• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Sayap-sayap Patah dan Pemberhentian Tidak Dengan Hormat

fusilat by fusilat
September 5, 2022
in Feature
0
Sayap-sayap Patah dan Pemberhentian Tidak Dengan Hormat

Ilustrasi(KOMPAS/HANDINING)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Ari Junaedi Akademisi dan konsultan komunikasi

PARUH 1970-an, setiap menemani kakek mengambil uang pensiunnya ke Kantor Pos Besar Kota Malang, Jawa Timur, sebagai pensiunan Mobil Brigade (kini Brimob Polri) ada rasa “kesenangan” yang luar biasa. Biasanya kakek tidak akan lupa untuk mampir ke pasar barang bekas di Comboran. Comboran hingga sekarang masih dipenuhi lapak-lapak yang menjual barang bekas. Galibnya, kakek akan menuruti keinginan saya untuk membeli mainan – walau bekas – untuk nantinya akan diperbaiki lagi agar lebih bagus.

Kakek hanya sanggup membelikan mainan bekas karena besaran uang pensiunnya harus dibagi-bagi untuk keperluan yang lain. Setiap pulang mengambil uang pensiun, kami berjalan kaki melewati Toko Oen di Kawasan Kajoetangan (sekarang Jalan Basuki Rahmat) untuk sekadar “menghirup” bau sate ayam yang sedang dibakar.

Betul, kami hanya menghirup saja asap bakaran sate di restoran legendaris di Malang tersebut karena memang kakek saya tidak akan mampu membeli sate ayam bertarif mahal untuk makanan dan minuman yang dijualnya. Kalau pun saya merengek ingin sate ayam, kakek pasti akan membelikannya di pedagang sate asal Madura yang menjadi langganannya. Selain enak, tentu saja berporsi banyak dan murah. Murah, selalu menjadi kosakata pilihan kakek saya dan menurun ke ayah saya yang pensiunan TNI-AD.

Bagi kami keluarga pensiunan Polri dan tentara, ajian kata “murah” selalu ditempuh untuk menyiasati kehidupan dari penghasilan yang “pas-pasan”. Kini, kakek dan ayah saya sudah lama wafat, tetapi menyisahkan kisah kebanggaan bagi kami sekeluarga. Kami bisa menamatkan pendidikan, berkeluarga dan mandiri karena kakek saya bukan pensiunan sebagai Kepala Divisi Propam Polri seperti pecatan Irjen Pol. Ferdy Sambo atau pensiun sebagai Kapolres Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Kombes Edwin Hatorangan Hariandja yang keduanya diberhentikan tidak dengan hormat. Beruntung kami tidak dibesarkan dengan sogokan uang judi dan uang narkoba walau kami ketika kecil begitu marah dengan olokan “prit jigo”.

Kakek dan ayah saya sudah begitu bangga dengan pangkat bintaranya dan pensiun dengan bangga. Bukan berpangkat melati tiga atau bintang dua, tetapi dipecat dengan tidak hormat! Prit jigo adalah olokan untuk polisi yang menerima uang Rp 25, karena telah membebaskan pelanggar lalu lintas. Nilai mata uang Rp 25 kala itu sangat besar walau sekarang telah bermetamorfosis menjadi “prit milyaran” seperti kasus Kapolres Bandara Soekarno Hatta yang menerima suap Rp 3,9 miliar dari narkoba yang disita anak buahnya. Menyaksikan film layar lebar “Sayap-Sayap Patah” yang tengah diputar di berbagai bioskop di tanah air, kita seperti diajak “mentertawakan” antara polisi idealis yang ada dalam cerita film dengan polisi yang layak diberhentikan dengan tidak hormat.

Aji yang diperankan Nicholas Saputra adalah gambaran perwira muda polisi yang begitu idealis. Sebagai anggota Densus 88, hampir sebagian besar hidupnya dihabiskan dalam memburu sel-sel jaringan teroris. Sementara Nani yang diperankan Ariel Tatum menjadi personifikasi istri polisi yang nrimo. Melihat tayangan “sayap-Sayap Patah”, penonton serasa diingatkan menjadi polisi itu begitu mulia. Waktu pribadinya dihabiskan untuk melindungi rakyat dari ancaman teroris. Andai saja ada ratusan polisi mirip “Aji” saya kira rakyat akan bangga dengan korps berbaju cokelat tersebut. “Sayap-Sayap Patah” juga mengingatkan penonton bahwa masih ada polisi yang baik di tengah merosotnya reputasi Polri di mata masyarakat.

