Fusilatnews – Ahmad Sahroni suka memamerkan dirinya sebagai “anak kampung jadi konglomerat.” Dari sopir bajaj, lalu kaya raya, masuk DPR, hingga kini jadi kolektor supercar. Tapi begitu ditantang debat terbuka oleh Salsa Erwina Hutagalung, seorang diaspora di Denmark, nyali “anak kampung” itu ternyata mengecil seperti balon kempes.
Alih-alih menyambut debat dengan elegan, yang terjadi justru kabar lebih memalukan: keluarga Salsa di Pamulang mulai didatangi orang-orang tak jelas. Apa ini gaya seorang wakil rakyat? Atau gaya juragan pasar gelap yang lebih senang mengirim tukang gebuk ketimbang mengirim argumen?
DPR atau Markas Ormas?
Kalau seorang anggota DPR tidak sanggup melayani kritik rakyat dengan otak, lalu memilih mengerahkan otot, untuk apa rakyat bayar gaji dan tunjangan miliaran per bulan? Kita kira DPR itu lembaga legislatif, rupanya hanya panggung geng jalanan yang dipoles dengan dasi. Kalau cara mainnya intimidasi keluarga, bukankah ini persis seperti preman pasar yang “narik setoran” sambil menebar ancaman?
Mobil Mewah, Otak Murahan
Sahroni boleh pamer supercar warna-warni, tapi apa gunanya mesin V8 kalau mentalnya cuma kelas vespa rongsok? Berani di depan kamera, tapi gemetar kalau diajak adu argumen. Inilah bukti paling nyata bahwa uang bisa membeli Ferrari, tapi tidak bisa membeli nyali dan akal sehat.
Diaspora Bikin Gentar
Ironisnya, yang membuat seorang politisi superkaya ini kalang kabut bukan mafia politik atau lawan politik sekelas jenderal, melainkan seorang diaspora—seorang perempuan di Denmark yang hanya mengajukan debat soal gaji DPR. Kalau menghadapi seorang Salsa Erwina saja sudah harus mengerahkan “pasukan bayangan,” bagaimana dia bisa menghadapi rakyat yang jumlahnya jutaan?
Wakil Rakyat Palsu
Mari kita bicara terus terang: seorang wakil rakyat yang takut pada rakyatnya sendiri bukanlah wakil rakyat, melainkan penipu rakyat. Kalau tugas DPR adalah menampung aspirasi, mengapa yang muncul justru intimidasi? Kalau perdebatan soal gaji saja sudah bikin Sahroni kalang kabut, lebih baik ia buka saja showroom supercar, tak usah sok-sokan duduk di kursi DPR.
Penutup
Sejarah bangsa ini sudah terlalu kenyang dengan politisi yang merasa besar karena harta, tapi kerdil karena keberanian. Ahmad Sahroni hanyalah contoh terbaru: besar di garasi, kecil di kepala.
Kalau benar ia kirim orang ke rumah Salsa, maka publik berhak bertanya: Sahroni ini wakil rakyat, atau sekadar bos preman yang kebetulan punya jas dan kursi di Senayan?


























