Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)

Jakarta – Patut diduga terdapat keserupaan yang sama antara Sengkuni, Hasto Kristiyanto dan Jokowi.
Hasto Kristiyanto adalah Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan yang baru saja melakukan pertemuan dengan Felicia Tissue, pacar Kaesang Pangarep sebelum menikah dengan Erina Gudono.
Adapun Jokowi adalah Presiden ke-7 RI yang bernama panjang Joko Widodo, ayahanda dari Kaesang Pangarep. Lalu siapa Sengkuni?
Sengkuni atau Sangkuni atau Saubala adalah seorang tokoh antagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan paman para Korawa dari pihak ibu, Dewi Gandari yang merupakan istri dari Drestarasta, pangeran tertua dari dinasti Kuru, yang mempunyai 100 anak.
Sangkuni dengan perawakan tegap dan rambut sebahunya yang dikuncir ke belakang terkenal sebagai tokoh berkarakter licik yang selalu menghasut para Korawa agar memusuhi Pandawa.
Pandawa hanya terdiri dari lima orang yang merupakan saudara sekandung, yakni Yudhistira alias Puntadewa, Bima alias Werkudara, Arjuna alias Janaka, dan si kembar Nakula dan Sadewa.
Sangkuni berhasil merebut Kerajaan Indraprastha dari tangan para Pandawa melalui sebuah permainan dadu.
Menurut Mahabharata, dikutip dari Wikipedia, Jumat (5/12/2024), Sangkuni merupakan personifikasi dari Dwaparayuga, yaitu masa kekacauan di muka Bumi, pendahulu zaman kegelapan atau Kaliyuga.
Dalam pewayangan Jawa, Sangkuni sering dieja dengan nama Sengkuni. Ketika para Korawa berkuasa di Kerajaan Hastinapura, ia diangkat sebagai patih atau perdana menteri. Dalam pewayangan Sunda, ia dikenal dengan nama Sangkuning.
Lalu, apa korelasi Sengkuni, Hasto Kristiyanto dan Jokowi?
Disinyalir ketiganya memiliki karakter serupa meskipun tak sama persis. Hasto kini sedang mencari rahasia mematikan yang bisa digunakan sebagai senjata pamungkas untuk menyerang Jokowi, seperti Pandawa mencari rahasia mematikan untuk membunuh Sengkuni.
Berbagai cara sudah dilakukan Hasto untuk menyerang Jokowi, tapi sejauh ini tak mempan-mempan juga. Hasto berasal dari Yogyakarta, sedangkan Jokowi berasal dari Solo. Hal ini analog dengan perseteruan antara Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat di masa lalu.
Seperti diketahui, sangat sulit bagi kubu Pandawa untuk membunuh Sengkuni di kubu Korawa yang sakti mandraguna dalam perang Bharatayuda. Hanya Semar yang mengetahui rahasia mematikan yang bisa meruntuhkan kesaktian Sengkuni.
Dikutip dari sebuah sumber, Semar akhirnya membuka rahasia kematian Sengkuni kepada Bima, salah satu tokoh Pandawa.
Kata Semar, Sengkuni menjadi kebal terhadap semua senjata sakti karena pernah dimandikan sekujur tubuhnya dengan minyak Tala yang telah diberi mantra oleh Panembahan Wiyasa. Kelemahan Sengkuni ada pada lubang dubur dan lubang mulutnya yang tak tersiram minyak Tala, sehingga Bima bisa menusukkan kuku Pancanaka-nya tepat di dubur atau lubang mulutnya itu.
Bima kemudian dapat membunuh Sengkuni. Disobeklah lubang dubur dan mulutnya, dan akhirnya tewaslah Sengkuni.
Hasto pun disinyalir sedang mencari rahasia mematikan yang bisa digunakan sebagai senjata pamungkas untuk menyerang Jokowi dan keluarganya. Salah satunya dengan bertemu Felicia Tissue, yang disebut Puan Maharani, Ketua DPP PDIP/Ketua DPR RI sebagai pertemuan antar-pribadi, tidak mewakili partai.
Usai pertemuan, Hasto mengaku mendapat informasi berharga dari Felicia. Ada yang menyebut informasi berharga itu soal gratifikasi.
Diyakini, informasi berharga itu akan dikapitalisasi Hasto menjadi senjata untuk menyerang Jokowi melalui Kaesang.
Desakan Mundur
Akankah serangan pamungkas Hasto, jika nanti benar dilakukan, akan bisa melumpuhkan Jokowi dan keluarganya?
Sebagian orang menyebut Jokowi cerdik dalam berpolitik. Sebagian lagi menyebut licik, seperti Sengkuni. Apalagi selain kepala negara, Jokowi saat itu juga menjabat kepala pemerintahan seperti Sengkuni menjabat patih.
Langkah licik itu antara lain dilakukan Jokowi dengan mengkhianati PDIP menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 dengan tidak mendukung calon presiden-wakil presiden yang diusung PDIP, yakni Ganjar Pranowo-Mahfud Md.
Sebelumnya, Jokowi juga disinyalir mengintervensi Mahkamah Konstitusi (MK) sehingga lembaga yudikatif yang diketuai Anwar Usman, adik iparnya itu, menerbitkan Putusan No 90 Tahun 2023 yang meloloskan Gibran Rakabuning Raka, anak sulung Jokowi sebagai cawapres meskipun belum berumur 40 tahun.
Gibran pun menjadi cawapresnya Prabowo Subianto di Pilpres 2024. Sejak itu, Jokowi dan PDIP serta ketua umumnya Megawati Soekarnoputri pecah kongsi.
Sejak itu, Hasto rajin melancarkan serangan-serangan politik kepada Jokowi. Apalagi setelah Hasto merasa dikriminalisasi melalui pemeriksaan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus kaburnya tersangka Harun Masiku, mantan calon anggota DPR dari PDIP dalam kasus suap kepada Wahyu Setiawan, Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) saat itu. Makin semangatlah Hasto menyerang Jokowi.
Jokowi pun didesak mundur. Publik pun ikut-ikutan mendesak Jokowi mundur. Namun bekas Walikota Surakarta itu bergeming. Sampai akhirnya ia lengser dengan sendirinya pada 20 Oktober 2024.
Di pihak lain, Hasto pun oleh sebagian kalangan internal PDIP disinyalir punya karakter seperti Sengkuni yang suka mengadu domba dan menjegal karier politik kader lainnya.
Bahkan di internal PDIP Hasto disinyalir membentuk geng tersendiri. Benarkah? Hasto-lah yang lebih tahu.
Yang jelas, banyak desakan agar Hasto mundur dari jabatan Sekjen PDIP. Apalagi ibarat “chief of chef” atau koki kepala, ia telah gagal dalam mengolah dan meramu menu masakan, sehingga PDIP kalah beruntun di Pilpres 2024 pada 14 Februari lalu, dan Pilkada Serentak 2024 pada 27 November lalu.
Alhasil, akankah informasi berharga yang diklaim Hasto Kristiyanto didapatkan dari Felicia Tissue benar-benar dikapitalisasi bekas anggota DPR RI itu menjadi senjata pamungkas untuk menyerang Jokowi lewat Kaesang? Kita tunggu saja tanggal mainnya.