Bayangkan saja, film mengambil kejadian nyata dari peristiwa pemboman kantor Polres Surabaya dan kerusuhan tahanan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok (2018). Lima personel Polri yang gugur dalam peristiwa tersebut menjadi bukti mereka bertaruh nyawa dalam menjalankan tugasnya memberi pengayoman dan rasa aman di masyarakat. Pasti penonton yang sudah menyaksikan tayangan film “Sayap-Sayap Patah” akan mengidolakan kesederhanaan Aji. Selain berparas ganteng, Aji juga berperilaku ksatria. Mengedepankan panggilan tugas sekalipun Nani istrinya tengah hamil tua. Kediaman polisi muda ini berada di tengah pemukiman padat dengan hidangan yang cukup semenjana.

Saya tidak melihat Aji mengenakan baju merek “Burberry” seharga 470 dolar AS atau setara Rp 7 juta sepotongnya atau Nani menggamit tas “Gucci” seharga Rp 17 juta. Andai saja ada personel polisi seperti Aji, Ridwan dan polisi yang baik di sekitaran Irjen Pol Ferdy Sambo, tentu tidak ada puluhan polisi yang terseret dalam pusaran kasus Duren Tiga. Saya tidak bisa membayangkan ada personel polisi peraih Adhi Makayasa ikut pula terseret dalam skenario jahat Ferdy Sambo.

Pemberhentian Tidak Dengan Hormat

Pemerintahan era Soeharto selain menyisahkan praktik-praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) juga terbiasa menggunakan bahasa sebagai alat politik. Kenaikan harga bahan bakar minyak disebutnya sebagai “penyesuaian harga”, padahal harganya jelas-jelas naik.

Dipaksa mundur karena rakyat sudah tidak menghendaki lagi berkuasa, dibilangnya mandeg pandhito. Masak orang diminta mundur karena rakyat sudah muak dengan perilaku KKN-nya pantas disebut pandhito? Istilah PTDH alias pemberhentian dengan tidak hormat jika mengacu pada Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Polri adalah salah satu sanksi pelanggaran kode etik yang dijatuhkan kepada polisi pelanggar.

 Sanksi administratif berupa rekomendasi PTDH tersebut akan dikenakan kepada anggota yang melanggar kode etik. Pelanggaran yang dimaksud sebagai berikut: dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dan menurut pertimbangan pejabat yang berwenang tidak dapat dipertahankan untuk tetap berada dalam dinas Polri; diketahui kemudian memberikan keterangan palsu atau tidak benar pada saat mendaftarkan diri sebagai calan anggota Polri. Selain itu, PTDH direkomendasikan untuk personel Polri yang melakukan usaha atau perbuatan yang nyata-nyata bertujuan untuk mengubah Pancasila, terlibat dalam gerakan, atau melakukan perbuatan yang menentang negara dan/atau pemerintah Indonesia; melanggar sumpah/janji anggota Polri, sumpah/janji jabatan dan atau kode etik profesi Polri; meninggalkan tugasnya secara tidak sah dalam waktu lebih dari 30 hari kerja secara berturut-turut.

Demikian pula melakukan perbuatan dan berperilaku yang dapat merugikan dinas kepolisian, antara lain, berupa; kelalaian dalam melaksanakan tugas dan kewajiban, dengan sengaja dan berulang-ulang dan tidak menaati perintah atasan, penganiayaan terhadap sesama anggota Polri, penggunaan kekuasaan di luar batas, sewenang-wenang, atau secara salah, sehingga dinas atau perseorangan menderita kerugian bisa dikenakan PTDH.

PTDH juga dijatuhkan untuk perbuatan yang berulang-ulang dan bertentangan dengan kesusilaan yang dilakukan di dalam atau di luar dinas dan kelakuan atau perkataan di muka khalayak ramai atau berupa tulisan yang melanggar disiplin. Melakukan bunuh diri dengan maksud menghindari penyidikan dan atau tuntutan hukum atau meninggal dunia sebagai akibat tindak pidana yang dilakukannya. Demikian pula menjadi anggota atau pengurus partai politik yang diketahui kemudian telah menduduki jabatan atau menjadi anggota partai politik dan setelah diperingatkan atau ditegur masih tetap mempertahankan statusnya tersebut juga layak menerima PTDH.

