Fusilatnews – Langit di atas Teheran malam itu tak lagi gelap. Serangkaian cahaya membelah angkasa, lalu menggema dentuman. Iran menuding Israel sebagai biang kerok. Israel tak menyangkal, bahkan mengumumkan nama operasi militer dengan lantang: Operation Rising Lion.
Perang tak lagi berupa manuver diplomasi, atau debat di Dewan Keamanan PBB. Kini ia menjelma ledakan rudal balistik, drone pembunuh, dan propaganda digital. Di tengah semua itu, warga sipil kembali menjadi korban utama.
Sejak 13 Juni 2025, Israel melancarkan serangan masif ke jantung pertahanan Iran. Targetnya: fasilitas militer, pabrik rudal, bahkan—menurut laporan dari kanal militer barat—pusat pengayaan uranium di Natanz. Iran merespons dengan cara yang sama brutal: menembakkan ratusan rudal ke kota-kota Israel, menghantam mall di Kiryat Ekron, dan apartemen di Bat Yam. Sedikitnya sembilan warga sipil tewas, ratusan lainnya luka-luka. Hanya dalam hitungan hari, Timur Tengah kembali berubah menjadi etalase kehancuran.
Tak ada pernyataan gencatan senjata. Tak ada diplomasi terbuka. Hanya sabda Ayatollah Khamenei yang menuding ini awal “pertempuran panjang”, dan pernyataan Benjamin Netanyahu bahwa Israel “akan memotong tangan siapa pun yang menyerangnya.”
Lebih dari 400 rudal diluncurkan Iran ke arah Israel. Angka itu terdengar mengerikan, namun sistem pertahanan Iron Dome berhasil menangkis sebagian besar serangan. Tapi biaya pengoperasian sistem pertahanan canggih itu mencapai $50 juta sehari. Dalam lima malam, lebih dari seperempat triliun rupiah melayang demi menangkis perang yang tak kunjung berhenti.
Pertanyaan besar menggantung di udara: ke mana arah konflik ini? Apakah ini hanya permainan unjuk gigi? Atau benih menuju perang regional berskala besar, dengan Amerika Serikat dan Rusia bermain bayang-bayang?
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang tengah mengejar masa jabatan ketiganya, menyuarakan nada konfrontatif: Iran harus menyerah tanpa syarat. Tapi CIA justru mengeluarkan analisis berbeda: Iran belum memiliki senjata nuklir aktif. Washington pun terbelah, seperti biasa.
Sementara itu, dunia hanya bisa menghela napas panjang. Eropa mengutuk kekerasan, tapi pada saat yang sama menyatakan dukungan terhadap hak Israel untuk membela diri. Retorika yang sama sejak konflik ini pertama kali meletus lebih dari 70 tahun lalu.
Di balik layar, pertikaian ini bukan cuma soal rudal dan jet tempur. Ia adalah pertarungan ideologi, perebutan pengaruh, dan—tak bisa dihindari—bisnis senjata. Konflik menciptakan pasar. Perang menciptakan permintaan. Dan Timur Tengah sudah terlalu lama menjadi laboratorium bagi industri militer dunia.
Tak ada kemenangan yang layak dirayakan jika warga sipil tewas. Tak ada kebanggaan dalam perang yang menghancurkan masa depan generasi muda. Tetapi, seperti dikutuk sejarah, para pemimpin terus bermain api, membakar masa depan rakyat demi ambisi dan ego yang tak pernah kenyang.
Ketika dunia bertanya mengapa perdamaian begitu mahal, jawabannya mungkin sederhana: karena perang telah menjadi komoditas yang terlalu menguntungkan.

























