• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

NEGARA DAN INGATAN: ANTARA KEBENARAN DAN KEPERLUAN

Radhar Tribaskoro by Radhar Tribaskoro
June 19, 2025
in Feature, Sejarah
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Radhar Tribaskoro

Ada masa ketika sejarah ditulis dengan tinta kekuasaan. Dan ada masa, yang lebih sunyi, ketika sejarah hanya tinggal gema—tanpa saksi, tanpa kata, tanpa pelajaran.

Pada pagi hari yang tidak terlalu terang, saya teringat sebuah fragmen dalam buku catatan Albert Camus. Katanya, “Kita bukan apa yang kita katakan. Kita adalah apa yang kita diamkan.” Sejarah, bagi negara, seringkali demikian: ia bukan cerita tentang apa yang diumumkan, melainkan tentang apa yang dilupakan.

Seorang teman lama—sejarawan yang lebih banyak membaca arsip kolonial daripada surat kabar hari ini—pernah berkata bahwa negara tak bisa tidak, mesti punya tafsirnya sendiri tentang sejarah. “Bagaimana mungkin sebuah bangsa berdiri, bila ia tidak tahu dari mana ia datang?”

Saya mengangguk waktu itu. Lalu bertanya balik: “Tapi, siapa yang berhak menentukan ‘dari mana kita datang’ itu?”

Negara, seperti juga institusi agama, adalah pencipta simbol. Ia membutuhkan narasi yang kokoh. Bukan karena sejarah itu benar, melainkan karena sejarah itu perlu. Maka diceritakanlah bahwa 17 Agustus 1945 adalah detik yang serempak menubuhkan republik. Bahwa proklamasi adalah kontrak sosial. Bahwa Pancasila adalah hasil perenungan mendalam para pendiri bangsa.

Tapi siapa yang mencatat kegamangan Soekarno pada pagi 17 Agustus itu? Siapa yang mencatat bahwa setelah membacakan teks proklamasi, ia pulang dan tidur, karena tidak tahu harus berbuat apa lagi?

Negara tidak tertarik pada kegamangan. Negara tertarik pada ketegasan. Karena yang rapuh terlalu manusiawi. Dan negara—seperti segala bentuk kekuasaan—selalu berusaha menjauh dari manusia.

Sejarah versi negara bukan pengetahuan, melainkan proyek. Ia disusun dalam rapat-rapat kurikulum, diumumkan dalam peringatan nasional, disponsori oleh anggaran kementerian, dan akhirnya dihafalkan oleh anak-anak sekolah yang hanya ingin lulus ujian.

Kita tumbuh dengan pelajaran sejarah yang tak pernah menyebut Soe Hok Gie, tapi mengenang G30S/PKI saban tahun lewat film propaganda. Kita tidak diajarkan bahwa Kartini menulis surat kepada sahabatnya, Stella, yang tidak percaya pada Tuhan. Kita lebih tahu siapa yang mengangkat senjata ketimbang siapa yang menulis surat cinta pada kemerdekaan.

Negara menyukai pahlawan yang bertempur, bukan pahlawan yang bertanya.

Padahal, bangsa yang sehat adalah bangsa yang ingat. Dan ingatan yang sehat bukanlah ingatan yang seragam, tetapi ingatan yang membuka ruang bagi perdebatan.

“Sejarah milik pemenang,” kata Winston Churchill. Tapi ia lupa menambahkan: sejarah juga milik penulis, milik pembaca, milik korban yang sempat bicara, dan milik mereka yang diam-diam menghafal kesedihan.

Ketika negara menentukan interpretasinya sendiri atas sejarah, maka ia sedang berkata: inilah kebenaran, dan yang lain adalah kesalahan. Di situ sejarah menjadi perintah, bukan percakapan.

Kita menyaksikan itu hari ini. Ketika orang-orang bicara tentang tragedi 1965, mereka tak bicara tentang penderitaan, melainkan tentang keberpihakan. Bila Anda menyebut korban yang disiksa, Anda akan dianggap pro-komunis. Bila Anda menyebut tentara sebagai penyelamat, Anda dianggap nasionalis.

Kita kehilangan ruang abu-abu. Padahal sejarah adalah rentang yang lebih banyak abu-abunya daripada hitam-putihnya.

Tapi tidakkah negara memang memerlukan sejarah untuk menyatukan warganya? Bukankah bangsa tanpa narasi bersama akan mudah pecah?

Pertanyaan itu wajar. Tapi jawabannya tak harus mengarah pada monopoli makna.

Kita bisa memisahkan dua hal: narasi bersama dan kebenaran tunggal. Yang satu adalah fondasi kebangsaan, yang lain adalah jebakan kekuasaan. Negara boleh punya narasi—seperti seorang ayah yang menceritakan asal usul keluarganya pada anak-anaknya. Tapi narasi itu tidak boleh menutup kemungkinan bahwa cerita itu tak lengkap, bahkan mungkin keliru.