Dijatuhi hukuman disiplin lebih dari tiga kali dan dianggap tidak patut lagi dipertahankan statusnya sebagai anggota Polri juga pantas mendapat PTDH. Tidak hanya itu, PTDH juga dapat dikenakan bagi polisi pelanggar kewajiban dan larangan yang telah ditetapkan bagi anggota Polri (Beritasatu.com, 25 Agustus 2022).

Jika menilik kadar kesalahan Irjen Pol Ferdy Sambo yang menjadi otak pembunuhan Brigadir Yosua beserta polisi-polisi yang terlibat dalam obstruction of justice atau upaya menghalang-halangi proses hukum seperti Mantan Kasubbagaudit Baggaketika Rowaprof Divisi Propam Polri Kompol Chuck Putranto dan Mantan Kasubbagriksa Baggaketika Rowabprof Divisi Propam Polri Kompol Baiquni Wibowo, mereka memang layak mendapat PTDH. Menurut saya, saatnya di era keterbukaan seperti ini mereka memang tidak layak mendapat hormat lagi. Perilaku tercela mereka sangat merusak nama baik institusi.

Harusnya istilah PTDH direvisi saja menjadi PTSM alias “Perbuatan Tercela Sangat Memalukan”. Belum lagi reda kasus Sambo serta belum terkuaknya misteri “Kerajaan Sambo dan Konsorsium 303”, publik tercengangkan dengan perilaku personel polisi di tingkat bawah seperti Polsek Penjaringan, Jakarta Utara. Secara kompak dan berjamaah, Kepala Unit Reserse Kriminal (Kanit Reskrim) AKP M. Fajar dan tujuh anak buahnya menjadi backing judi online (Kompas.com, 02/09/2022).

Mereka jelas layak tidak mendapat kehormatan sebagai bhayangkara negara. Mereka pantas menyandang “perbuatan tercela sangat memalukan”. Di tingkat polres, kelakuan Kapolres Bandara Soekarno Hatta Kombes Edwin Hatorangan Hariandja yang “sudi” menerima uang dari hasil narkoba jelas sangat memalukan nama institusi yang dinaunginya. Polisi yang mau terima sogokan dari narkoba seperti melupakan dan masa bodoh dari efek buruk narkoba. Entah apa yang dipikiran Kombes Edwin Hatorangan Hariandja, jika pengguna narkoba adalah kerabatnya sendiri. Personel yang tega membunuh, menjadi pelindung bandar judi atau malah menjadi kaki tangan bandar narkoba pantas menerima pemecatan karena “perbuatan tercela sangat memalukan”.

Publik masih menanti terus sikap tegas Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk menindak tegas personelnya tanpa pandang bulu. Janji Kapolri yang akan “memotong kepala jika tidak mampu membersihkan ekor” masih dinanti pendamba keadilan. “Perlu diketahui bahwa kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede siapapun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi kalau salah tetap kita tindak. Lebih baik hidup melarat daripada menerima suap atau korupsi” – Jenderal Pol. Hoegeng Imam Santoso (Kapolri 1968 – 1971).

Ari Junaedi | Akademisi dan konsultan komunikasi | Doktor komunikasi politik & Direktur Lembaga Kajian Politik Nusakom Pratama.

Dikutip Kompas.com Minggu, 9 Agustus 2022

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Presidential Threshold (PT) 0% cermin Politik Demokratis

Next Post

Kali Ini Puan Maharani Silaturahmi Ke Hambalang Membawa Pesan Megawati

fusilat

fusilat

Related Posts

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi
Birokrasi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Feature

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?
Feature

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026
Next Post
Sindiran Puan Pemimpin Ganteng Tidak Bisa Kerja, Serangan Terhadap Ganjar?

Kali Ini Puan Maharani Silaturahmi Ke Hambalang Membawa Pesan Megawati

Heboh Pedagang di Bandung Terima Amplop Kosong Bantuan Jokowi, Ini Respon Istana

LSI : Terkini Tingkat Kepuasan Masyarakat Atas Kinerja Jokowi Meningkat Lagi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci
daerah

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

by Karyudi Sutajah Putra
April 23, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Untuk ke-9 kalinya, Setara Institute merilis data Indeks Kota Toleran (IKT). Ada 10 kota yang masuk dalam kategori...

Read more
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026
Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist