Damai Hari Lubis – Pengamat Hukum & Politik Mujahid 212
Dalam dunia politik tidak dikenal kata netral, karena makna netral dapat dianalogikan sebagai bentuk antipati.
Bereda kabar Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia/KAMI ambil sikap politik Netral terkait pilihan bakal calon Presiden saat Pemilu Pilpres 2024, ” sehingga rekan aktivis pro nalar sehat, ” nyatakan diri keluar dari KAMI.
Bagaimana bisa netral dalam suasana memilih seorang bakal pemimpin sebuah bangsa dan negara? Walau para calon pemimpin atau bakal presiden yang ada, memiliki plus minus, atau sekalipun tidak ada yang ideal. Dalam dunia politik tidak dikenal kata netral, karena makna netral dapat dianalogikan sebagai bentuk antipati.
Jika dibuat ilustrasi atau hal yang dapat digambarkan adanya temuan public, sesuai data empirik, ada dua orang atau tiga orang bakal Capres 2024-2029 yang akan dimajukan oleh masing – masing kelompok koalisi partai, demi untuk memimpin negara atau kepala pemerintahan, dan nyata diantara calon-calon dimaksud, justru ada 2 (dua) orang individu yang berjanji dan atau diminta melanjutkan gaya kepemimpinan yang tidak berkualitas, karena begitu banyaknya hasil dari praktik yang berasal dari sistim tata kelola dan atau manajerial kepemimpinan di era pemerintahan Jokowi menggunakan pola yang tidak jelas, dan tidak cakap, berdampak kandasnya wibawa Jokowi sebagai seorang Presiden RI.
Banyak dusta dan puluhan janji bohong atau janji yang tidak ditepati, didapati beberapa individu pejabat penyelenggara tinggi negara terpapar korupsi, utang negara bertumpuk, selebihnya beberapa diskresi atau kebijakan politik yang diterbitkan overlaped atau sungsang antara satu dengan yang lainnya.
Pola kebijakan ekonomi, hukum politik, adab & moralitas didalam kepemimpinannya nampak bergaya suka-suka (anomali), serta telanjang kasat-mata, banyaknya aparat memperalat kursi kekuasaan atau jabatan yang dimiliki, sebagai alat politik, hukum dan memperkaya diri sendiri.
Selainnya, ada sosok pilihan yaitu Anies Baswedan, eks Gubernur DKI. Jakarta, seorang yang cakap, kredibel (profesional & proporsional) serta akuntabel, adalah sosok ideal untuk dijadikan seorang pemimpin. Kepribadian Anies Baswedan yang memiliki leadership (jiwa kepemimpinan) juga disertai track record yang nyata dalam bentuk sejumlah prestasi sebagai bukti banyaknya karya yang dihasilkan saat menjadi Gubernur DKI. Jakarta, prestasinya selain diakui ditingkat nasional juga berskala internasional.
Fenomena dinamika politik yang ada, serta mengingat pentingnya proses suksesi kepemimpinan nasional 2024-2029, melalui ajang pesta demokrasi Pemilu Pilpres-24. Jika ada kelompok yang tidak mau berpartisipasi, tidak mau berpihak kepada siapapun, termasuk enggan mendukung dan memilih sosok bakal Presiden RI dii Pemilu Pilpres 2024, atau netral seperti garis politik yang dinyatakan kelompok KAMI, “pantas, bagi mereka jika dianalogikan dengan julukan sebagai banci”. Ia sebuah perumpamaan status yang bukan lelaki juga bukan perempuan, karena tidak mau ikut menentukan nasib bangsa kedepan, dengan sikap tidak bersikap memilih bakal calon pemimpin bangsa, melainkan tidak perduli apapun yang akan terjadi.
Tidak dapat dibayangkan, seandainya penguasa baru nanti, yang duduk di kursi RI. 1. adalah penerus dan pelanjut seorang pemimpin yang nota bener-bener gagal. Ini artinya dirinya berkomitmen melanjutkan “kegagalan”. La akan menambah utang menjadi beban negara. Subtansial inti sebenarnya merupakan beban utang dari seluruh anak bangsa secara Lintas SARA.
Alasan mundurnya Syahganda Nainggolan dari KAMI adalah presisi tepat. KAMI yang telah menyatakan akan mengambil langkah netral dalam popres 2024, maka “patut dianalogikan sebagai langkah tak perduli atau antipati terhadap kepemimpinan bangsa yang tentunya berhubungan erat dengan masa depan bangsa negara”.
Sisi positifnya, sebagai pelajaran publik bagi, dengan mundurnya Syahganda dari KAMI, Ia telah menunjukan konsistensi dalam berpolitik. Ini sekaligus pelajaran politik kepada publik, bahwa siapapun individu, atau kelompok, apapun jabatannya, jika bersikap netral dalam menentukan Calon Bakal Presiden RI. 2024, “harus segera ditinggalkan, karena kawan yang netral bukan sahabat yang dapat diandalkan dan tidak dapat dibanggakan, melainkan sulit dipercaya. Memilih prinsip tidak mau peduli kepada nasib bangsa dan negaranya sendiri, serta tidak mau berpartisipasi. Pantas jika disimpulkan, yang “berdiri diam diantara hak dan batil” adalah KEBATHILAN.





















