (20). Vonis dijatuhkan oleh Hakim Tunggal Sri Wahyuni Batubara di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan.
Rabu (12/4/2023), Pengadilan Tinggi (PT) DKI Jakarta tidak mengabulkan banding Ferdy Sambo dan menguatkan putusan PN Jaksel yang memvonis mantan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri itu dengan hukuman mati dalam kasus pembunuhan berencana Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat.
PT DKI juga tetap memvonis Putri Candrawathi, istri Sambo, dengan hukuman 20 tahun penjara, dan Kuat Ma’ruf dengan hukuman 15 tahun penjara, serta Ricky Rizal Wibowo dengan hukuman 13 tahun penjara dalam kasus yang sama.
Nah, kedua kasus tersebut ternyata motif pemicunya sama, yakni soal perempuan. Bahkan bisa dikatakan Mario Dandy Satriyo merupakan Ferdy Sambo jilid 2. Betapa tidak?
Mario Dandy melakukan penganiayaan berencana terhadap David, Senin (20/2/2023), karena dipicu oleh pengaduan sang pacar, AG yang merasa dilecehkan secara seksual oleh David. Dalam persidangan, ternyata tuduhan pelecehan seksual itu tak terbukti.
AG memang disebut melakukan persetubuhan dengan David, tapi hal itu dilakukan atas dasar suka sama suka. Bukan pelecehan seksual atau pemerkosaan. Buktinya, AG tidak mengalami trauma. Sebab setelah itu, AG juga disebut melakukan persetubuhan dengan Mario, bahkan hingga lima kali.
David berpacaran dengan AG pada Desember 2022 dan putus pada awal Januari 2023. Kemudian AG mulai berpacaran dengan Mario pada 11 Januari 2023.
Ferdy Sambo melakukan pembunuhan berencana terhadap Yosua pun atas dasar pengaduan dari sang istri, Putri Candrawathi yang mengaku dilecehkan secara seksual oleh Yosua. Dalam persidangan, ternyata tuduhan pelecehan seksual itu tidak terbukti. Buktinya, Putri tak mengalami trauma. Ia tetap bisa satu mobil dengan Yosua dalam perjalanan darat dari Magelang, Jawa Tengah, ke Kompleks Polri Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan, tempat kejadian peristiwa (TKP) pembunuhan berencana pada Jumat (8/7/2022) kelabu itu. Pasca-peristiwa yang diklaim Putri sebagai pelecehan seksual tersebut, istri Ferdy Sambo itu bahkan sempat mencari-cari Yosua.
Dus, motif dan konstruksi hukum kasus penganiayaan berencana David oleh Mario, dan pembunuhan berencana Yosua oleh Sambo, dapat dikatakan sebangun. Bedanya, David tidak sampai meninggal dunia, paling tidak hingga tulisan ini disusun, sedangkan Yosua sampai meninggal dunia karena ditembak.
Perang karena Perempuan
Memang, demi seorang perempuan, seorang laki-laki sering kali rela melakukan apa saja. Bahkan nyawa pun dipertaruhkan. Itu terjadi karena laki-laki merasa superior di hadapan perempuan.
Lihat saja Cleopatra (69-30 SM). Ratu Mesir nan cantik jelita ini menjadi rebutan laki-laki di seantero dunia, sehingga perang pun rela mereka lakukan demi Cleopatra.
Begitu pun Perang Bubat yang terjadi di alun-alun Bubat, di bagian utara Trowulan, ibu kota Kerajaan Majapahit, tahun 1357 M. Bahkan Kerajaan Majapahit memudar dan akhirnya hancur gegara seorang perempuan.
Seperti dilansir Kompas.com, Kamis (6/4/2023), pemicu terjadinya Perang Bubat adalah rencana pernikahan politik Raja Majapahit Hayam Wuruk dengan Dyah Pitaloka Citraresmi, putri dari Raja Sunda Galuh, Prabu Linggabuana atau Prabu Maharaja (memerintah 1350-1357). Dyah Pitaloka terkenal kecantikannya di seantero Nusantara.
Hayam Wuruk pun mengirim sepucuk surat kehormatan kepada Linggabuana untuk melamar putrinya dan menyatakan pernikahan dengan anak raja akan diadakan di Majapahit. Linggabuana sebenarnya keberatan dengan lokasi pernikahannya, tetapi ia memutuskan tetap berangkat ke Majapahit bersama rombongannya.
Sesampainya di Majapahit, rombongan Linggabuana langsung disambut dengan baik dan ditempatkan di Pesanggrahan Bubat. Mengetahui kedatangan mereka, Gadjah Mada yang berambisi menguasai Kerajaan Sunda demi memenuhi Sumpah Palapa-nya pun menganggap kedatangan mereka sebagai bentuk penyerahan diri.
Gadjah Mada segera mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka Citraresmi bukan sebagai mempelai wanita, melainkan upeti. Hal inilah yang kemudian memicu terjadinya konflik antara Hayam Wuruk dan Gadjah Mada.
Sebelum Hayam Wuruk menyampaikan keputusannya, Gadjah Mada sudah lebih dulu mengirim pasukannya ke Pesanggrahan Bubat dan memaksa Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Pihak Sunda tidak terima dengan perlakuan tersebut sehingga memutuskan untuk melawan meskipun jumlah tentara mereka jauh lebih sedikit dibanding pasukan yang dikirimkan Gadjah Mada.
Pertempuran antara Linggabuana dan Gadjah Mada berlangsung sengit sehingga memakan banyak korban. Bahkan, seluruh pasukan Linggabuana tewas, hanya tersisa Dyah Pitaloka Citraresmi. Pada akhirnya, Dyah memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menusukkan tusuk konde ke jantungnya.
Tewasnya Dyah membuat Hayam Wuruk sangat terpukul. Akibatnya, hubungan Hayam Wuruk dengan Gadjah Mada menjadi renggang. Bahkan, Gadjah Mada dianggap lancang dan gegabah oleh para pejabat dan bangsawan Majapahit. Majapahit kemudian mengalami kemunduran dan benar-benar hancur pada 1400 M.
Pemicu kehancuran Majapahit adalah seorang perempuan, sebabagimana pemicu kehancuran Ferdy Sambo dan Mario Dandy Satriyo.




















