Oleh – Team Fusilatnews
Skema Lengkap dari Perekrutan, Penipuan, hingga Eksploitasi
Modus ini dimulai dari satu pola sederhana: rekrut teman lewat teman. Mereka tak henti-henti mencari “marketing” baru melalui iklan di media sosial, grup-grup gratisan seperti Facebook, TikTok, IG, dan platform apa pun yang bisa dijangkau. Para rekrut yang ditargetkan adalah marketing sukarela—orang-orang yang tidak digaji tetapi dicuci otaknya dengan doktrin klasik:
“Kerja jangan mikirin gaji dulu, anggap saja bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian. Kaya itu soal kerja keras.”
Dengan iming-iming menjadi “pebisnis sukses”, para pemula yang masih hijau pun terbujuk untuk berjuang mati-matian mencari prospek. Mereka menyisir dunia maya, mengirim permintaan pertemanan kepada akun-akun yang foto profilnya terlihat “berduit”—langsung di-add tanpa pikir panjang.
1. Fase Pendekatan: SKSD dan Profiling Korban
Setelah permintaan pertemanan diterima, jurus maut pun dimulai.
SKSD Palapa—Sok Kenal Sok Dekat, padahal Nga Tau Apa-apa—langsung dimainkan.
Variasinya macam-macam:
- Ada yang pura-pura manis dan perhatian.
- Ada yang sok akrab.
- Ada yang langsung menembak minta bertemu.
- Ada yang muter-muter tanpa arah.
Setelah korban mulai merespons, masuklah ke sesi profiling. Pertanyaan-pertanyaan sensitif dilontarkan: alamat rumah, pekerjaan, kantor, usia, naik apa ke kantor, nyetir sendiri atau pakai sopir, dan seterusnya.
Setelah dirasa cukup, mereka meminta nomor WhatsApp—alasan klasik: “Jarang buka Facebook,” padahal tiap hari berjam-jam on untuk mencari korban.
Ada yang lebih ekstrem: mengaku “cinta pada pandangan pertama” sambil mengirim foto-foto vulgar, lalu menuntut waktu untuk bertemu. Ajak makan siang, coffee break, atau makan malam—tapi jangan harap mereka yang bayar. Korbanlah yang akhirnya mentraktir.
2. Fase Penjebakan: Deposit Rp100 Juta
Awalnya hanya disebut “silahturahmi sambil sosialisasi bisnis”. Namun pada akhirnya korban dipaksa deposit minimal Rp100 juta untuk transaksi derivatives: gold, crypto, forex, index, dan sebagainya.
Janji keuntungan instan dilontarkan terus-menerus.
Metode trading mereka disebut “pasti untung”—padahal semua omong kosong.
Jika korban percaya dan melakukan deposit, jebakan pun menutup sempurna.
3. Fase Pemerasan: Call Margin, Top Up Tanpa Henti
Begitu posisi trading korban floating loss, mereka datang lagi, menuntut top up. Alasannya:
- “Agar posisi tidak cut loss.”
- “Untuk memperbesar peluang profit.”
- “Untuk mengamankan modal.”
Padahal semua posisi memang dipasang berlawanan arah dengan harga pasar agar korban rugi.
Korban yang terus mengikuti saran dan menambah modal dijamin akan habis-habisan—jatuh miskin.
Biasanya korban baru sadar setelah menambah modal dalam jumlah besar. Ketika komplain dan mengancam melapor ke polisi, para atasan—termasuk Wakil Pialang Berjangka—langsung cuci tangan.
Mereka sembunyi di balik alasan:
“Marketing yang salah.
Trading-nya ngawur.
Kami hanya ikut prosedur.”
Padahal mereka sendirilah yang menyuruh menekan korban.
Para “marketing lugu” menjadi kambing hitam dan justru dijadikan tersangka.
4. Fase Eksploitasi Lanjutan: Dijual ke Sindikat Kamboja/Myanmar
Saat status tersangka ditetapkan, ketakutan pun muncul. Di sini perusahaan berpura-pura tampil sebagai “penyelamat”. Mereka menawarkan bantuan:
“Tenang, kami akan bantu. Kami punya solusi.”
Nyatanya, inilah pintu menuju perdagangan orang.
Marketing yang terpojok akan dijual ke sindikat scammer, judi online, atau prostitusi di Kamboja/Myanmar. Semua biaya perjalanan ditanggung perusahaan—seolah-olah “menolong”.
Sesampainya di lokasi, kehidupan berubah menjadi neraka.
5. Fase Perbudakan: Love Scamming, Judi Online, dan Torture
Marketing dipaksa bekerja sebagai:
- Love scammer,
- Operator judi online, atau
- Pekerja penipuan lainnya.
Mereka dipaksa mencapai target tertentu. Jika gagal:
- Mereka disiksa.
- Gaji tidak diberikan.
- Ancaman dijual ke perusahaan lain menanti.
Di tempat baru, ada ritual lebih kejam:
tanda tangan surat “donor ginjal sukarela”.
Dokumen ini digunakan sindikat untuk lolos hukum bila korban mati atau kehilangan organ.
Jika menolak?
- Disiksa,
- Disuntik tidur,
- Ginjal diambil dua-duanya,
- Mayat dibakar atau diberikan ke buaya agar hilang tanpa jejak.
Mereka akan menjadi korban hilang selamanya, sama seperti banyak korban lain yang tak pernah ditemukan.



















