Fusilatnews – Sejarah itu ibarat gerbong KRL yang datang dan pergi. Warga tersedot ke perutnya. Lalu dibawa pergi entah ke mana, seturut mau masinis tinggi. Dia meninggalkan ruang hampa ingatan di belakang. Dan kini, kondektur baru datang: Fadli Zon katanya mau menulis ulang sejarah Indonesia. Waduh!
Saya kaget, mas. Bukan karena dia mau menulis. Tapi karena sejarah—yang katanya milik bangsa—kok bisa ditulis sesuka hati? Kayak tukang martabak ngatur topping. Hari ini pakai telur bebek, besok gak pakai tragedi 1998. Lah, ini sejarah atau makanan diet?
Sebentar, saya seruput kopi hitam dulu. Kalau bicara sejarah yang dilucuti, perlu cafein buat menenangkan amarah. Karena tragedi 1998 itu bukan sekadar episode. Itu titik balik. Itu detik rakyat menolak ditindas. Itu luka kolektif yang belum kering. Tapi sekarang, katanya mau ditulis ulang dengan tinta nasionalisme versi partai kuning yang lagi cari wibawa?
Saya cuma rakyat mabuh, mas. Gak punya gelar. Gak punya kursi. Tapi saya punya ingatan. Saya ingat waktu itu rumah teman saya di Ciputat dilempari. Saya ingat bau ban terbakar dan teriakan mahasiswa di kampus. Saya ingat wajah ibu-ibu yang lari di Glodok. Apa Fadli mau bilang itu fiksi? Atau cuma “ketegangan sosial” semata?
Kalau sejarah disulap jadi brosur promosi kekuasaan, lalu kita hidup di negeri apa ini? Republik Amnesia? Dimana mereka yang paling lantang bicara sejarah justru yang paling getol menghapusnya?
Saya bayangkan sejarah versi Fadli itu seperti KRL tanpa rem. Laju terus, tanpa lihat penumpang sudah jatuh atau belum. Yang penting sampai ke stasiun bernama “Versi Kami”. Tapi bagaimana dengan para penumpang yang pernah dilempar keluar dari gerbong, dihantam keras di tikungan Orde Baru?
Kalau Fadli jadi penulis sejarah, saya minta satu hal: jangan pakai pena tinta emas. Pakailah air mata ibu-ibu yang kehilangan anak. Pakailah debu-debu bekas demonstrasi. Pakailah bau darah dan keringat mahasiswa. Supaya buku itu tidak hanya mewah di toko buku, tapi menggetarkan mereka yang membacanya dengan hati.
Sebab sejarah bukan milik partai. Bukan milik kekuasaan. Sejarah milik mereka yang pernah jatuh di jalan, demi berdirinya negeri ini lebih waras. Kalau Fadli menulis, saya hanya bisa berdoa, semoga masinis tinggi itu sadar: bahwa kereta ini bukan milik dia seorang.
Kalau tidak, ya sudahlah. Kita tunggu saja kereta selanjutnya. Semoga ada masinis baru, yang mau membaca peta sejarah dengan jujur. Sambil menunggu, saya mabuh dulu.
Penumpang kelas ekonomi,- Terseret sejarah tanpa tiket.


