Negara yang dewasa adalah negara yang berani membuka catatan kelamnya. Jerman, misalnya, tidak menyembunyikan Holocaust. Ia mengajarkannya di sekolah, membangunnya di museum, dan mencatatnya dalam puisi. Argentina mengadili para jenderal yang membunuh atas nama negara. Afrika Selatan membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang membolehkan semua pihak bicara.

Karena mereka sadar: sejarah bukan hanya soal apa yang terjadi, tetapi tentang siapa yang didengarkan.

Saya teringat pada seorang ibu yang menangis di depan Gedung DPR, memegang foto anaknya yang hilang tahun 1998. Ia tidak menuntut kompensasi. Ia hanya ingin tahu di mana anaknya. Negara tidak memberi jawaban. Ia memberi pidato. Ia memberi alasan. Ia memberi waktu.

Tapi waktu tak pernah menjawab.

Negara yang memonopoli sejarah adalah negara yang takut pada masa lalunya. Ia takut kalau versi lain akan membuatnya kehilangan kendali. Maka ia memilih untuk diamkan luka, abaikan korban, dan rayakan kemenangan. Tapi luka yang didiamkan tak pernah sembuh. Ia hanya pindah tempat: dari tubuh ke jiwa, dari ingatan ke generasi.

Kita menyaksikan itu dalam sunyi yang diwariskan. Anak-anak muda yang tidak tahu siapa Munir, siapa Widji Thukul, siapa Soeharto yang sebenarnya. Sejarah jadi seperti museum yang terkunci: bersih, rapih, tapi tak bisa dimasuki.

Dan akhirnya, sejarah kehilangan fungsinya. Ia tidak lagi menjadi cermin, tapi tembok.

Sejarah yang sehat bukan sejarah yang selesai, melainkan sejarah yang terbuka.

Dalam negara yang bebas, sejarah adalah ruang berdebat. Bukan hanya akademisi, tapi juga seniman, wartawan, penyintas, dan rakyat biasa punya hak untuk menyumbang makna. Di situlah kita menemukan apa yang disebut Hannah Arendt sebagai “pluralitas manusia”—bahwa tak ada satu pun kebenaran tunggal yang cukup untuk menjelaskan dunia yang kompleks.

Negara tidak perlu menafsirkan sejarah sendirian. Ia hanya perlu membuka ruang agar sejarah bisa ditafsirkan bersama. Bila negara terus menjadi satu-satunya narator, maka yang terjadi bukan sejarah, melainkan propaganda.

Seorang guru pernah berkata, “Jangan ajarkan murid untuk percaya pada sejarah. Ajarkan mereka untuk mempertanyakan sejarah.” Kalimat itu terdengar aneh di negeri yang mencintai kepatuhan lebih daripada pertanyaan.

Tapi barangkali, justru di sanalah tugas sejarah: bukan membuat kita patuh, melainkan membuat kita ingat. Bahwa di balik setiap kemenangan, ada korban. Di balik setiap pidato, ada suara yang tak terdengar. Dan di balik setiap narasi negara, ada cerita kecil yang ditulis dengan air mata.

Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya masa lalu, tapi juga masa depan.

Bangsa yang tidak menyelesaikan masa lalunya akan tersandung di masa depannya. Ia akan terus mencari kambing hitam, terus menyalahkan pihak lain, terus membungkam kritik. Ia akan melihat sejarah sebagai bahaya, bukan sebagai pelajaran.

Negara boleh punya versinya sendiri, tapi ia harus menerima bahwa itu hanya salah satu versi. Negara harus belajar mendengar. Karena negara yang besar bukan negara yang kuat, tapi negara yang berani mengakui bahwa ia pun pernah salah.

Seperti manusia.

“Kita bukan apa yang kita katakan. Kita adalah apa yang kita diamkan.”

Barangkali sejarah bukan tentang siapa yang benar. Tapi siapa yang akhirnya didengar. Dan siapa yang tetap bicara, bahkan ketika semua orang menyuruhnya diam.===

Meikarta, 19 Juni 2025

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Update Perang Israeil~Iran: “Rudal di Atas Langit Timur Tengah”

Next Post

Bulog di Persimpangan: Pembela Petani atau Alat Negara?

Radhar Tribaskoro

Radhar Tribaskoro

Related Posts

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.
Feature

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif
Feature

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026
Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?
Feature

Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

April 15, 2026
Next Post
PETANI TANPA BULOG

Bulog di Persimpangan: Pembela Petani atau Alat Negara?

Jika Jokowi Jadi Ketum PSI, Relawan Pada Ngaciiir

Jika Jokowi Jadi Ketum PSI, Relawan Pada Ngaciiir

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”
Crime

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

by Karyudi Sutajah Putra
April 15, 2026
0

Jakarta--FusilatNews - Kasus kekerasan seksual yang terjadi di Universitas Indonesia (UI) serta ekspresi misoginis dan seksis yang mengarah pada normalisasi...

Read more
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Jawaban Nasdem Terkait Tudingan Uang Rp 30 M  Disita KPK, Akan Digunakan Untuk Keluarga Nyaleg

Tertipu, Ahmad Sahroni Berkasus dengan KPK?

April 11, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026
Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

April 16, 2026
Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

April 16, 2026
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026
Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

April 15, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026
Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

April 16, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...