Oleh: Nazaruddin
Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613–1645) bukan sekadar raja penakluk. Ia adalah arsitek ulung yang membangun fondasi kejayaan Mataram sekaligus membentuk identitas budaya Jawa yang kita kenal hingga hari ini. Pada masanya, Mataram mencapai puncak kejayaan: kuat dalam militer, makmur dalam ekonomi, dan kaya dalam spiritualitas. Namun, warisan terbesar Sultan Agung justru bukan kemenangan militernya, melainkan kemampuannya merajut harmoni antara dua dunia: Islam dan budaya Jawa.
Dari Pedalaman Menuju Hegemoni Jawa
Sultan Agung memulai pemerintahannya dengan satu misi: menyatukan seluruh Jawa di bawah panji Mataram. Ia sadar, dominasi pedalaman tidak lengkap tanpa menguasai kota-kota pesisir yang kaya dan otonom.
- Pati. Penaklukan ini bukan sekadar ekspansi teritorial, melainkan pelunasan dendam lama antara keluarga Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Dari ketegangan politik inilah lahir kisah legendaris Roro Mendut dan Panglima Wiroguno—drama antara kekuasaan dan perlawanan yang hidup dalam ingatan Jawa.
- Tuban. Sebagai pelabuhan penting di jalur perdagangan utara, Tuban menjadi sasaran strategis. Mataram memadukan kekuatan militer dengan blokade ekonomi, hingga kota dagang ini akhirnya tunduk.
- Surabaya. Penaklukan Surabaya adalah yang terpanjang dan paling melelahkan. Lebih dari satu dekade, Mataram mengepung kota ini, memutus suplai pangan, bahkan mengalihkan aliran sungai demi melemahkan ketahanan Surabaya. Baru setelah kehancuran sosial-ekonomi, Surabaya menyerah—meneguhkan supremasi Mataram di Jawa.
- Giri Kedaton. Penaklukan Giri pada 1636 merupakan puncak prestasi Sultan Agung. Sebagai pusat otoritas keagamaan keturunan Sunan Giri, Giri memiliki pengaruh spiritual yang luas. Dengan menaklukkannya, Sultan Agung mengintegrasikan kekuasaan duniawi dan ukhrawi dalam satu genggaman.
- Sumenep. Penaklukan Madura diikuti dengan kebijakan relokasi penduduk ke Tapal Kuda (Besuki dan sekitarnya). Strategi ini bukan hanya pengendalian politik, tetapi juga rekayasa demografi sekaligus upaya menggerakkan ekonomi agraris.
Sintesis Mistik: Islam dan Jawa
Inilah warisan terpenting Sultan Agung: menyatukan Islam dengan tradisi Jawa dalam sebuah sintesis kultural. Sejarawan M.C. Ricklefs menyebutnya “mystic synthesis”—perpaduan identitas yang kokoh dan berkelanjutan.
Sultan Agung memahami, legitimasi politik tanpa sandaran spiritual akan rapuh. Karena itu ia membangun identitas baru: menjadi Jawa berarti sekaligus menjadi Muslim. Tiga pilar sintesis ini adalah pengakuan bahwa Jawa telah Islam, pengamalan rukun Islam, dan penerimaan tradisi spiritual lokal seperti penghormatan pada Ratu Kidul.
Pada 1633, ia mereformasi kalender dengan menggabungkan sistem Saka (Hindu-Jawa) dengan Hijriah (Islam). Tahun tetap dihitung menurut Saka, sementara bulan dan hari mengikuti Hijriah. Dari sinilah lahir Kalender Jawa, simbol kompromi yang meneguhkan dua warisan besar.
Tradisi keagamaan juga dipadukan dengan budaya lokal. Sekaten (peringatan Maulid Nabi) dan Grebeg dijadikan wahana dakwah melalui gamelan dan ritual keraton. Islam hadir bukan dengan pemaksaan, melainkan melalui harmoni dengan akar budaya Jawa.
Ekonomi Makmur, Batavia Takluk
Dengan menguasai lahan agraris subur dan jalur perdagangan, Mataram menikmati puncak kemakmuran. Produksi beras meningkat, sistem pajak diperbaiki, dan hasilnya menopang proyek besar serta ekspedisi militer.
Namun, ambisi Sultan Agung untuk mengusir VOC dari Batavia berakhir pahit. Dua kali serangan besar—1628 dan 1629—gagal total akibat logistik yang buruk, wabah penyakit, dan pertahanan VOC yang kokoh. Kegagalan ini menandai awal dominasi kolonial Belanda yang kelak akan menggerus kekuatan Mataram.
Warisan yang Melampaui Zaman
Meski gagal menyingkirkan Belanda, warisan Sultan Agung tetap monumental. Ia bukan hanya raja dengan pedang, melainkan juga pemikir dengan pena. Ia menaklukkan Jawa, tetapi lebih penting lagi, ia menanamkan sebuah identitas yang bertahan lintas generasi.
Dari dialektika Islam dan Jawa, lahirlah sebuah peradaban unik—peradaban yang tetap kita rasakan hingga kini. Kejayaan Sultan Agung bukan hanya tentang kekuasaan, melainkan tentang kebijaksanaan merajut perbedaan menjadi kekuatan bersama.

Oleh: Nazaruddin























