• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Crime

Serangan Air Keras terhadap Aktivis KontraS sebagai Bentuk Intimidasi Sistematis di Era Remiliterisasi

fusilat by fusilat
April 7, 2026
in Crime, Feature
0
Serangan Air Keras terhadap Aktivis KontraS sebagai Bentuk Intimidasi Sistematis di Era Remiliterisasi
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Malika Dwi Ana

Peristiwa penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), pada 12 Maret 2026 di Jakarta Pusat, bukan sekadar kasus kekerasan individu yang kebetulan. Serangan tersebut, yang dilakukan oleh empat anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI—terdiri dari Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW, dan Serda ES—mengandung dimensi politik yang mendalam, mencerminkan pola intimidasi terhadap suara kritis di tengah upaya remiliterisasi yang sedang berlangsung di Indonesia.

Andrie Yunus dikenal vokal mengkritik revisi Undang-Undang TNI dan perluasan peran militer dalam ranah sipil. Serangan terjadi hanya beberapa waktu setelah ia menghadiri diskusi publik bertema “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia”. Luka bakar hingga 24 persen di tubuhnya, termasuk kerusakan permanen pada mata kanan, bukan hanya kekerasan fisik, melainkan pesan simbolik yang jelas: kritik terhadap dominasi militer memiliki konsekuensi nyata.

Pola Pelaku: Bukan Oknum Bawahan, Melainkan Perwira Intelijen

Yang menarik dari kasus ini adalah profil pelaku. Bukan prajurit rendah yang sekadar menjalankan perintah rutin, melainkan personel dari Denma BAIS TNI—unit intelijen strategis yang beroperasi di tingkat paling sensitif. Kehadiran perwira menengah (kapten dan letnan satu) menunjukkan bahwa operasi ini melibatkan tingkat perencanaan yang terstruktur, bukan tindakan impulsif preman bayaran.

Dalam teori organisasi militer, prajurit bawahan cenderung patuh pada rantai komando vertikal (chain of command). Sementara perwira, terutama di institusi intelijen, memiliki otonomi lebih besar untuk merancang dan memerintahkan aksi. Fenomena “perwira pangkat macet” sering menjadi variabel menarik dalam analisis konspirasi internal: mereka bisa berfungsi sebagai pelaksana sekaligus bumper atau tameng ketika kasus terungkap. Jika terbukti ada perintah dari atas, mereka bisa mengklaim “hanya menjalankan tugas”. Jika tidak, mereka bisa dijadikan kambing hitam dengan narasi “inisiatif pribadi yang kebablasan”.

Kasus ini mengingatkan pada pola historis di mana kekerasan terhadap aktivis HAM sering kali melibatkan aktor negara yang kemudian diisolasi sebagai “oknum” untuk melindungi integritas institusi secara keseluruhan.

Respons Institusi: Damage Control yang Cepat dan Elegan

Respons TNI patut dicermati dari perspektif strategi institusional. Hanya dalam waktu singkat, Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI menahan keempat tersangka. Selanjutnya, pada 25 Maret 2026, Kepala BAIS TNI Letjen Yudi Abrimantyo menyerahkan jabatannya sebagai “bentuk pertanggungjawaban moral”. Langkah ini mendapat arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto yang memerintahkan penyelesaian kasus secara tuntas.

Secara permukaan, respons tersebut tampak tegas dan bertanggung jawab—sebuah citra yang kontras dengan kasus-kasus kekerasan serupa di masa lalu yang sering berlarut-larut atau mandek di pengadilan militer. Namun, dari sudut pandang kritis, pengunduran diri seorang jenderal tinggi bisa dibaca sebagai pengorbanan simbolis (scapegoating) tingkat tinggi. Dengan mengorbankan satu kepala, institusi berusaha memutus rantai tuduhan lebih jauh ke level komando yang lebih strategis, sekaligus menunjukkan bahwa “reformasi internal” sedang berjalan.

Pertanyaan mendasar yang belum terjawab: Apakah serangan ini murni inisiatif otonom pelaku, atau bagian dari strategi yang lebih luas untuk membungkam oposisi terhadap agenda remiliterisasi? Pemilihan target yang “pas-pasan”—aktivis yang cukup vokal tapi belum mencapai status ikon nasional—menunjukkan kalkulasi teror yang terukur. Efek jera tercapai tanpa memicu gejolak publik yang tak terkendali, berbeda dengan kasus Novel Baswedan yang dampak politiknya jauh lebih masif.

Implikasi Lebih Luas terhadap Demokrasi dan Supremasi Sipil

Kasus ini menggarisbawahi ketegangan struktural antara keinginan militer untuk kembali ke panggung politik-sipil dan prinsip supremasi sipil yang menjadi fondasi reformasi 1998. Ketika aktivis yang mengkritik perluasan peran TNI justru menjadi korban kekerasan oleh elemen intelijen militer, muncul pertanyaan: sejauh mana ruang sipil masih aman bagi kritik konstitusional?

