Ia minta maaf. Katanya, ia lalai. Saya berhenti sejenak pada kata itu: lalai.
Dalam kosa kata hukum, “lalai” biasanya tak seberat “korupsi”. Ia terdengar lebih lunak, lebih manusiawi. Tapi dalam dunia yang telah dicemari satu triliun rupiah, “lalai” menjadi kata yang bergema seperti ironi.
Yang bicara adalah seorang mantan pejabat Mahkamah Agung. Lembaga itu, bagi banyak orang, adalah puncak moral hukum kita—atau setidaknya, mestinya begitu. Di sana, keadilan tidak hanya ditegakkan, tapi ditafsirkan. Ia seperti menara pengawas di tengah ladang semrawut: tinggi, angkuh, tak tersentuh. Tapi kini kita tahu, menara itu bisa retak dari dalam.
Ia tak bicara banyak. Tak menangis. Tak pula membela diri habis-habisan. Hanya satu kalimat pendek: “Saya lalai.” Dan seperti semua kejahatan yang sudah terlalu besar, kalimat itu terdengar tak cukup. Seperti seorang penyulut kebakaran hutan yang berkata, “Saya lupa matikan rokok.”
Tapi barangkali, justru di situ letak luka kita. Bukan hanya karena ada seorang hakim tinggi yang menerima suap sebesar satu triliun. Tapi karena ia menganggap itu sebagai “kelalaian”.
Barangkali, seperti seorang dokter yang tak mencuci tangan sebelum operasi. Atau pilot yang lupa menarik tuas saat mendarat. Tapi ini lebih dari itu. Ini bukan keteledoran sehari-hari. Ini bukan lupa kunci rumah atau dompet. Ini adalah pembusukan yang dikerjakan pelan-pelan, sadar sepenuhnya, oleh seseorang yang tahu apa itu hukum.
**
Saya teringat satu esai lama dari George Orwell, tentang kekuasaan yang membuat bahasa kehilangan makna. Bagaimana “invasi” disebut “operasi pembebasan”, bagaimana “penyiksaan” disebut “interogasi mendalam”. Dan kini: bagaimana “korupsi besar-besaran” disebut “kelalaian”.
Bahasa bisa menjadi pelindung terakhir kebusukan, ketika moral tak lagi bekerja. Maka ketika seorang mantan hakim agung memilih kata “lalai”, saya bertanya-tanya: siapa yang ia lindungi?
**
Tapi yang paling menyedihkan, bukanlah kebohongan dalam kata itu. Melainkan kenyataan bahwa kita sudah terbiasa mendengarnya. Bahwa publik nyaris tak marah. Bahwa berita tentang suap satu triliun itu berlalu di antara gosip selebriti dan skor pertandingan bola.
Kita sudah kelelahan. Atau mungkin sudah menyerah. Kita membiarkan api kecil menyala di beranda, sambil berharap angin tak terlalu kencang.
**
Seorang filsuf mengatakan, tak ada keadilan tanpa rasa malu. Tapi di sini, rasa malu telah ditukar dengan konferensi pers. Dengan senyum tipis. Dengan kalimat pendek: “Saya lalai.”
Saya bertanya-tanya, apakah ia akan mengulanginya di hadapan anaknya sendiri? Di ruang keluarga, saat makan malam, dengan televisi menyala dan suara nyaring iklan pemutih wajah?
Atau apakah ia tahu, bahwa sejarah tak mencatat kalimat maaf sebagai pelipur? Ia mencatatnya sebagai bekas luka.





