Dari perspektif teori keamanan nasional, intimidasi semacam ini bisa dilihat sebagai bentuk low-intensity coercion—bukan teror massal, melainkan represi selektif yang cukup untuk menciptakan efek chilling pada masyarakat sipil. Tujuannya bukan menghilangkan kritik sepenuhnya, melainkan membatasi batasannya agar tidak mengganggu agenda politik penguasa.

Meski demikian, respons cepat Prabowo dan TNI juga bisa diinterpretasikan sebagai upaya cerdas menjaga legitimasi di awal pemerintahan. Dengan menunjukkan “ketegasan”, pemerintah berusaha mencegah narasi bahwa militer kembali menjadi kekuatan di atas hukum. Namun, transparansi penuh—termasuk penyelidikan terhadap kemungkinan aktor intelektual di balik serangan—tetap menjadi ujian krusial. Jika kasus berhenti di level pelaku lapangan dan pengunduran satu jenderal, maka ini hanyalah episode baru dari pola lama: pengorbanan simbolis demi kelangsungan kekuasaan.

Pada akhirnya, kasus Andrie Yunus mengingatkan kita bahwa demokrasi tidak hanya diukur dari pemilu yang rutin, melainkan dari kemampuan negara melindungi suara kritis tanpa harus menggunakan cairan korosif sebagai argumen. Tanpa penegakan hukum yang imparsial dan independen dari pengaruh institusi, ancaman serupa akan terus mengintai siapa pun yang berani mempertanyakan batas peran militer dalam kehidupan sipil.

Malika Dwi Ana

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Penegakan Hukum Tindak Pidana di Negeri Ini: “Milik Tuan Polisi”?

Next Post

Machiavelli dalam Cermin Indonesia 2026: Rubah dan Singa di Istana Merdeka

fusilat

fusilat

Related Posts

Dunia di Ujung Tombak Nuklir: Siapa Memulai, Semua Binasa
Crime

Dunia di Ujung Tombak Nuklir: Siapa Memulai, Semua Binasa

April 15, 2026
Economy

Bisnis Hulu Citronella Oil, Margin Tergantung Variabel Volatilitas Harga Pasar dan Kualitas Produk

April 14, 2026
Feature

Cinta Dunia dan Dampaknya ​(Manajemen Risiko Akhirat)

April 14, 2026
Next Post
Machiavelli dalam Cermin Indonesia 2026: Rubah dan Singa di Istana Merdeka

Machiavelli dalam Cermin Indonesia 2026: Rubah dan Singa di Istana Merdeka

No Kings” Meledak di Amerika: Rakyat AS Tolak Perang Iran

No Kings" Meledak di Amerika: Rakyat AS Tolak Perang Iran

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!
Law

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

by Karyudi Sutajah Putra
April 13, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Pemberitaan sejumlah media beberapa waktu lalu ihwal pembongkaran rumah tua di kawasan cagar budaya, tepatnya di Jalan Teuku...

Read more
Jawaban Nasdem Terkait Tudingan Uang Rp 30 M  Disita KPK, Akan Digunakan Untuk Keluarga Nyaleg

Tertipu, Ahmad Sahroni Berkasus dengan KPK?

April 11, 2026
Antara Retorika dan Realita: Bisakah Prabowo Tumbangkan Outsourcing?

Padamnya Api Demokrasi di Tangan Prabowo

April 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Langit Kedaulatan Dipertaruhkan: Jet Tempur AS Mengintip Udara Indonesia

Langit Kedaulatan Dipertaruhkan: Jet Tempur AS Mengintip Udara Indonesia

April 15, 2026
Dunia di Ujung Tombak Nuklir: Siapa Memulai, Semua Binasa

Dunia di Ujung Tombak Nuklir: Siapa Memulai, Semua Binasa

April 15, 2026
Hari Buruh 1 Mei: Massa KSPI Jabar Gelar Demo di Jakarta Besok

May Day Disuruh Tertib, Tapi Nasib Buruh Masih di Ujung Ketidakpastian

April 15, 2026
Menteri atau Mandataris? Menguji Logika Bahlil di Balik Dalih “Menjalankan Visi Presiden”

Menteri atau Mandataris? Menguji Logika Bahlil di Balik Dalih “Menjalankan Visi Presiden”

April 15, 2026
Rabat Jadi Ibu Kota Buku Dunia UNESCO 2026, Wilson Lalengke Ucapkan Selamat!

Rabat Jadi Ibu Kota Buku Dunia UNESCO 2026, Wilson Lalengke Ucapkan Selamat!

April 15, 2026

Bisnis Hulu Citronella Oil, Margin Tergantung Variabel Volatilitas Harga Pasar dan Kualitas Produk

April 14, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Langit Kedaulatan Dipertaruhkan: Jet Tempur AS Mengintip Udara Indonesia

Langit Kedaulatan Dipertaruhkan: Jet Tempur AS Mengintip Udara Indonesia

April 15, 2026
Dunia di Ujung Tombak Nuklir: Siapa Memulai, Semua Binasa

Dunia di Ujung Tombak Nuklir: Siapa Memulai, Semua Binasa

April 15, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...